Meraih Simpati Anak


Oleh: Lianny Hendranata

“Mam, aku ikut papa saja deh,” Ani berkata pada ibunya sesampainya mereka di sebuah mal. Perkataannya seolah mengusir ibunya dari dia dan ayahnya.

Maka sang ibu menyahut dengan ketus, “Iya, mama tahu kalau ada yang mau dibeli. Maka jalannya ikut papa saja! Tidak seperti kalau minta izin untuk berpergian bersama teman-teman, pasti yang dicari mama!”

Sebagai orangtua dari anak-anak, sering tanpa disadari kita berlomba untuk meraih simpati mereka. Maka tidak heran kalau terjadi penilaian yang berbeda antara ayah dan ibunya, dan sering hal ini menjadi pemicu pertengkaran di antara mereka karena sama-sama merasa tidak diperlakukan atau dinilai secara adil oleh anaknya. Seperti contoh pernahkah Anda oleh anak-anak dijuluki “Mama pelit deh!” atau “Papa kuno amat sih” atau “Mama galak” sementara “Papa baik”

Banyak terjadi di mana ibu yang bekerja akan bertindak lebih royal dalam hal memberi uang atau membelanjakan uang untuk anak-anaknya, seperti pengakuan Henny yang punya gaji lumayan besar karena menjabat sebagai manajer sebuah perusahaan. Dia bercerita, “Aku sering membelikan pakaian mahal atau barang-barang mewah yang tidak diminta oleh putriku yang sedang menginjak usia ABG (anak baru gede) karena aku takut dia tidak sayang sama aku. Sedari kecil putriku diasuh oleh pengasuhnya. Maka untuk menunjukkan rasa sayangku, aku banyak memberinya hadiah, terutama kalau aku bertugas ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama.”

Karier

Sebagai seorang ibu, sebetulnya Henny dilanda rasa bersalah karena tidak mengasuh anaknya sendiri. Kedua, dia takut karena kesalahannya itu dia tidak disayang oleh anaknya. Maka kompensasinya (bayarannya) dia mencoba menebus kesalahannya dengan barang mewah dan uang. Berbeda dengan seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Mungkin anaknya juga diasuh oleh pengasuh, tetapi itu tidak membuatnya merasa melepaskan tanggung jawabnya untuk merawat anak. Memang, uang yang dipunyai oleh ibu rumah tangga biasanya terbatas karena bersumber hanya dari pencari nafkah, yaitu suami. Untuk memberi atau membelanjakan uang lebih untuk anaknya dia tidak bisa melakukannya. Maka, ibu sepertinya terkesan ibu yang “pelit”. Tak heran sang anak lebih memilih ayah yang terkesan lebih bisa (mudah) untuk mengeluarkan uang untuk keperluan anak-anak jika berada di pusat perbelanjaan.

Sementara seorang ayah biasanya tidak mudah memberi izin putrinya untuk berpesta atau jalan-jalan dengan teman-teman. Ada kalanya seorang ayah punya rasa “cemburu” terhadap teman terutama teman laki-laki putrinya sehingga izin untuk keluar rumah biasanya lebih sulit didapat dibanding dengan sang ibu yang dulu juga merasakan sulitnya mendapat izin sang ayahandanya tatkala remaja. Sang ibu lebih bisa memahami untuk memberi kelonggaran kepada sang putri untuk keluar rumah. Dalam situasi ini sang ayah mendapat julukan “Papa kuno, tidak ngerti anak muda.”

Begitu juga dalam hal menerapkan disiplin, Ibu yang selalu ada di rumah terutama ibu yang tidak mempunyai pembantu pasti menerapkan disiplin keras dan sangat memperhatikan kebersihan. Maka ibu itu akan mendapat judukan “Ibu yang galak” karena kotor sedikit anak ditegur, makan tidak rapi juga ditegur, belum lagi kamar tidak dirapikan juga ditegur. Tidak membantu cuci piring juga dimarahi. Berbeda dengan sang ayah yang ketemu dengan anak-anak sepulang kerja atau sebelum ke kantor biasanya mendapat julukan “ayah baik, tidak pernah marah atau ngomel.” Ayah hanya punya waktu sangat singkat berada di rumah sehingga hal-hal kecil yang terjadi di rumah tidak diketahui atau malah tidak peduli.

Penilaian anak yang berbeda membuat orangtua tidak terima. “Masa saya dikatakan ibu pelit kala menegur suami saya yang mau saja diminta membayar semua belanjaan anaknya yang dirasa barang-barang tersebut kurang perlu dan mahal. Tapi suami mengatakan biarlah sekali-kali anak kita mendapatkan keinginannya.” Ibu Fitri mengerutu.

Begitu juga sang suami memprotes anak dan istrinya kala dijuluki “Ayah kuno, tidak mengerti anak muda.” “Saya heran istri saya kok mengizinkan putrinya pergi ke pesta ulang tahun sampai jam sepuluh malam. Kan khawatir anak gadis pulang malam tidak bersama orangtuanya. Kala saya menegur dan melarang anak saya untuk pergi, saya dijuluki ayah yang kuno. Memang ayah yang modern itu yang mempersilakan terus anak gadisnya bepergian malam hari?” Bapak Bram menggerutu!

Kekompakan Orangtua

Memang sulit, tapi yang pasti bisa untuk membuat komitmen bersama yang merupakan hasil kesepakatan orangtua untuk apa dan mana yang boleh dan tidak boleh, juga apa yang harus dan jangan dilakukan oleh anak-anak kita. Untuk mendapatkan penilaian yang adil, dibutuhkan kiat-kiat dan dedikasi yang tinggi dari sang orangtua untuk membuat perumusan dari komitmen bersama dan hindari sikap berlomba untuk meraih simpati anak dengan harapan lebih “disayang” oleh anak.

Karena sikap berlomba seperti itu tentu saja tidak mendidik anak, dan yang pasti dua orang bersaing akan menghasilkan seorang pemenang dan seorang pecundang (kalah). Karena kita sama-sama sebagai orangtua dari anak-anak, lebih baik kita merupakan figur orangtua yang mesra dan kompak dalam hal apa pun dalam hidup ini, di mana hal ini terutama dalam menerapkan disiplin-disiplin untuk dipatuhi oleh anak.

Maka, tidak ada lagi yang oleh sang ibu dilarang, tapi oleh sang ayah malah diizinkan. Begitu juga sebaliknya. Karena, sudah pasti setiap pasangan orangtua menginginkan mempunyai anak-anak yang baik, mengantar mereka menjadi anak yang sukses dalam segala bidang. Dan, kita sebagai orangtua menyumbang tunas bangsa yang unggul demi kemajuan bangsa Indonesia.

Suara Pembaruan Daily 20/11/03

Hangtuah Digital Library

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s