9 RAMBU Bagi yang BERTUBUH SUBUR


Tak perlu kelewat khawatir meski kegemukan semasa kehamilan dan persalinan perlu mendapat perhatian khusus.

Kegemukan tak mesti menjadi momok yang menakutkan bagi kehamilan dan persalinan. Kendati memang ada dampak negatif bagi ibu hamil dan janinnya, baik semasa kehamilan, persalinan maupun usai persalinan. Namun tak perlu kelewat khawatir asalkan ibu mampu menjalani pola hidup sehat disamping melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur. Berikut rambu-rambu yang wajib diperhatikan.

1.Jangan Berdiet

Demi menghambat kenaikan BB (berat badan) yang berlebihan, membatasi jumlah karbohidrat yang dikonsumsi masih diizinkan. Namun tetap upayakan memenuhi pedoman gizi seimbang. Jangan membatasi jumlah protein karena protein penting bagi pertumbuhan janin dalam kandungan. Dibanding semasa tak hamil, jumlah kebutuhan protein semasa kehamilan meningkat sebanyak 17 g/hari. Kebutuhan ini akan tercukupi dengan mengonsumsi 100 gram daging sapi (2 potong ukuran sedang) dan 100 gram ayam (2 potong ukuran sedang) atau 150 gram tempe (4 potong ukuran sedang).

2. Hindari Makanan Tertentu

Wanita gemuk cenderung menderita diabetes. Jadi, hindari makanan pemicu gula darah tinggi seperti makanan yang manis-manis, berlemak, goreng-gorengan, dan makanan tinggi kolesterol. Sebaliknya, amat dianjurkan mengonsumsi makanan berserat dan buah-buahan segar. Pertimbangannya, makanan berserat bisa mempertahankan rasa kenyang lebih lama, disamping menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Sedangkan penderita darah tinggi dianjurkan membatasi makanan yang mengandung garam. Pembatasan ini mampu mengurangi kemungkinan meningginya tekanan darah yang bisa berujung menjadi preeklampsia. Namun harus dibarengi dengan upaya memenuhi kebutuhan protein, kalsium dan magnesium selama hamil. Seberapa besar kebutuhan masing-masing, jangan lupa mengonsultasikannya dengan dokter Anda.

3. Jaga Berat Badan

Kegemukan dibedakan menjadi overweight (OW) dan obesitas. OW atau berat badan berlebih merupakan kondisi BB mencapai kisaran angka 10­20% dari berat badan ideal (BBI). Sedangkan seseorang dikatakan mengalami obesitas jika berat badannya melebihi 20% BBI.

Khusus untuk yang berusia kurang atau sama dengan 30 tahun, BBI adalah tinggi badan­100­10% dari tinggi badan-100. Sedangkan untuk yang berusia di atas 30 tahun, BBI dihitung dari tinggi badan-100. Contohnya, untuk wanita usia 25 tahun dengan tinggi 160 cm, BBI-nya adalah 160-100-10% dari 160-100, yakni 60-6= 54 kg. Sedangkan BBI untuk wanita usia 35 tahun dengan tingginya sama 160 cm adalah 160-100= 60kg. Untuk mereka yang sebelum hamil memiliki BB berlebih dianjurkan kenaikan BB selama kehamilan berkisar di angka 6,75 sampai 11,25 kg. Sedangkan mereka yang obesitas cukup 6,75 kg saja.

4. Lakukan Pemeriksaan Rutin

Pemeriksaan rutin semasa kehamilan atau antenatal care (ANC) bagi yang bertubuh subur pada dasarnya tidak berbeda dengan wanita dengan BB normal. Lakukan ANC secara teratur guna meminimalkan risiko bayi besar akibat diabetes. Ataupun bayi dengan berat lahir rendah lantaran tidak mendapat asupan makanan yang maksimal.

Itulah mengapa di trimester pertama dan ketiga, dokter akan meminta ibu hamil menjalani pemeriksakan gula darah. Melalui pemeriksaan ini dapat diketahui apakah si ibu hamil berisiko terkena diabetes atau tidak. Selain tentu saja dengan tetap memperhatikan riwayat keluarga. Bila hasil pemeriksaan glukosa toleransi tes (GTT) di atas 140 mg/dl, maka yang bersangkutan bisa dinyatakan positif menderita diabetes. Pemeriksaan rutin lainnya adalah pemeriksaan tekanan darah untuk mengetahui apakah ibu menderita hipertensi atau tidak.

5. Waspadai Dampak Negatif Kegemukan

Kegemukan semasa hamil berisiko menyebabkan hipertensi kronis. Kegemukan membuat beban jantung jadi terlalu berat sementara tekanan pada pembuluh darah meninggi akibat tebalnya tumpukan lemak. Satu-satunya jalan untuk mendeteksi kondisi ini ya melalui pemeriksaan tekanan darah.

Kegemukan pun membuat kemungkinan si ibu mengidap diabetes jadi tinggi. Penyebabnya, hormon kehamilan (Beta HCG/Human Chorion Gonadotrophine) akan mengubah sebagian besar lemak dalam tubuh menjadi glukosa. Tak hanya itu. Diabetes juga memperbesar kemungkinan ibu melahirkan bayi besar (makrosomi) dengan berat lahir melebihi 4.500 gram.

Namun bisa juga sebaliknya, berat bayi lahir rendah (BBLR), yakni kurang dari 2.000-2.500 gram. BBLR terjadi karena pembuluh darah menyempit akibat timbunan lemak hingga pasokan nutrisi ke janin berkurang dari semestinya hingga bayi tidak bisa berkembang optimal. Dampak yang lebih parah, bukan tidak mungkin janin meninggal dalam kandungan karena mengalami keracunan. Kemungkinan lain, paru-parunya mengalami gangguan berat akibat kadar gula ibu yang sangat tinggi.

6. Pantau BB Janin Secara Berkala

Lakukan pemantauan BB janin secara berkala bersamaan saat ANC. Meski frekuensinya bisa dikurangi bila tidak ada indikasi yang mengganggu. Demikian pula sebaliknya. Saat persalinan, dokter umumnya akan melakukan tindakan induksi di usia kehamilan 40 minggu. Induksi dengan obat-obatan yang dimasukkan ke vagina ini dilakukan agar bayi tidak berkembang lebih besar lagi hingga menjadi giant baby. Dokter juga akan memberikan insulin jika ibu positif terkena kencing manis. Lewat cara ini banyak ibu yang bisa melahirkan dengan normal.

7. Boleh Jalani Persalinan Normal

Siapa bilang wanita bertubuh subur tak boleh menjalani persalinan normal? Bila ukuran panggul memungkinkan, kemampuan kontraksinya baik, tak ada kelainan letak plasenta yang menghalangi jalan lahir, dan ukuran bayi normal, boleh-boleh saja kok yang bersangkutan melahirkan secara normal.

8. Wajib Sesar Bila….

Bila berat janin melebihi 4.500 gram bagi wanita normal sehat atau 4.000 gram bagi diabetesi, maka persalinan amat dianjurkan melalui bedah sesar. Jika tidak, dikhawatirkan bayi akan lahir dengan penyulit atau distosia yakni menyangkutnya bahu janin di jalan lahir. Faktor lain yang juga mesti mendapat perhatian serius adalah ukuran panggul ibu terlalu kecil, letak plasenta menghalangi jalan lahir dan kontraksi yang lemah.

9. Waspadai Dampak Negatif Pascapersalinan

Proses sesar ibu dengan OW maupun obesitas amat berpeluang meningkatkan risiko terjadinya perdarahan. Soalnya, proses pembekuan darah pada ibu hamil dengan BB berlebih tadi jadi kurang berfungsi optimal. Bekuan darah yang berguna untuk mengurangi bahkan meng-hentikan perdarahan terganggu akibat kondisi pembuluh darah yang tidak ideal, baik akibat penumpukan lemak maupun timbunan kolesterol.

Selain itu, ibu hamil dengan OW maupun obesitas juga kerap mengalami infeksi seusai bersalin. Bisa dimengerti mengingat banyaknya pembuluh darah si ibu yang tersumbat semasa hamil. Akibatnya, proses penyembuhan luka pun terganggu dan makan waktu lebih lama. Untuk mencegah infeksi, dokter akan memberikan obat-obatan antibiotika. Sementara transfusi darah dilakukan jika kadar Hb ibu relatif rendah atau terjadi perdarahan melebihi 500 ml.

Utami Sri Rahayu. Ilustrasi Pugoeh Dok. NAKITA

Narasumber:

dr. Erwinsyah H. Harahap, SpOG, M.Kes.,

Bagian Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta

(sumber dari sini)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s