Ganti Mitos Kehamilan dengan Pikiran Positif


“AMIT-AMIT JABANG BAYI!” Ungkapan itu kerap diucapkan seorang ibu hamil sambil mengelus-elus perut buncitnya ketika melihat atau mendengar tentang perilaku yang tidak baik. Kata-kata itu bermakna harapan agar si jabang bayi kelak lahir dengan selamat, sehat, dan tidak seperti hal buruk yang baru saja didengar atau dilihatnya. Hal-hal negatif memang adakalanya secara langsung atau tidak berpengaruh pada proses kelahiran maupun diri si jabang bayi. Berbagai fakta yang sulit ditarik secara logika itu benar-benar terjadi. Karena itu, calon orangtua bayi disarankan tidak berbuat atau mengucapkan sesuatu yang buruk. Misalnya membunuh binatang baik secara sengaja maupun tidak, berpikir negatif tentang orang lain, dan sebagainya. Di samping itu, banyak pula mitos seputar kehamilan yang masih beredar dan dipercaya dapat berpengaruh terhadap janin. Saking percayanya pada mitos, orang seringkali malah dibuat cemas, hingga mengalami depresi.

Agar tidak termakan pikiran sendiri, sebaiknya kita tetap berpikiran positif terhadap berbagai hal yang selama ini telanjur dipersepsikan secara salah.

Perubahan bentuk tubuh sebagai bencana

Salah. Itu adalah proses alami. Karena itu, setiap ibu hamil akan mengalami perubahan bentuk tubuh. Memang sedikit membuat tak nyaman, tapi anggaplah sebagai perjuangan untuk mendapatkan hadiah amat berharga, seorang anak.

Perasaan cemas sebagai bukti tanggung jawab atas kelahiran anak

Salah. Kecemasan atau kekhawatiran melalui beragam pertanyaan seperti bagaimana saya dan si bayi nanti, justru akan menimbulkan tekanan batin atau depresi yang berefek negatif. Lebih baik berpikir positif dan selalu optimistis tanpa meninggalkan tanggung jawab untuk menjaga diri dan bayi yang dikandung.

Takut stres

Salah. Stres tidak seharusnya dihindari tapi dikurangi melalui proses penanaman nilai positif, seperti berjanji dan berusaha untuk yakin, “Saya adalah makhluk istimewa ciptaan Tuhan. Mulai sekarang dan seterusnya saya dan bayi saya akan tenang, sehat, dan lancar saat melahirkan.”

Takut keguguran atau bayi cacat

Salah. Ketakutan akan hal buruk seperti itu justru membatasi ruang gerak. Kalau Anda mendengar tentang keguguran yang dialami teman atau keluarga dekat, jangan membuat Anda terbebani. Jadikan itu pelajaran dan tetap yakin, “Saya bisa berubah.” Demikian juga dengan ketakutan tentang anak yang cacat atau memiliki kekurangan fisik. Tetaplah berpikir positif.

Melihat atau menemui hal yang tidak menyenangkan sebagai bencana

Salah. Sering kita menjumpai pengalaman atau cerita tentang suami yang secara tak sengaja membunuh tikus atau binatang lain, padahal sang istri sedang hamil. Karena terlalu percaya bahwa tindakan itu sangat buruk, membuat pikiran terlalu terbebani. Tak jarang hal itu berpengaruh pada kondisi jabang bayi saat lahir, seperti bibir sumbing atau mengalami kelainan fisik. Sebaiknya tetap berpikir positif bahwa kejadian itu sebagai ketidaksengajaan dan yang dibunuh bukanlah manusia. Kemudian menyadari bahwa apa pun alasannya, membunuh itu tidak baik. “Bukan sebuah bencana. Segala sesuatunya memang telah diatur Tuhan. Saya percaya bayi saya lahir selamat dan sehat.”

Melahirkan itu sakit dan melelahkan

Salah. Ukuran sakit memang relatif. Bayangkan tentang seorang ibu di pedalaman yang melahirkan anak tanpa bantuan dokter. Dia tetap selamat dan sehat. Memang sakit, tapi bila sejak awal kita percaya bahwa proses persalinan akan berjalan lancar, tetap tenang, dan memberikan rasa kedamaian pada sang bayi, Insya Allah semuanya akan berjalan lancar. Ketenangan akan merangsang produksi morfin atau hormon pregnanolone untuk melancarkan keluarnya janin. Sebaliknya, jika tegang, kontraksi justru akan kian terasa sakit. Jadi rasa sakit relatif tidak terasa jika tetap tenang dan berpikir positif.

Berubah Bentuk, Siapa Takut..!

Kehamilan merupakan peristiwa alami yang istimewa dalam kehidupan wanita. Namun, berbagai perubahan yang terjadi seiring kehamilan bisa menimbulkan kondisi yang sebaliknya.

Seorang wanita bisa saja menerima kehamilannya sebagai hal yang tidak menyenangkan, bahkan kemudian melakukan penolakan. Hal itu bisa tercetus dalam bentuk ketidakstabilan emosi secara berlebihan dan suasana hati menjadi sangat tidak menentu sepanjang kehamilan. Keadaan seperti ini bakal berakibat buruk bagi ibu dan juga janin dalam kandungannya. Karena itu, dibutuhkan berbagai bentuk kesiapan dalam menjalani kehamilan.

1. Siap menghadapi perubahan bentuk tubuh

Ibu hamil akan mengalami perubahan bentuk tubuh yang luar biasa. Payudara, pinggul, paha, dan perut akan membesar. Kaki bisa bengkak. Bisa muncul jerawat di wajah, bahkan mungkin di bagian tubuh yang lain. Pinggang yang ramping akan lenyap.

Perubahan ini biasanya mempengaruhi perubahan citra diri seseorang. Ia bisa menjadi sangat tidak percaya diri dan kritis terhadap penampilan barunya. Perasaan tidak berdaya ini dialami saat calon ibu mencoba memperbaiki penampilan. Akibatnya, perasaan tidak menarik terus menghantuinya, ditambah dengan rasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya yang baru. Kondisi ini tentu saja dapat mempengaruhi suasana hatinya. Untuk itu cobalah memahami bahwa setiap ibu hamil pasti mengalami perubahan. Yakinkan diri bahwa perubahan yang terjadi bersifat sementara.

2. Siap menghadapi perubahan peran

Wanita hamil cenderung senang berkhayal mengenai peran baru yang bakal disandangnya. Kesiapan untuk menyandang peran baru, yakni sebagai ibu, sangat penting. Jika tidak, calon ibu akan mengalami konflik atau depresi berkepanjangan. Ia ingin segera menimang bayi, tapi di sisi lain ada ketakutan besar terhadap peran yang masih awam bagi dirinya. Pada tahap tertentu, konflik ini normal dirasakan oleh calon ibu. Namun, jika perasaan ini terus dipelihara, dapat memperburuk suasana hati. Lebih jauh, bisa membuat calon ibu depresi.

3. Tinjau kembali motivasi untuk hamil

Myra Leifer, seorang peneliti yang juga menulis buku The Psychological Changes Accompanying Pregnancy and Motherhood mengungkapkan bahwa calon ibu yang bersikap paling positif terhadap kehamilannya adalah mereka yang memandang orangtua sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Para calon ibu ini menganggap bahwa dengan memiliki anak, mereka berkesempatan meningkatkan dan memperkaya hubungan suami-istri yang sebelumnya dianggap sudah baik.

Sebaliknya, wanita yang berpandangan negatif adalah mereka yang tidak merencanakan kehamilan. Mereka menginginkan anak untuk pelarian, guna meningkatkan status, atau memberi rasa aman sebagai wanita. Para calon ibu ini biasanya merasa harus memiliki anak karena terdorong rasa iri terhadap keberuntungan orang lain yang memilikinya.

Karena itu, sebelum hamil, cobalah meninjau kembali alasan atas keinginan untuk mengandung dan membesarkan anak. Siapkah Anda dengan segala perubahan yang akan menyertai peristiwa ini termasuk berbagai cerita, pengalaman, juga mitos yang sering memicu kecemasan yang berujung depresi?

Pandangan sekaligus pikiran positif dan yakin terhadap keinginan hamil, ditambah dukungan suami, akan membuat calon ibu lebih siap dalam menghadapi hari-hari selama kehamilan. @

Copyright © 2002 PT. Kompas Cyber Media (Rabu, 02 Juli 2003, 9:44 WIB). Hangtuah Digital Library

Iklan

2 thoughts on “Ganti Mitos Kehamilan dengan Pikiran Positif

  1. Menurutku, kuncinya di keyakinan dan kesabaran. Hamil itu berat. Apalagi hamil pertama. Dukungan dari suami dan keluarga besar harus penuh untuk memberikan ketenangan. Ibu-ibu yang sedang hamil, disarankan untuk sering membaca alquran dan mengaji. Misalnya setiap selesai sholat, sambil membaca alquran perut kita dielus-elus agar si jabang bayi tenang dan terbiasa mendapat suara yang baik-baik. Kita juga jadi tenang karena keimanan kita kepada Dia sang pencipta kita. Alhamdulillah, sejak positif hamil sampai sekarang usia kandunganku 8 bulan, selalu melakukan aktivitas itu. Alhamdulillah tenang. Ini kehamilan pertamaku.

  2. Aku sih positif thinking saja dengan apa yang Tuhan kasih buat aku dan suami. Stres dan khawatir bayi yang akan lahir cacat, pernah juga sih kepikiran begitu. Tapi aku berpikir bahwa Tuhan pasti akan memberikan yg terbaik buat aku. Aku banyak berdoa saja. Suami juga terus memberikan perhatian kepadaku dan meyakinkan bahwa aku dan calon bayiku akan baik-baik saja.

    Tentang informasi bahwa melahirkan itu sakit, sering aku dapatkan. Tapi, bukan untuk ditakuti walaupun sebagai manusia biasa aku tetap merasa khawatir dan takut. Kuncinya dengan mempelajari trik2 saat aku melahirkan nanti. Suamiku juga sering memberikan perhatian. Sehingga aku merasa bahwa aku tidak sendiri dengan kehamilanku ini.

    Perubah bentuk tubuh? Sebenarnya aku merasa biasa saja. Sebab, orang yang hamil pastilah perutnya buncit, apalagi yang hamil 9 bulan. Bentuknya mungkin tak enak dipandang mata, karena di masyarakat kita mitos ttg cantik adalah yang langsing tubuhnya, bukan yang gendut, apalagi yang hanya terlihat buncit di perut saja. Aku sih berusaha untuk menikmati kehamilan ini. Tapi bersih-bersih badan dan berbusana yang pas dengan kehamilan ttp diperhatikan. Soal bentuk tubuh yang tak ideal ya wajar saja karena memang sedang hamil.

    Suamiku selalu mengatakan bahwa aku ini semakin cantik dengan kehamilanku. Lebih cerah wajahnya. Suamiku sering membelai-belai mesra perutku dan ngomong sendiri dengan jabang bayi di dalam kandunganku. Dipuji dan diperlakukan istimewa oleh suami pasti sangat menyenangkan ya dan itu sangat berpengaruh pada kondisi psikisku saat aku hamil ini. Kini aku sedang hamil besar. 9 bulan. Mohon doanya untuk kelancaran proses persalinanku dari ibu2 semua. Salam kenal utk bibi lung 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s