Anak Meniru Apa yang Diperbuat Orangtua


Oleh: Lianny Hendranata <ray_and_mel@hotmail.com>

APAKAH kita sebagai orangtua memiliki waktu dan perhatian yang demikian besar untuk anak-anak kita? Apakah kita rajin melindungi mereka dari kejahatan yang dapat membawa luka rohani bagi mereka?

MENIRU – Anak-anak cenderung meniru apa yang diperbuat orangtuanya. Karena itu, orangtua hendaknya memberi contoh yang baik di hadapan anak-anak mereka.

Apakah kita mengenal teman-teman mereka, apakah kita mengetahui kegiatan mereka di luar rumah, apakah kita mengawasi bacaan dan program TV yang mereka tonton. Apakah kita tahu perasaan yang sedang mendominasi hidupnya, mungkin dia sedang sedih, frustrasi pergaulan, terpojokkan (rendah diri), bahkan bersikap arogan.

Membicarakan soal anak memang sangat menarik. Banyak hal yang menjengkelkan dan merepotkan dalam mengurus anak, tetapi tidak kalah banyak juga hal yang menyenangkan yang kita dapatkan jika hidup kita diwarnai dengan kehadiran anak-anak dalam hidup berumah tangga. Banyak yang berpendapat, kita belum menjadi “dewasa” jika belum mempunyai anak. Anak diibaratkan akar yang akan memperkukuh pohon rumah tangga, juga anak diibaratkan “lem perekat” untuk hubungan ibu dan ayah (orangtua)

Anak manja sekalipun akan berubah setelah menimbang buah hatinya. Dia bisa merelakan tidur nyenyaknya hanya untuk menyusui dan menggantikan popok bayinya. Dengan menyandang predikat orangtua, dengan kata lain sebagai orang yang lebih tua dari anak-anak kita, sudah sepatutnya kita menjadi suri teladan dan contoh nyata untuk pengembangan kepribadian dan tingkah laku juga dasar dari asas cara berpikir anak-anak kita.

Bentuk Kepribadian

Para ahli jiwa berpendapat bahwa pribadi seseorang terbentuk lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungannya, yaitu sekitar 75 persen dan sisanya 25 persen adalah pribadi dasar bawaan dari lahir. Karena itu, tidak heran seseorang akan berkepribadian sesuai dengan apa yang didapat dari lingkungannya terutama orangtua yang mereka temui sejak awal kehidupannya. Orangtua dan keluarga dekat mendominasi pembentukan karakter anak-anak.

Dalam artikel yang berjudul Komunikasi sebagai Urat Nadi Kehidupan, yang menjabarkan kepribadian anak dibentuk oleh lingkungannya dan cara berkomunikasi antara orangtua serta lingkungannya bagi anak-anak terdapat hal-hal berikut. (Makalah FK-UKI susunan dr Dwi Karlina SpKj) Dorothy Low Nolte dalam bukunya Children Learn What They Live With. (Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak belajar)

– Jika anak biasa hidup dicela/dicerca,

   kelak dia terbiasa menyalahkan orang lain.

– Jika anak biasa hidup dengan diolok-olok,

   kelak dia terbiasa menjadi pemalu.

– Jika anak biasa hidup dikelilingi perasan iri hati,

   kelak dia akan terbiasa selalu merasa bersalah.

– Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan,

   kelak dia terbiasa hidup dengan merasa resah dan cemas.

– Jika anak biasa hidup dengan kejujuran,

   kelak dia terbiasa memilih kebenaran.

– Jika anak terbiasa mengenyam rasa aman damai,

   kelak dia terbiasa percaya diri.

– Jika anak terbiasa diperlakukan dengan adil,

   kelak dia terbiasa dengan keadilan.

Dalam peribahasa Indonesia, kita punya banyak yang menggambarkan bagaimana anak-anak meniru, menjiplak (mengopi), semua yang dilakukan orangtuanya, yaitu sebagai berikut.

“Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya” atau “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” dan masih banyak lagi.

Apa yang ditanamkan di hati anak-anak Anda akan menjadi karakter mereka kelak (Richard De Haan. owner-I-kan-akar-renunganharian @xc.org)

Anak Meniru Orangtua

Tanpa kita sadari, sebagai orangtua banyak pelajaran yang kita berikan dan tanamkan pada anak-anak. Berikut kisah nyata yang akan memberi gambaran kepada pembaca dan penulis akan apa yang orangtua lakukan telah menjadi contoh yang dianut oleh anak-anak mereka.

Pada libur kenaikan kelas yang baru saja berlangsung, lima orang sahabat yang sudah bersekolah secara terpisah di beberapa kota merencanakan untuk bertemu dan saling melepas rindu dengan jalan-jalan menggunakan sepeda motor dan makan bersama.

Dari lima anak remaja tersebut, hanya satu orang anak yang tidak memiliki sepeda motor, tetapi karena kentalnya persahabatan mereka, hal itu tidak menjadi masalah sehingga salah satu dari mereka memberi tumpangan di motornya. Setelah mereka makan, jalan-jalan dengan kendaraan beroda dua tersebut, tibalah sang teman yang dibonceng dipanggil dengan nama Peter mengungkapkan keinginannya dengan memelas dan memaksa untuk merasakan mengendarai sepeda motor tersebut karena sebetulnya dia pun memiliki kemampuan mengendarai.

Sebagai teman, anak yang memberi tumpangan memberikan kunci motor bahkan helm yang dipakainya untuk sahabatnya tersebut. Tetapi, apa yang terjadi, ternyata sang sahabat memacu motor dengan kencang secara ngawur dan tiba-tiba berhenti mendadak sehingga fatallah akibatnya karena sang teman yang dipanggil dengan nama Ray yang duduk di belakang terpelanting jatuh dengan keras membentur aspal dan kepalanya membentur tiang lampu jalan hingga patah. Sepeda motor yang ditumpangi juga turut hancur berantakan.

Orangtua dari lima sahabat tersebut segera mendapat kabar dari anak-anak mereka. Tiga orangtua dari lima anak tersebut segera menuju rumah sakit tempat Ray berbaring. Sungguh miris melihat Ray yang berlumuran darah yang keluar dari mulutnya serta mengerang kesakitan karena tulang paha dan tulang tangannya patah. Sedangkan di sampingnya, Peter terduduk diam dan hanya mengalami luka lecet di kakinya.

Orangtua Peter segera mengurus anaknya yang luka ringan dan tanpa rasa prihatin sedikit pun karena mereka berpendapat Ray-lah yang bersalah. Dialah yang telah meminjamkan sepeda motornya. Setelah selesai diurus, mereka pamit meninggalkan Ray yang mengerang-erang menunggu mobil ambulans yang akan membawanya ke rumah sakit besar yang punya fasilitas kamar bedah. Dia harus segera dioperasi malam itu juga. Lima hari Ray berjuang di ruang ICU untuk mempertahankan jiwanya yang masih remaja (17 tahun). Setelah masa krisis berakhir dia dipindah ke ruang perawatan dengan diiringi ketiga sahabatnya tidak termasuk Peter yang entah ke mana tidak berkabar berita. Setelah siuman, Ray menanyakan bagaimana keadaan Peter sahabatnya. Sungguh sedih ia mendengar sang sahabat yang tidak terluka parah tetapi sudah menyebabkan dirinya mengalami luka parah ini tidak pernah menjenguk atau ber-sms melalui hand phone seperti yang selama ini mereka lakukan untuk membuat janji bermain. Peter sekeluarga ternyata pergi berlibur keluar kota tanpa peduli sedikit pun akan nasib Ray, sahabatnya sendiri.

Dari kisah di atas, pembaca dan saya diajak untuk melihat bagaimana orangtua Peter telah tanpa sadar mengajar anak laki-laki mereka yang beranjak remaja dewasa untuk hal-hal berikut.

a) Tidak mempunyai rasa setia kawan dengan meninggalkan Ray yang sekarat dan orangtuanya yang sedih dan kebingungan.

b) Tidak punya kasih sayang yang mereka tunjukkan dengan meninggalkan Ray yang kesakitan.

c) Tidak punya tanggung jawab moral sebagai orang yang mengakibatkan orang lain menderita dengan tidak pernah menjenguk dan menanyakan kabar Ray, bahkan mereka pergi berlibur ke luar kota.

d) Mengajarkan untuk menyalahkan orang lain (karena telah meminjamkan sepeda motor) ketimbang minta maaf atas kesalahan anak mereka.

Sesuai dengan judul artikel ini, kita akan panen sesuai dengan benih yang kita tanam. Kita menanam kebaikan, kita akan mendapat kebaikan. Begitu pun sebaliknya, kita berbuat jahat, kita akan mendapat ganjaran yang setimpal. Itu hukum alam yang tidak bisa diubah, yaitu hukum sebab-akibat.

Seorang guru meditasi mengatakan kebaikan pertanda adanya kesehatan, juga cinta dan kebahagiaan di hati. Nah, dengan melatih memberi kebaikan, kita juga berharap akan mempunyai kesehatan, cinta, dan kebahagiaan dalam hidup. Tidak berlebihan seandainya kita menginginkan punya anak-anak yang berbakti dan soleh, kita dululah sebagai orangtua yang memberi contoh, niscaya kita melihat hasil yang positif.

Suara Pembaruan Daily 14/9/03. Hangtuah Digital Library

Iklan

2 thoughts on “Anak Meniru Apa yang Diperbuat Orangtua

  1. Orang tua adalah guru pertama bagi anak. Apa yang dilakukan oleh orang tua, pasti si anak juga menirunya. Saya sendiri memiliki pengalaman seperti itu. Anak pertama saya perempuan yang sekarang usianya 2,5 tahun suka sekali meniru cara saya berdandan misalnya. Juga cara bicara. Kalau saya berbicara agak keras, dia juga membalas dengan keras.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s