Penting, Kecukupan Progesteron Selama Hamil


Gunanya untuk menghindari terjadinya keguguran di awal kehamilan.

Setelah cek darah, seorang ibu langsung mendatangi dokter kebidanan dan kandungannya. Dia ingin segera tahu hasil tes tersebut. Wajahnya terlihat bingung saat dokter mengatakan hormon progesteronnya rendah. “Apa maksudnya, Dok?” tanyanya segera. Menurut sang dokter, pada ibu yang sedang hamil muda, kadar hormon progesteron rendah akan membuatnya rentan keguguran. Dikatakan keguguran bila kehamilan tersebut berakhir sebelum mencapai usia 13 minggu. Salah satu tandanya, ibu hamil sering mengalami vlek.Ibu hamil muda harus memiliki kadar hormon progesteron serum di atas 18,9. Di trimester pertama, bila kadar progesteronnya di bawah angka tersebut, maka ibu hamil rentan mengalami keguguran. Di minggu-minggu pertama, hormon ini memang berperan besar untuk menguatkan hasil pembuahan menempel di dinding rahim agar tidak gugur. Berbeda di dua trimester berikutnya, fungsi hormon penguat kehamilan tersebut digantikan fungsi plasenta yang sudah terbentuk di trimester kedua.

Kendati demikian tidak berarti kehamilan di trimester kedua maupun ketiga bebas dari risiko lahir prematur. Risiko serupa tetap ada, tetapi yang disebabkan rendahnya hormon progesteron sangat jarang terjadi. Kalaupun ada, kejadian lahir prematur biasanya disebabkan hal lain, seperti ketuban pecah dan sebagainya. Itulah mengapa, ibu hamil tetap wajib menjaga kehamilannya dengan baik agar bisa selamat sampai lahir.

MENGAPA KADAR PROGESTERON KURANG?

Kadar progesteron berada di bawah normal, antara lain karena:

* Ibu tergolong overweight atau berat tubuhnya berlebihan.

* Sel telurnya tidak sempurna atau rusak. Kasus ini lazimnya dialami ibu hamil berusia melebihi 35 tahun. Mendekati usia 40, kualitas sel telur sudah jauh menurun. Nah, sel telur yang tidak lagi sempurna ini akan membuat pembuahan tidak berjalan mulus yang selanjutnya diperkirakan menekan pembentukan hormon progesteron.

* Berdasarkan sebuah penelitian di Jerman yang dilakukan Petra Arck dan kawan-kawan, ditemukan bahwa secara tidak langsung stres pun menekan produksi hormon progesteron.

Kesimpulan bahwa stres mungkin menjadi penyebab setidaknya didapat dari hasil penelitian terhadap tikus. Kalau pada tikus-tikus yang sedang hamil ini diberikan suara-suara keras atau pemicu stres dalam bentuk lain, maka tikus-tikus tadi akan mengalami ketidakstabilan hormon. Ketidakstabilan inilah yang dapat mengubah sistem kekebalan pada janin karena di saat stres, tubuh akan mengeluarkan hormon stres yang disebut kortisol. Nah, pening-katan kortisol dalam aliran darah akan menekan produksi progesteron.

Arck dan kawan-kawan telah memantau 864 wanita hamil. Ia mengambil sampel darah untuk melihat tingkat stres masing-masing wanita yang tengah berbadan dua itu. Hasilnya, 55 wanita hamil yang mengalami keguguran ternyata lebih sering mengalami stres dibanding ibu hamil lainnya yang tidak begitu banyak menghadapi stres. Namun, menurut kalangan medis, hal ini belum cukup membuktikan bahwa stres berpengaruh secara signifikan terhadap menurunnya produksi progesteron.

HARUS IKUT TERAPI

Agar kehamilan bisa dipertahankan, mau tidak mau ibu harus segera menjalani terapi/pengobatan. Kalau benar kadar progesteronnya rendah, biasanya akan diberi hormon HCG (human chorionic gonadotrophin) yang diyakini dapat meningkatkan peluang agar kehamilan bisa dipertahankan. Ada berbagai merek obat peningkat proges-teron yang bisa diberikan kepada ibu hamil. Penggunaannya tergantung pada pilihan dokter dengan mempertimbangkan kondisi ibu.

Yang pasti, ibu harus rutin menjalani terapi ini sampai kadar hormon progesteronnya dianggap cukup bagi kehamilannya. Terapi ini biasanya makan waktu 2 minggu, bahkan lebih. Kalau dalam tenggang waktu tersebut, kadar progesteronnya belum cukup, pengobatan dilanjutkan. Mungkin pengobatan lanjutan ini selain mengandalkan obat-obatan oral, juga memakai suntikan atau dimasukkan lewat vagina.

Tentu saja ibu tak perlu khawatir. Pemberian hormon progesteron ini sama sekali tidak mengganggu pertumbuhan janin seperti yang banyak dikhawatirkan, misalnya menimbulkan cacat/kelainan. Bila penggunaannya dilakukan secara tepat sesuai anjuran dokter, semuanya akan baik-baik saja. Apalagi selama ini belum pernah ditemukan kasus kelainan akibat penggunaan hormon.

Akan tetapi mengingat kekuatan janin untuk mempertahankan dirinya lemah, mau tidak mau ibu harus melakukan antisipasi lain. Mereka yang sering mengalami vlek atau perdarahan amat dianjurkan untuk mengurangi aktivitas. Yang utama adalah bedrest atau istirahat total sampai kehamilan diyakini berjalan aman. Jadi, jangan melakukan aktivitas yang terlalu berat. Kalaupun di rumah tidak ada pembantu, serahkan semua urusan domestik seperti mencuci piring, memasak, atau mencuci pakaian kepada suami. Langkah-langkah antisipatif tersebut diharapkan dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya keguguran di awal kehamilan ataupun lahir prematur.

WASPADAI PEMICU LAIN

Dari seluruh kehamilan, sekitar 15-20% ibu hamil berpeluang mengalami 1x keguguran. Sekitar 0,5-1% dari seluruh ibu hamil berpeluang mengalami kondisi serius, yakni keguguran berulang lebih dari 3x berturut-turut. Dalam simposium bertajuk “Masalah Kesehatan Reproduksi” beberapa waktu lalu, DR. dr. TZ Jacoeb SpOG, KFER menjelaskan keberlanjutan kehamilan dipengaruhi berbagai faktor, terutama pada masa perkembangan di triwulan pertama. Salah satunya memang rendahnya kadar progesteron. Berikut beberapa faktor lain yang juga berpengaruh sebagai pemicu keguguran:

* Terjadi abnormalitas hormonal, termasuk yang disebabkan oleh diabetes.

* Kelainan pada rahim, seperti adanya sekat pada rahim, miom atau polip.

* Infeksi pada rahim seperti bakterial vaginosis, klamidia, dan TORCH.

* Gangguan sistem imun antara lain ACA atau sindrom antifosfolipid dan Lupus eritematosus sistemik.

* Kelainan kromosom (masalah genetik).

* Penyebab lain seperti hamil di usia lanjut, keracunan, konsumsi kokain, nikotin (dari rokok dan asapnya) dan zat-zat berbahaya lainnya.

* Faktor yang tidak diketahui penyebabnya.

Dugaan terkini adalah gangguan faktor pembekuan darah. Trombofilia dianggap sebagai ancaman bila bekuannya sampai menghalangi aliran darah. Kelainan ini bisa karena turunan, obesitas, akibat pembedahan, kehamilan, kontrasepsi hormonal, sindrom antifosfolipid (ACA) atau imobilitas dalam waktu lama. Untuk mengatasinya tentu dibutuhkan pengobatan dan penanganan yang tepat. Itulah mengapa ibu hamil dan dokter terkait tak hanya memerhatikan kadar progesteron yang rendah, tapi juga mempertimbangkan pemicu keguguran lainnya. Semua ini bisa ditangkal dengan melakukan pemeriksaan darah dan USG secara berkala.

Irfan Hasuki. Ilustraror: Pugoeh

Konsultan ahli:

dr. Taufik Djamaan, Sp.OG.,

dari RS Bunda, Jakarta

7 thoughts on “Penting, Kecukupan Progesteron Selama Hamil

  1. bulan april 2011 saya menjalani operasi polip, maret 2012 menjalani kuretase karena janin tdk berkembg lagi ,flek pada usia janin 10ming. skr oktober 2012 saya hamil lg usia kandungan 5ming, yg mau saya tanyakan apakah aman kalau saya mengkonsumsi Duphastos , progesteron yg dimasukin ke vagina, folamil dan forbetes.? obt2 tersebut saya simpan dr kehamilan terakhr, alasan saya bertanya krn faktor tmpat tinggal sekarang tdk tersedia dokter specialis kandungan. dalam waktu 2ming ini bolehkah saya mengkonsumsi obt2n tersebut sambil nunggu untk pergi ke kota /spesialis? . pernikahan saya sudah 8 thn,ini sudah kmi nantikan

  2. info ini sangat membantu saya tentang penjelasan progesteron,karena saat ini saya sedang program hamil setelah mengalami keguguran pada bulan maret yg lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s