Orang Bilang Lebih Enak Jadi Perempuan


Jakarta, Selasa

 
 
 

Oleh: Dr.Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Kecemburuan perempuan terhadap laki-laki konon gara-gara laki-laki punya tonjolan di bawah pusar yang sampai botak tidak mungkin bisa dimiliki perempuan. Freud menyebut kecemburuan jender yang disimpan sampai tua itu sebagai “penis envy”.

Itu makanya kendati bukan polisi, semua laki-laki di dunia, entah kaliber revolver entah cuma baretta, pasti punya pistol. Pistol yang selalu ingin menyalak, tapi belum tentu selalu bisa. Namun, bahwa kodrat perempuan punya tonjolan bukan di bawah sana melainkan di dada, tak pernah bikin lelaki risau atau bersedih saat menatapnya.

Begitulah yang terjadi. Laki-laki tak cemburu menyadari tidak ada yang menonjol di dadanya, tapi memohon seribu ampun bila tak lagi elok kerja tonjolan di dekat saku celananya.

Semua laki-laki merasa sia-sia punya banyak harta di dunia kalau pistolnya mendadak bengkok. Dan Tuhan rupanya Maha Pemurah. Ke bumi Indonesia, “Mak Erot”, juru permak organ intim pria, telah malaikat kirimkan, memahami betul kerisauan banyak suami Indonesia.

Kendati begitu tetap saja terasa belum adil. Bukankah yang bisa bersedih tidak cuma suami. Kepada siapa istri meminta bantuan bila suami tak lagi gagah di kamar tidurnya.

Kinsey mencatat, lebih separuh istri di dunia punya rapor buruk tentang kesempatan orgasme. Bahkan, ada yang baru pertama merasakannya saat umurnya sudah 8 windu!

Betul perempuan selalu bisa kendati tidak selalu mau. Namun, harus bagaimanakah istri kalau tidak pada setiap kali sedang mau, selalu ada rasa sumbangsih suami. Sayangnya pula tak banyak suami yang tahu.

Derita Istri

  • Banyak istri harus bersedih karena tidak setiap suami tahu kalau di kamar tidurnya setiap istri tak suka main tubruk langsung.

Istri butuh juga cinta, rindu sentuhan, bahwa sex begin in the kitchen, candle light dinner, selain menginginkan gereget macho, mengidamkan sorot mata suami, dan masih tak rela kalau suami tergopoh-gopoh mencopot kolor. Itu semua semata lantaran istri bukan cuma penggembira seks.

Rasa kefemininan istri juga yang konon bikin urusan teman tidur suami cenderung “makan dalam”. Rata-rata istri masih tak tega terbuka pada suami sendiri untuk bilang, alih-alih sampai sudi meminta, andaipun betul di hati kecilnya sebetulnya mendambakan inginnya diapa-bagaimanakan suami, dan di bagian intim yang manakah saja suami diharapkan lebih perigel beraksi. Andai betul ternyata di ranjangnya sendiri suami sampai alpa pun, kebanyakan istri menulisnya cuma dalam fantasi.

Sayang seribu kali sayang, malaikat tak mengirim Mak Erot buat penderitaan istri di kamar tidur seperti itu. Sosok kesengsaraan para istri yang belum tentu bisa diselesaikan secara swalayan sebagaimana lazim dilakukan suami di rantau kalau lagi seorang diri bengong di kamar hotelnya yang sepi.

Karena itu, jangan heran kalau di mal dan tempat shopping kita melihat banyak istri uring-uringan tanpa sebab. Accident’s prones, suka mengutil (kleptomaniac), atau suami ganteng jadi terlihat kayak ninik towok, bagian dari gejala istri yang luput mendapatkan keelokan di kamar tidur suaminya.

Lebih Tahan

  • Bukan juga salah capres kalau kehidupan intim perempuan tak bisa semekanis biologis laki-laki. Buat kebanyakan suami, taruh kata dalam situasi darurat, laki-laki bisa saja sekadar tersensasi dijepit daun pintu.

Namun, kebanyakan istri cuma bisa menggumam, menanti dari langit agar di kamar tidurnya ada yang mau mengerti memberinya suasana, menyusunkan fantasi, atau mengirimkan rasa yang tak tergapai itu.

Lantaran warna budaya kita juga kalau buat kehampaan hidup sesunyi itu dianggap tidak jamak kalau istri memilih hidup yang macam-macam.

Kendati betul sudah banyak iklan baris koran menawarkan jasa gigolo, hanya pihak suami yang masih dianggap lumrah berbuat intim di luar nikah (extramarital sex). Bahkan masih sangat dilazimkan orang sekiranya ada suami yang sampai memetiknya menjadi istri entah yang keberapa. Buat istri, ungkapan kata PIL (Pria Idaman lain) barangkali cuma boleh didengar sebagai salah satu cara ber-KB, bukan yang lainnya itu.

Di Indonesia sungguh masih amat langka istri yang gagah berani bersuami lebih dari satu, meskipun benar perempuan dengan rasa intim tinggi, nyphomaniac, bukan cuma mitos. Namun, sejatinya dibanding suami, rata-rata istri umumnya jauh lebih bisa tabah menelan kehampaan sebagai istri dalam kancah hidup bersuaminya.

Kenyataannya memang sudah begitu. Di mana-mana masih lebih banyak istri bertahan menjanda ketimbang suami yang bertahan awet menduda.

Buat kebanyakan istri, kalau sampai melepas masa menjanda pun lebih karena alasan kesepian batin ketimbang buat mengisi kesepian biologis. Harus diakui jauh lebih sedikit janda yang gatal dibanding duda yang doyan minta digaruk.

Dilema Keperawanan

  • Jauh hari sebelum hari perkawinan, kaum perempuan juga acap menghadapi perjuangan berat dengan selaput dara miliknya. Di situ perempuan mempertaruhkan harga diri, sekaligus rapor moralnya. Di situ pula potret hari depannya ditentukan.

Semakin banyak calon istri yang gamang memasuki malam pengantin lantaran sudah tidak virgin. Rasa gamang karena masih lebih banyak suami (Asia) yang belum sudi menerima istri yang sudah bekas laki-laki lain. Ini bentuk egoisme kaum Adam yang kenyataannya bisa tega mencelakakan gadis kekasihnya atau entah siapa, tapi pada saat lain tetap ogah menerima calon istri yang sudah second hand. Dilema ini agaknya yang menambah panjang kasus “nona-bukan-nyonya-bukan” yang di ranah kultur timur kasus begini ujung-ujungnya lebih suka memilih melajang seumur hidup.

Reparasi selaput dara (hymen repair) betul menyelamatkan para “nona-bukan-nyonya-bukan” dari kehilangan peluang dipetik menjadi istri. Namun, ini dianggap bentuk moralitas paling halus mengelabui suami yang menuntut agar malam pengantinnya (kembali) berdarah. Meski begitu, orang lupa, cacat moral “para sudah tidak virgin” itu akan tetap membekas tersimpan di hatinya, dan barangkali cuma Tuhan yang tahu.

Tak adilnya pula, bejibunnya cacat moral yang mungkin laki-laki lakukan, yang beraneka ragam sosok dan bentuknya itu, termasuk riwayat menodai gadis sesiapa jauh hari sebelum hari pernikahan, siapa yang tidak percaya. Namun, entah kenapa, tak pula tertulis dalam buku teks kedokteran, sampai sekarang saya pun belum bisa mengerti apa sebab Tuhan tidak memberi bekas atau tanda untuk laki-laki yang sudah tidak perjaka.

Jadi andai boleh memilih, sesungguhnya lebih enak jadi siapakah? Untuk dipertimbangkan saja, apa pun dahsyatnya kelebihan laki-laki dibanding perempuan, tetap saja mustahil buat kaum saya ini untuk nekat masih mau bercita-cita, misal ingin keguguran, merasakan seperti apa enaknya punya payudara montok nan bergayut, atau bagaimana rasa seriwing-nya melahirkan bayi.

Fakta yang Memojokkan

  • Fakta lain yang tampak di hadapan kita bahwa di dunia sekarang ini lebih banyak perempuan daripada laki-laki.

Barangkali itu juga sebabnya semakin banyak istri sakit hati, janda kembang, gampang dimadu, tingginya angka wanita lajang, yang diduga berakibat semakin berhamburan suami melunjak punya hobi bukan saja semata minta digaruk istri tetangga.

Alasan lain perempuan yang memilih hidup melajang, bagian dari fenomena: “Kalau kawin justru tambah bikin susah sebab wajib membuatkan suami kopi, menyediakan makan, dan pekerjaan rumah tangga lain, belum lagi berisiko makan hati, kenapa harus memilih menikah?” Meningkatnya angka perempuan men-jomblo sampai tua diduga produk buruk populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki (“low sex ratio”) seperti itu.

Sementara itu, buat sosok biologis laki-laki dan perangai rasa intimnya, masih juga beredar luas anggapan di kalangan laki-laki dewasa, “Kalau bisa beli sate, kenapa harus membeli seekor kambing?” Bukti lain bahwa ekstremnya keintiman lelaki tampaknya bisa berlangsung dengan siapa saja, asal cocok “key hole”-nya, dan dengan begitu istri diposisikan sebagai “mesin seks” atau dianggap tak ubahnya jajanan sate belaka.

Sayangnya, banyak suami tak mengerti kalau tidak setiap kali suami mau, istri kebetulan sedang mau. Dilematisnya pula lantaran faktanya keintiman suami senantiasa “on”, nyaris jarang “off”-nya, tak selalu bisa diimbangi oleh kenyataan bahwa istri tak selalu “on” kendati selalu bisa. Bila bahasa seks di antara suami-istri ternyata tak lancar, lagi-lagi pihak istri yang harus merasakan sendiri bahwa seks di ranjang suaminya ternyata bisa seperti tertindih balok.

Kultur “tukar kunci” antar pasangan suami-istri jetset yang mungkin sudah menembus sosok perkawinan mondial, diduga sebagai bentuk legitimasi pelampiasan rasa bosan laki-laki terhadap “menu sayur asam terus” dalam hidup perkawinan kaum Adam. Ini sisi lain keintiman orang modern ketika teknologi sudah merambah pernik kehidupan intim kamar tidur pribadi.

Pikiran centil suami juga yang bilang bahwa yang intim bukan cuma yang itu-itu saja lagi yang kemudian mengusik rasa keperempuanan teman tidurnya, rasa femininitas seorang istri, yang sering merasa dirinya “diperkosa” sebab lagi tak sedang mau suami masih tidak tahu diri tetap minta juga. Misal pula, kalau suami minta keintiman suami-istri sudi menjelajah sampai ke kolong-kolong sana.

Itu pula barangkali sebabnya banyak ulah suami yang menambah berisiko terserang borok kemaluan, tukak bibir, dan virus bandel bersarang di dubur, atau lidahnya. Selain itu beban hidup, stres dicari sendiri, yang kian menambah banyak suami di dunia yang menggali kuburnya sendiri.

Bahkan kuburan itu mungkin ada di atas perut perempuan yang bukan istrinya, yang boleh jadi tanpa diduga berlangsung di sebuah kamar hotel mewah. Keintiman bukan dengan perempuan biasa, amat laju menggenjot libido suami, bikin jantung menggebu lebih kencang dari seribu kuda, sekaligus menjadi cara tak etis suami mati prematur. Dan itu pula yang lalu berakibat istri menjanda bukan pada waktu yang tepat, selain meningkatkan angka anak yatim selagi masih membutuhkan tangan ayah.

Angka istri menjanda di dunia lalu semakin bergeser pada usia yang lebih muda karena angka suami mati prematur akibat jantung koroner atau stroke, oleh kultur dan pilihan gaya hidup, terus saja meningkat. Padahal, tanpa harus mati prematur pun umur laki-laki rata-rata 5 tahun lebih pendek dari umur perempuan (life expectancy).

Memang Lebih Mudah Peot

  • Jika mau direnungkan, dari mana pula istri tertular penyakit menular seksual kalau bukan dari suami yang nakal atau sudah mulai tidak loyal. Hanya satu-dua kasus saja yang berasal dari diri istri yang promiscuity, yang gampangan intim sama siapa saja.

Dan kalau penyakit yang sudah menulari istri itu belum ada obatnya, sehingga istri harus memikulnya seumur hidup, betapa terpuruknya nasib banyak istri di dunia. Belum pula jika infeksi virus yang ditularkan pada perempuan itu ternyata yang menjadi cikal bakal kanker (virus papiloma, misalnya).

Kita tahu, buat perempuan, hormon estrogen merupakan api kehidupan. Namun, api itu akan terus semakin meredup dengan bertambahnya umur. Fakta tak menguntungkan pula kalau pada umur yang sama rata-rata istri kelihatan condong lebih tua dari suami. Sementara laki-laki umumnya tampak semakin “bersantan” dengan bertambahnya usia.

Itu makanya ada yang berpikir, kalau dari sudut ini memang lebih elok dipertimbangkan mencari istri yang jauh lebih muda dari suami. Mengapa? Supaya bila diproyeksikan pada saat kawin perak nanti kelihatan masih sama-sama sumringah, tak jomplang yang satu masih kencang dan satunya peot amat.

Betul sulih hormon bisa mendongkrak penampilan perempuan tampak masih mengkilap pada usia sudah henti haid. Betul pula dengan cara yang sama laki-laki juga bisa dikatrol penampilannya, sehingga hidup keintiman maupun gempalnya sosok macho tetap masih bisa diraih. Namun, seberapa besar nyali orang modern berani terus bergantung pada ekstra hormon, belum lagi efek jelek radikal bebas dalam menu, udara, dan polusi kimiawi obat yang sama-sama berkomplot meningkatkan risiko bikin kanker, selain semakin menambah cepat tua umur sel-sel tubuh.

Kurang beruntungnya pula buat kebanyakan istri bahwa dibanding tubuh laki-laki, badan perempuan jauh lebih pelik menahan keausan umurnya. Ketika organ intim perempuan sudah mulai memerlukan pelumas, kendur di sana-sini, pihak suami sudah pada tahapan “perjuangan hidup”, yakni diperjuangkan dulu baru bisa hidup, dari sana konon “puber kedua” suami yang meresahkan istri itu umumnya bermula.

Bukan apa-apa. Dalam sindroma “puber kedua” konon suami merasa ingin sekadar uji coba membuktikan kalau dirinya masih bisa menempuh keintiman kelas “pandangan hidup” seperti masih pengantin baru dulu. Bahwa performance kemachoannya masih bisa tampil dengan kaliber “begitu memandang segera langsung hidup” yang hanya menjadi lebih mungkin kalau sedang bukan dengan istri sendiri.

Perlu Toleransi Suami

  • Kultur pula yang memilah bahwa secara biologis tugas besar perempuan menyelesaikan urusan rumah dan laki-laki mencari nafkah di luar rumah.

Namun, bila dihitung, tanpa disadari atau mau diakui suami, jumlah kalori yang dihabiskan istri untuk mengerjakan tugas keseharian rumah tangga yang nyaris tanpa jadwal itu, jauh lebih besar dari rata-rata tercurahnya keringat suami. Sayangnya yang seberat ini pun masih saja dianggap sebagai kewajiban yang sudah seharusnya.

Lalu, ketika istri merasa ikut partisipasi jadi wanita karier membangun rumah tangga “one couple, double income”, terasa ada yang tak adil menganga di sana.

Mestinya dianggap jamak kalau istri karier, boleh jadi tergolong superwoman, menuntut suami sudi membantu menyapu-mengepel, menggantikan popok anak, dan bikin kopi sendiri.

Namun, tak banyak suami bisa toleransi di pelataran ini. Di beberapa bagian dunia, sebagian suami, mungkin ingat hak asasi, kemudian rela mengembangkan diri menjadi “Mr. Mom”, sosok suami yang mau ikut menunaikan tugas sebagai mami juga (mommy).

Kelebihan Otak Perempuan

  • Lain dari itu, tak semua suami mudah memahami betapa efisiennya otak perempuan bekerja. Berbeda dengan kerja otak laki-laki, derap otak perempuan melibatkan kedua belahan otaknya.

Maka cuma laki-laki yang kalau kena stroke lebih berat penderitaannya dibanding perempuan. Sebab, sewaktu normal laki-laki cuma memakai sebelah otaknya. Otak kanannya tak terbiasa menggantikan tugas otak kirinya yang sudah rusak.

Perbedaan kerja otak perempuan juga yang membuatnya bijak, yang menyimpan dimensi indra keenam, yang mampu memahami apa-apa yang tidak diucapkan. Namun, kelebihan naluri otak perempuan semacam ini pun acap diabaikan suami dalam setiap pengambilan keputusan. Peran istri di mata suami tetap diposisikan nomor dua.

Banyak suami menyepelekan naluri otak istri untuk keputusan besar yang akan diambilnya. Kebiasaan suami-istri omong-omong sebelum tidur (pillow talk) mestinya dijadikan ajang untuk menggali naluri dalam otak istri, agar apa pun keputusan yang akan suami ambil (berbisnis, atau kehidupan) menjadi lebih arif. Namun, lebih banyak suami yang abai pada kelebihan yang tak pernah suami miliki itu.

Menghargai Peluh Istri

  • Suami yang menganggap enteng tugas perempuan menggendong kehamilan dan menempuh tugas melahirkan, bagian dari tidak diperhitungkannya beban alami seorang perempuan.

Itu maka dalam pergaulan perkawinan modern, seeloknya suami mau hadir selama istri menempuh saat-saat persalinannya yang harus diakui sungguh perih-pedih itu. Dengan demikian suami bisa lebih membangun empati terhadap tugas besar teman hidupnya yang tidak diminta, tapi sudah menjadi sebuah kodrat besarnya itu.

Kodrat perempuan juga yang menjadikannya bisa tabah menjalani hidup seorang diri. Perempuan lebih tahan menempuh pekerjaan dengan tingkat ketelatenan tinggi. Jaras saraf tubuh perempuan lebih dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan merawat, mengasuh, menjaga, dan tugas pendampingan. Mungkin itu pula sebabnya jiwa perempuan tidak segampang retak (fragile) jiwa laki-laki.

Laki-laki yang hidup melajang tercatat lebih tinggi risiko terserang penyakit mematikan, cenderung mati muda, dan hidupnya menjadi tak seimbang. Bukti lain bahwa peran perempuan di sisi laki-laki, yang jasanya sering tidak diperhitungkan besarnya itu, bukan semata buat urusan domestik, betapa vitalnya bagi kehidupan suami.

Namun, banyak sumbangsih istri di dunia tak diingat suami, alih-alih diberi tanda jasa. Peringatan “Mother’s Day” di dunia juga yang rasanya ingin mengenangkan itu semua, mengajak suami merenung, bahwa sungguh luhur peluh ibu, istri, dan kekasih hati, kendati mereka cuma bergelut di rumah.[]

Sumber: KOMPAS

One thought on “Orang Bilang Lebih Enak Jadi Perempuan

  1. dua-duanya (pria dan wanita) menurutku sama-sama enak karena sudah menjadi manusia yang merupakan ciptaan Allah SWT yang paling bagus dibanding makhluk-Nya yang lain. seharisnya pria-wanita itu bekerjasama dalam hal-hal yang bisa membawa manfaat bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s