Hipertensi Pada Kehamilan


Oleh: dr. Samsuridjal Djauzi

Kasus:

“SAYA sudah mempunyai anak berumur tiga tahun. Pada waktu hamil tekanan darah saya diketahui naik. Saya memang mempunyai riwayat keluarga darah tinggi. Ayah saya seorang penderita darah tinggi. Namun, saya tak menyangka akan menderita darah tinggi sewaktu usia saya masih 27 tahun. Dalam pengamatan dokter kandungan meskipun tekanan darah saya meningkat, namun belum diperlukan obat penurun tekanan darah. Setiap kunjungan ke dokter, tekanan darah diukur pada waktu saya sedang duduk. Berbeda dengan cara biasa, yaitu berbaring.

Sejak dua tahun lalu tekanan darah saya menetap tinggi sehingga saya harus mengonsumsi obat penurun tekanan darah secara teratur sekali sehari. Saya juga harus menjaga berat badan dan menghindari konsumsi garam berlebihan. Sejauh ini tekanan darah saya cukup terkendali dan saya tak mengalami gangguan dalam melaksanakan kegiatan hari-hari sebagai pegawai di sebuah perusahaan asuransi.

Suami saya seorang dosen di sebuah universitas swasta. Kami merencanakan mempunyai anak seorang lagi, kalau mungkin perempuan. Anak kami yang pertama laki-laki. Dokter kandungan saya mengatakan tak ada keberatan jika saya ingin punya anak lagi. Hanya saya harus mengendalikan tekanan darah dengan baik agar kehamilan saya berjalan aman.

Pertanyaan saya adalah mengenai pengaruh obat penurun tekanan darah pada janin. Apakah obat yang saya makan, yaitu atenolol, dapat saya teruskan. Selain risiko terhadap janin, apa saja pengaruh buruk hipertensi terhadap kehamilan? Terima kasih atas jawaban Dokter.”

(S di M)

Jawaban:

  • Saya merasa bergembira bahwa Anda menyiapkan diri secara baik sebelum hamil.

Ini penting karena kesehatan ibu sebelum hamil akan memengaruhi kehamilan. Misalnya, cukup banyak perempuan di Indonesia mengalami anemia (kurang darah), yang jika dia hamil, anemia tersebut akan memengaruhi janin dan risiko perdarahan sewaktu melahirkan. Karena itu, sebaiknya sebelum merencanakan kehamilan dilakukan pemeriksaan untuk meyakinkan yang bersangkutan dalam keadaan baik untuk hamil.

Selain anemia, yang perlu diperhatikan adalah hipertensi dan gula darah. Amat baik juga jika diperiksa penyakit yang berisiko menular pada bayi, misalnya, hepatitis B, penyakit menular seksual, serta HIV. Dengan upaya ini, diharapkan kehamilan akan berjalan aman.

Jika diketahui ada penyakit sebelum hamil, sudah tentu dokter akan mempertimbangkan apakah perempuan dapat hamil dengan aman. Jika penyakit tersebut berat atau sukar dikontrol, mungkin dokter akan menyarankan menunda kehamilan atau bahkan menyarankan agar tidak hamil, terutama jika perempuan tersebut sudah mempunyai anak.

Namun, kebiasaan di negeri kita pada umumnya kehamilan kurang direncanakan. Bahkan, cukup sering perempuan tidak menjalani pemeriksaan kehamilan sebelum melahirkan. Mereka datang ke layanan kesehatan ketika sudah saatnya melahirkan. Dengan demikian, petugas kesehatan kurang mempunyai kesempatan meningkatkan kesehatan ibu agar bayi dan ibu dalam keadaan baik. Padahal, pemeriksaan kehamilan secara berkala sebelum melahirkan amat penting. Paling sedikit pemeriksaan berkala ini perlu dilakukan empat kali.

Harus diakui bahwa selain pemahaman ibu hamil mengenai manfaat pemeriksaan berkala ini, hambatan lain dalam pelaksanaan pemeriksaan berkala ini adalah tidak adanya biaya dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau ibu hamil. Akibatnya, ibu hamil terpaksa menerima keadaan dan menghadapi risiko kehamilan tidak aman. Gerakan untuk menyelamatkan ibu hamil (safe motherhood) di negeri kita perlu kita dukung agar ibu dan anak dalam keadaan baik.

Kembali ke persoalan hipertensi pada kehamilan, memang benar kekerapan hipertensi pada ibu hamil cukup tinggi. Karena itu, setiap ibu hamil perlu dipantau tekanan darahnya. Dalam keadaan hamil memang pengukuran tekanan darah dalam keadaan duduk lebih menggambarkan tekanan darah yang sebenarnya dibandingkan dengan berbaring. Pada ibu hamil tekanan darah pada berbaring lebih rendah daripada duduk.

Mengenai obat yang ibu sedang gunakan sepengetahuan saya cukup aman untuk janin. Namun, sudah tentu dokter ibulah yang paling berwenang memilih obat terbaik untuk penurun tekanan darah ibu serta juga aman bagi janin.

Hipertensi yang tidak diobati pada kehamilan dapat mengganggu pertumbuhan janin dan pelepasan plasenta serta risiko keracunan kehamilan (pre-eklampsia). Pemilihan obat penurunan darah disesuaikan dengan kehamilan, begitu pula dengan sasaran tekanan darah yang akan dicapai. Anda nanti dapat menanyakan hal tersebut kepada dokter yang merawat Anda secara lebih terperinci karena dalam pemilihan obat penurun darah dipertimbangkan berbagai keadaan lain, seperti keadaan jantung, ginjal, dan sudah tentu pada kehamilan obat yang aman bagi kehamilan.

Dengan persiapan Anda yang baik untuk hamil, saya berharap Anda dapat memasuki masa hamil dan persalinan nanti dengan aman.* (KOMPAS)

Iklan

One thought on “Hipertensi Pada Kehamilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s