Risiko Membayangi Kehamilan Wanita TB


JAKARTA – Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan yang mendunia. Penyakit yang disebabkan infeksi kuman mycobacterium tuberculosis ini menjadi “pembunuh” nomor satu untuk kategori penyakit infeksi. Indonesia sendiri menempati urutan ketiga di dunia dalam hal jumlah pengidap TB.

“Lebih dari 50 persen kasus TB baru adalah perempuan,” ujar spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan dari RS Persahabatan (RSP) dr M Iqbal Noerdin SpOG, dalam acara talkshow bertajuk “Berbahayakah TB Paru pada Wanita Usia Reproduksi dan Anak?” di Jakarta, belum lama ini. Kuman TB umumnya menyerang organ paru-paru (TB paru) karena penularannya melalui udara yang mengandung si kuman,lalu terhirup saat bernapas.

Seseorang yang terinfeksi kuman ini bisa jadi positif mengidap TB dan menulari yang lainnya (disebut TB aktif), atau si kuman hanya berdiam dalam tubuh (laten). “Sekitar 90 persen TB aktif muncul dari TB laten yang tidak diobati. Gejala yang muncul terkadang tidak khas sehingga pasien tidak segera memeriksakan diri. Akibatnya diagnosis sering kali terlambat,” tutur dokter yang juga praktik di RS Husni Thamrin ini.

Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus, selaput otak, tulang, dan sendi, serta kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi, kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang. Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi.

“Kalau kuman sudah menyebar sampai ke kandungan, jangankan untuk melahirkan, untuk hamil saja biasanya agak sulit karena rahim tidak siap untuk pembuahan. Namun, ada beberapa kasus yang masih bisa hamil,” tutur M Iqbal seraya menyebutkan bahwa berdasarkan data di RSCM pada 1989-1990, dari 4.300 wanita hamil, 150 di antaranya adalah pengidap TB paru (3,48 persen).

Hal senada dikemukakan spesialis penyakit infeksi dari Scripps Clinic Medical Group di San Diego California,Harold Oster MD, yang mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun, jika kuman menginfeksi endometrium memang bisa menyebabkan gangguan kesuburan.

“Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil masih tetap ada,” ujarnya. Idealnya, sebelum memutuskan untuk hamil, wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas. Namun, bagaimana jika sudah telanjur hamil? Tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi.

Menurut Oster, jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap janin.Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. “Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa, yang mana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir,”ungkapnya.

Sementara itu,Iqbal mengatakan, TB paru yang tidak diobati bisa membuat penyakit makin memburuk, serta komplikasi kehamilan dan persalinan. Risiko ini meningkat pada wanita dengan anemia, gizi kurang,kontraksi dini,perdarahan, setelah melahirkan dan sesak sehingga tidak kuat mengedan. “Sekitar satu juta wanita TB meninggal tiap tahun saat kehamilan atau persalinan,” ujar Iqbal.

Selain itu, lanjut Iqbal, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar. “Jika orang TB hamil, penularan bisa berbahaya walaupun kecil. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah betul si bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir? Selain itu, jarang terjadi dan tingkat kematiannya tinggi (50 persen),” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemilihan obat antituberkulosis (OAT) yang tepat sangat penting dilakukan. Sebab, obat-obatan tertentu seperti streptomisin akan membahayakan kehamilan karena bisa menembus plasenta dan menyebabkan kerusakan saraf pendengaran.

“Jadi kesimpulannya, tidak apa-apa hamil,tapi kalau masih sakit obatnya diteruskan dan dipilih yang tepat. Kehamilan sendiri tidak memengaruhi berat dan tidaknya TB. Artinya, sampai saat ini tidak ada penelitian yang mengatakan bahwa karena hamil, TB-nya menjadi lebih baik atau lebih buruk,” tandasnya.

Beragam Tes Deteksi si Kuman

BAKTERI TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Karena itu disebut juga basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung,tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap.

Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun). Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. Namun, jangan terlalu khawatir karena yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

“Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit. Jika daya tahan tubuhnya kuat, sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk,” kata spesialis paru-paru dari RSP Dr Tjandra Yoga Aditama MD DTM&H DTCE MARS. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan,murah dan cukup reliable.

Kelemahannya adalah baru positif kalau ada kuman 5000/cc dahak.Jadi, pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya, tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasilnya jadi negatif). Adapun rontgen memang bisa mendeteksi pasien yang BTA-nya negatif, tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB, yaitu melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes.

“Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Di luar negeri, orang lebih percaya dengan tes interferon gamma karena ada angkanya,” katanya. Sementara itu, diagnosis TB pada wanita hamil antara lain dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi), pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?), serta uji tuberkulin.

“Uji tuberkulin hanya untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak,” kata spesialis anak RSP dr Emma Nurhema Sp A. Jadi, pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji tuberkulinnya negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak ada infeksi TB, pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi anergi.

Menurut dr M Iqbal Noerdin SpOG, kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. Selain itu, untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama, foto toraks dengan pelindung di perut juga bisa dilakukan, terutama jika hasil BTA-nya negatif. (inda susanti/Sindo/ang)

Sumber :OKEZONE

Iklan

One thought on “Risiko Membayangi Kehamilan Wanita TB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s