Ingin Bayi Laki-laki? Menikahlah…


Benarkah bayi laki-laki hanya lahir dari hubungan yang stabil?

Keadaan orangtua pada saat proses pembuahan konon ikut menentukan jenis kelamin bayi yang dikandungnya.

Begitu antara lain hasil penelitian yang dilakukan sejumlah ilmuwan dari the US Bureau of Economic Research, berdasarkan data dari 86.436 kelahiran.

Pada pasangan menikah atau sudah hidup bersama saat proses pembuahan, lebih besar kemungkinannya memiliki bayi laki-laki ketimbang pasangan yang hidup terpisah –dan hanya sesekali bertemu untuk berhubungan intim. Kondisi ini, bisa terjadi pada pasangan yang belum menikah atau yang terlibat dalam poligami.

Temuan para ilmuwan ini sekaligus memperkuat teori biologi bahwa jenis kelamin bayi ditentukan pula oleh kondisi lingkungannya.

Dalam penelitian tersebut ditemukan: 51,5 persen bayi yang lahir dari pasangan yang sudah menikah adalah laki-laki. Bandingkan dengan 49,9 persen bayi laki-laki yang lahir dari pasangan yang tidak tinggal bersama.

Kalau melihat perbedaannya, sangat tipis hanya 1,6 persen. Tetapi angka ini secara statistik cukup signifikan ketika dihitung berdasarkan jumlah populasi umat manusia di seluruh dunia.

Ketika para periset mengamati anak laki-laki dan anak perempuan dalam sebuah keluarga, mereka menemukan: secara keseluruhan pasangan yang sudah menikah, 14 persen lebih tinggi kemungkinannya memiliki anak laki-laki.

Menurut para peneliti hal ini bisa menjelaskan kecenderungan berkurangnya proporsi kelahiran bayi laki-laki di negara-negara berkembang selama 30 tahun terakhir.

Penelitian yang dilakukan sebelumnya, menunjukkan hal yang sama. Wanita yang tidak berada dalam kondisi stabil pada saat proses pembuahan, lebih kecil kemungkinannya melahirkan bayi laki-laki.

Kenyataan tersebut sejalan dengan laporan pada abad 19 perihal rendahnya prosentase bayi laki-laki yang lahir dari wanita yang tidak menikah, karena berbagai alasan.

Hal serupa juga terjadi pada wanita Kenya yang suaminya beristri lebih dari satu (poligami).

Penjelasannya adalah, embrio laki-laki lebih rentan ketimbang embrio perempuan. Sebab itu, kondisi si ibu saat pembuahan sangat berperan dalam pembentukannya. Kalau toh sudah terbentuk, embrio laki-laki membutuhkan pemeliharaan yang lebih baik selama kehamilan, kalau ingin selamat sampai 9 bulan masa kehamilan.

Nah, seorang ibu yang berada dalam kondisi fisik dan emosi stabil selama proses pembuahan, dan setelah pembuahan terjadi, berada dalam posisi lebih baik untuk mendapatkan bayi laki-laki, dan menyediakan perawatan lebih memadai pada embrio laki-laki yang sudah terbentuk.

Kondisi emosi dan fisik yang stabil ini, secara umum bisa dipenuhi apabila wanita terikat dalam sebuah perkawinan yang sah, dan memiliki hubungan monogami yang sehat dengan pasangannya.

Faktor-faktor lain yang juga berperan pada proses pembuahan adalah status hormon ayah dan ibu saat pembuahan, kemudian waktu dan frekuensi berhubungan seks.

Prof Andrew Reid dari the British Society for Human Genetics mengatakan pasangan yang tidak tinggal bersama, cenderung melakukan hubungan seks pada waktu yang berbeda-beda, frekuensinya pun tidak sesering pasangan yang tinggal bersama.

Sudah diketahui bersama, embrio hasil hubungan intim yang dilakukan tepat pada saat ovulasi, kemungkinan besar tumbuh menjadi janin laki-laki. Sedangkan hubungan intim yang dilakukan 2-4 hari sebelum ovulasi, kemungkinan besar menghasilkan bayi perempuan.

Pada pasangan yang sudah menikah kemungkinan melakukan hubungan intim tepat pada saat ovulasi tentu jauh lebih besar ketimbang pasangan yang tinggal terpisah.

Ovulasi adalah terlepasnya sel telur masak dari folikel, biasanya terjadi antara hari ke-9 dan ke-17 sesudah permulaan haid. (zrp/BBC), KOMPAS

6 thoughts on “Ingin Bayi Laki-laki? Menikahlah…

  1. Saya dan suami masih tinggal berjauhan karena pekerjaan masing2. Suami pulang sekali 2 minggu bahkan kadang lebih dr 2 minggu baru bisa pulang. Kami telah dikaruniai 2 bayi yang lutchu2: Husein dan Kayla. Walaupun dari awal perkawinan sudah tinggal berjauhan tapi Alhamdulillah begitu selesai honeymoon, saya langsung hamil anak pertama yang ternyata laki-laki🙂 dan waktu Husein berumur 20 bulan, lahir lah Kayla. Rasa syukur yang tak terhingga tentunya. Memang hanya Allah lah penentu segalanya🙂

  2. Saya percaya pada statement yang ini :

    “Penjelasannya adalah, embrio laki-laki lebih rentan ketimbang embrio perempuan. Sebab itu, kondisi si ibu saat pembuahan sangat berperan dalam pembentukannya. Kalau toh sudah terbentuk, embrio laki-laki membutuhkan pemeliharaan yang lebih baik selama kehamilan, kalau ingin selamat sampai 9 bulan masa kehamilan.
    Nah, seorang ibu yang berada dalam kondisi fisik dan emosi stabil selama proses pembuahan, dan setelah pembuahan terjadi, berada dalam posisi lebih baik untuk mendapatkan bayi laki-laki, dan menyediakan perawatan lebih memadai pada embrio laki-laki yang sudah terbentuk.”

    Saat ini saya sedang hamil 36minggu, menantikan si ucok yg sudah kami harap2kan sejak sebelum berencana hamil. Terima kasih kepada suami yg selalu memimpin doa buat kami bertiga, mengajari saya bersabar (menstabilkan emosi saya yang meledak-ledak) dan selalu mengingatkan saya untuk meningkatkan gizi pada masa persiapan hamil maupun selama kehamilan. Love you, hubby!

  3. salam,
    saya mempunyai seorang anak perempuan dan kini hamil 25 minggu.
    ultrasound menunjukkan baby girl lagi..tetap bersyukur dan berdoa semoga saya dan baby yang bakal lahir nanati sihat dan selamat..
    harap2,percubaan akan datang,dapat la baby boy pula..doakan ya..

    =)
    eda_boo,malaysia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s