ass wr wb
untuk semua pengunjung blog "ibu-ibu" yang saya buat ini, saya mohon maaf tak bisa menjawab semua pertanyaan yang bukan bidang keahlian saya. saya hanya berusaha menampilkan sebanyak, sebagus, dan seberkualitas mungkin dari semua tulisan yang tersebar di situs-situs yang khusus menangani bidang kajian tersebut.terima kasih atas kunjungan dan ikut meramaikan blog "ibu-ibu" ini. :-)
bibilung
Jangan anggap remeh gangguan ini. Lebih dari 60% ibu hamil di Indonesia ternyata mengalami anemia.
Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah sangat kurang. Normalnya, kadar hemoglobin dalam darah seseorang sekitar 12 g/100 ml. Bila kadar hemoglobin dalam darah berkisar 9-11 g/100 ml, penderita digolongkan anemia ringan. Sedangkan bila kadar hemoglobin 6-8 g/100 ml, berarti menderita anemia sedang. Kita bisa dimasukkan kelompok anemia berat bila kadar hemoglobin kurang dari 6 g/100 ml. Baca entri selengkapnya »
Ingin menjalani kehamilan dengan sehat, tenang dan bahagia? Yoga bisa memberikannya, lho. Tentu saja, ada aturan mainnya.
Ibu hamil memang “sarat” keluhan. Bisa jadi, fisik Anda yang “terganggu”, sehingga cepat capek, lesu, pegal-pegal, dan sesak napas. Atau, tiba-tiba saja Anda “jadi” si pencemas, sering murung, dan sedih tanpa sebab yang jelas. Tahukah Anda, semua ini sebenarnya terjadi akibat aktifnya hormon kehamilan? Meski tubuh mendadak jadi “gonjang-ganjing”, hormon kehamilan memang harus aktif untuk berlangsungnya kehamilan dan pertumbuhan janin Anda. Baca entri selengkapnya »
Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan juga memicu produksi ASI. Jadi, tunggu apa lagi?
Keterlibatan Anda, para pria, sejak awal masa kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya sesosok “manusia mungil” di dalam perutnya.
Bahkan, keikutsertaan pria secara aktif dalam masa kehamilan, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel berjudul “What Your Partner Might Need From You During Pregnancy” terbitan Allina Hospitals & Clinics (tahun 2001), Amerika Serikat, keberhasilan istri Anda dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk si bayi kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar peran dan keterlibatan Anda dalam masa-masa kehamilannya. Baca entri selengkapnya »
Kehamilan tidak melulu ditandai oleh terlambatnya haid atau makin “gendutnya” perut. Masih ada tanda-tanda lainnya, lho .
Memang tidak mudah mengetahui apakah Anda benar-benar hamil atau tidak. Selain dengan berbagai tes kehamilan, bisa dilengkapi kepastiannya dengan berbagai perubahan fisik berikut.
Bercak merah jambu
- Umumnya terjadi sekitar 8-10 hari setelah ovulasi (keluarnya sel telur dari indung telur). Terjadi karena benih tertanam (implantasi) di lapisan uterus (rahim).
- Tidak seperti haid, bercak ini biasanya sedikit. Datangnya pun lebih awal ketimbang jadwal haid Anda. Baca entri selengkapnya »
“Ini kehamilan pertama saya dan mungkin juga yang terakhir. Saya sangat cemas dan khawatir akan keputusan saya untuk memiliki anak di usia saya yang mungkin dapat dikatakan di luar usia aman bagi seorang ibu untuk hamil dan melahirkan. Saya sangat berharap agar saya dapat melahirkan anak yang sehat, tetapi saya juga sudah mendengar dan membaca tentang risiko kehamilan di atas usia 35 tahun dan hal itu membuat saya merasa gelisah. Apa yang sebaiknya saya lakukan?” Baca entri selengkapnya »
Masalah :SAYA ibu empat anak berusia 53 tahun. Sudah setahun ini saya berhenti haid (menopause) total. Sedangkan setahun sebelumnya kadang-kadang haid itu datang (tidak menentu).
Kegiatan seksual saya normal-normal saja, bahkan mungkin termasuk rajin. Karena itu, saya takut dibuka alat KB, takut hamil lagi walaupun secara medis tidak mungkin karena sudah berhenti haid. Ketakutan saya itu karena ada teman saya yang sudah setahun berhenti haid dan dibuka alat KB-nya ternyata hamil lagi.
Menurut Dokter, apakah saya harus membuka IUD atau diteruskan, sampai usia berapa tahun?
Ingin punya anak adalah hak setiap orang, namun perlu dipikirkan risikonya jika menjalani kehamilan pertama di usia “lanjut”.
Wanita masa kini merdeka memilih jalan hidup dan kehidupannya. Apa yang jadi prioritas hidupnya, itulah yang diutamakan. Tentu saja situasi ini berpengaruh pada rencana kehidupan berumah tangga serta keputusan menjalani kehamilan dan punya anak.
Berbagai alasan melatarbelakangi keputusan menjalani kehamilan dan punya anak. Yang pasti, saat ini tidak sedikit wanita meyakini, bahwa menjalani kehamilan dan punya anak harus siap fisik dan mental. Masalahnya, tak jarang wanita malah seperti keterusan menunda kehamilannya dan, tak terasa, usia terus bertambah. Baca entri selengkapnya »
MENUNGGU hari persalinan bisa menjadi pengalaman yang menegangkan sekaligus melelahkan. Dengan usia kandungan yang semakin tua, apa pun bisa terjadi pada ibu hamil. Cemas, gelish, takut, stres, marah-marah, mulas, keluhan sakit perut, sampai kontraksi yang frekuensinya makin sering, jamak dialami oleh ibu menjelang persalinannya. Nah, suami bisa berperan untuk meringankan beban istrinya.
“Yang terpenting, keberadaan suami di sisi istri yang tengah berjuang hendak melahirkan si buah hati ke dunia sangatlah penting dalam menciptakan rasa aman dan nyaman. Selalu ada setiap kali istri membutuhkan!” tegas Anna Surti Ariani Psi dari Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan, Jakarta. Baca entri selengkapnya »
<!––><!––> PULUHAN tahun lalu, wanita berusia seperempat abad yang belum menikah dianggap sebagai “perawan tua”. Kini yang sudah menikah pun banyak yang tak ingin segera punya anak demi karir. Bahkan sampai umur kepala tiga. Padahal kehamilan di atas usia 35 tahun tergolong berisiko.
Penelitian U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2006 silam menyatakan adanya kenaikan risiko kematian saat persalinan, hampir tiga kali lipat pada wanita berusia lebih dari 35 tahun. Penyebab utama kematian ibu saat melahirkan di antaranya perdarahan, emboli darah (sumbatan yang berasal dari pecahan trombus atau bekuan darah dalam sistem pembuluh darah jantung) serta kelainan tekanan darah. Baca entri selengkapnya »
<!––><!––>Corbis Adanya perubahan kondisi kehamilan di trimester tiga, seperti kaki bengkak, pinggang pegal, menurut dr Dwirani Amelia SpOG, sebenarnya bergantung pada kondisi ibu saat mau hamil.
Artinya, wanita hamil tersebut haruslah dalam kondisi bugar. Bugar di sini adalah orang yang terbiasa olahraga, atau orang yang makanannya seimbang. Kalau ibu tersebut dari awalnya bugar, biasanya kehamilannya itu tidak membawa keluhan.
“Tapi kalau dia nggak bugar, makannya sembarangan, nggak pernah bergerak, di kantor cuma duduk, malah akan menimbulkan keluhan. Karena hamil itu menuntut tubuh kita untuk adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi itu,” beber dr Lilik, begitu ia biasa disapa oleh para pasiennya.