Kalau Anak Gemar Makanan Manis


“AKU paling senang kalau ada pesta di rumah. Soalnya, di rumah ada banyak kue cokelat dan permen. Aku makan saja sampai habis,” kata Febi (4), bocah yang tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.

Sebagian besar anak kecil memang senang pada makanan manis. Tidak hanya rasa yang menarik bagi anak kecil, tetapi juga bentuk dan warnanya. Sebagian orangtua juga membiarkan anak mengonsumsi makanan manis, walau mereka tahu makanan manis sangat berbahaya bagi gigi. Tidak banyak orangtua yang menyuruh anaknya menggosok gigi atau setidaknya berkumur air putih setelah mengonsumsi makanan manis.

“Setiap kali ada perayaan, seperti ulang tahun, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, tidak bisa dihindari makanan manis selalu ada. Minumannya pun memakai yang manis-manis, seperti sirup atau minuman berkarbonat. Buat anak kecil yang tidak terbiasa menggosok gigi, hal ini berbahaya karena bisa menimbulkan karies gigi,” kata drg FX Ganny.

Karies gigi adalah lubang pada gigi yang disebabkan oleh kuman. Kuman itu bisa tumbuh subur di gigi karena ada makanan tersisa pada gigi. Kuman senang tinggal pada sisa makanan yang mengandung karbohidrat dan yang manis.

Walau sudah banyak informasi disebarkan, hingga kini masih banyak orangtua yang belum sadar akan kesehatan gigi anak balita. Masih banyak di antara mereka yang berpikir, toh giginya belum permanen, nanti juga akan tanggal dan diganti gigi tetap.

Menurut Ganny, sebaiknya orangtua tidak membiarkan anak-anak mengonsumsi makanan tersebut terlalu banyak. “Makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, seperti nasi, mi, dan gula dapat menimbulkan karies gigi. Apalagi gula yang lengket, dodol misalnya, sangat sulit dibersihkan dari gigi. Jika letak giginya tidak beraturan, semakin sulit makanan dibersihkan dari gigi,” ujar Ganny menjelaskan.

Selain itu, minuman seperti teh, kopi, dan minuman ringan (minuman berkarbonat), serta rokok dapat menimbulkan lapisan tipis di gigi yang disebut stain. Akibat lapisan ini, warna gigi menjadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar itu juga memudahkan makanan dan kuman menempel pada gigi, yang akhirnya membentuk plak. Jika plak tidak dibersihkan, akan mengeras dan menjadi karang gigi. Lama-kelamaan karang gigi ini pun akan sampai ke akar gigi. Kalau keadaannya sudah begini, gigi mudah berdarah, gampang goyah, dan mudah tanggal.

JIKA dibandingkan penyakit lain, seperti jantung dan diabetes, sakit gigi tampaknya memang ringan. Namun, jika tidak diperhatikan, gigi rusak juga bisa menimbulkan risiko yang lebih berat.

“Misalnya saja, perawatan yang kurang terhadap gigi anak balita. Akibatnya, gigi akan keropos dan berwarna kehitaman. Jika sudah begitu, anak tidak bisa mengunyah makanan dengan baik. Setiap kali makan, dia akan merasa sakit dan lama-lama dia tidak doyan makan,” kata Ganny.

Jika anak tidak doyan makan, dia terancam kekurangan gizi. Kalau sudah begini, kemampuan intelektual anak pun dikhawatirkan akan berkurang.

Pada anak yang lebih besar, sakit gigi bisa menurunkan tingkat produktivitas. Mereka malas beraktivitas. Kegiatan makan, belajar, bekerja, dan tidur pun terganggu. Dari segi estetika pun, gigi yang ompong atau cacat bisa menimbulkan rasa kurang percaya diri. Akibatnya, anak tidak mau bergaul karena khawatir diledek temannya.

Oleh karena itu, sebaiknya gigi diperiksakan ke dokter gigi minimal enam bulan sekali. Bagi anak-anak, terutama pada masa pergantian gigi susu, sebaiknya sering diperiksa apakah gigi permanennya sudah tumbuh. Jika gigi permanennya sudah tumbuh sementara gigi susunya belum goyang, akan terjadi penumpukan gigi atau letak gigi menjadi tidak teratur.

Kebiasaan menggosok gigi sebaiknya ditanamkan sejak anak masih berumur dua tahun. Untuk anak berumur di bawah dua tahun, giginya dibersihkan dengan kain kasa yang diberi air hangat. Sebaiknya setiap kali dia minum susu, berikan air putih matang untuk berkumur.

“Walau masih memiliki gigi susu, seorang anak harus mendapatkan perhatian serius dari orangtua. Sebab, kondisi gigi susu akan menentukan pertumbuhan gigi tetap nantinya,” kata Ganny menegaskan.

Untuk menyikat gigi, lakukan sekurang-kurangnya dua kali sehari. Namun, sikat gigi sebaiknya dilakukan sesudah sarapan pagi, setelah makan siang, dan sebelum tidur malam.

Untuk sikat gigi pilihlah bulu sikat yang tidak terlalu keras atau terlalu lembek. Cara menyikat yang benar adalah gerakan vertikal dari arah gusi ke ujung gigi. Untuk rahang atas, disikat dari atas ke bawah. Untuk rahang bawah, disikat dari bawah ke atas. Gusi harus tersikat agar sisa makanan lunak yang ada di leher gigi hilang dan juga berfungsi untuk memijat gusi. Gusi menjadi lebih sehat, kenyal, dan tidak mudah berdarah.

Pilihlah pasta gigi yang mengandung fluor, tetapi dengan kadar sesuai standar yang ditentukan. Untuk pasta gigi anak, kadar fluor yang disyaratkan Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah 500-1.000 ppm. Adapun untuk pasta gigi biasa kadar fluornya sebesar 800-1.500 ppm. (ARN)

Copyright © 2002 Harian KOMPAS

Hangtuah Digital Library: Minggu, 23 November 2003

One thought on “Kalau Anak Gemar Makanan Manis

  1. Informasinya menarik. Anak saya termasuk suka makan manis seperti permen dan coklat. Untuk gosok gigi, alhamdulillah saya sudah membiasakan anak2 saya menggosok giginya setiap hari. Tapi kok anehnya giginya tetap saja habis (terutama bagian atas). Kira-kira apa penyebabnya? Terima kasih sebelumnya jika ada yang bisa sharing dengan masalah anak saya ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s