Mendapatkan Bayi Normal di Setiap Kehamilan


KONSULTASI KESEHATAN oleh Dr I Putu G Kayika SpOG*

DARI berbagai peristiwa penting yang dialami perempuan, pengalaman hamil dan melahirkan adalah salah satu kondisi yang bisa membuat stres. Kondisi itu terutama disebabkan oleh ketidaknyamanan tubuh selama kehamilan dan kekhawatiran atas kenormalan bayi yang akan dilahirkan. Kini dengan pemahaman yang jauh lebih baik terhadap pentingnya perawatan perikonsepsi (peristiwa sekitar pembuahan antara sel telur dan sperma) serta tersedianya berbagai sarana untuk melakukan pemeriksaan penapisan maupun diagnosis pranatal, ibu hamil bisa lebih “pede” dan yakin akan ke-normalan-an bayinya.

Suplemen asam folat
Asam folat terutama diperlukan pada minggu-minggu pertama kehamilan. Sayuran segar berwarna hijau tua, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian, merupakan sumber utama asam folat. Meskipun banyak tersedia sumber asam folat alami, pola konsumsi makanan yang kurang sayur bisa membuat ibu hamil kekurangan zat ini dan berdampak pada sistem saraf pusat bayi.
Kekurangan suplementasi asam folat yang menyebabkan kelainan tabung saraf (neural tube defects) telah diketahui dari berbagai penelitian. Wanita yang pada kehamilan sebelumnya melahirkan bayi dengan kelainan ini, risikonya makin meningkat pada kehamilan berikutnya.
Pemberian pengobatan asam folat perikonsepsi dengan dosis 4 mg/hari dapat mengurangi risiko hingga 72%. Pemberian multivitamin yang mengandung asam folat meskipun dalam jumlah sedikit (0,8 mg) juga bermanfaat mengurangi risiko terjadinya kelainan tabung saraf, terutama pada wanita yang tidak pernah menderita kelainan ini sebelumnya.
Namun, pengaruh asam folat terhadap bibir sumbing dan kelainan jantung bawaan masih belum begitu jelas. Meskipun demikian, suplemen folat diketahui tidak membahayakan baik ibu ataupun janin. Pada kondisi di mana sering ditemukan kelainan dengan gangguan tabung saraf ini, wanita hamil diharuskan mengkonsumsi asam folat.

Rokok dan alkohol
Rokok dan alkohol telah diketahui dapat membahayakan janin dalam kandungan. Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat mengakibatkan keguguran, bayi cenderung lahir dengan berat rendah, prematur, cacat, maupun lahir mati.
Program-program antimerokok pada ibu hamil secara intensif melalui berbagai media dan petugas kesehatan telah berhasil mengurangi kebiasaan merokok hingga separuh, yang akhirnya berdampak pada berkurangnya bayi-bayi yang lahir dengan berat lahir rendah. Sebaiknya calon ibu berhenti merokok sebelum merencanakan untuk hamil, termasuk minta para suami berhenti merokok agar tidak terkena dampak merokok pasif.
Mewawancarai para peminum alkohol berat dan memberikan motivasi untuk menguranginya, juga bermanfaat untuk mengurangi konsumsi alkohol selama kehamilan. Data-data penelitian menunjukkan bahwa program antirokok dan minum alkohol seharusnya sudah dikerjakan sebelum pembuahan terjadi.

Obat dan zat berbahaya
Makanan atau apa saja yang masuk ke tubuh seorang ibu akan menemukan jalan ke janin yang sedang tumbuh dalam kandungan. Dengan demikian harus diperhatikan zat-zat kimia yang dapat mengancam dan menimbulkan masalah pada janin.
Jika calon ibu hamil melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan bahan kimia seperti timah, anestesi, radiasi, sinar x, semprotan antihama, zat pembersih, pewarna, cat, pernis, minyak tanah, lem, maka sebaiknya pekerjaan itu dihindari lebih dulu.
Mengkonsumsi obat-obatan yang bisa membahayakan kehamilan hendaknya juga dihentikan. Misalnya kafein, narkoba, maupun jamu-jamuan. Karena itu kalau mau minum obat hendaknya berkonsultasi dulu ke dokter. Semua ini dapat menimbulkan kecacatan pada janin.

“Skrining”
Beberapa tes penapisan (skrining) dan pemeriksaan diagnosis pranatal untuk mendeteksi kelainan janin kini telah tersedia. Sangatlah penting untuk membedakan pemeriksaan penapisan dengan pemeriksaan diagnostik karena ia dilakukan pada kelompok yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula.
Skrining medis merupakan upaya identifikasi pada individu yang tampak sehat namun berisiko terhadap kelainan penyakit tertentu. Penapisan untuk memastikan apakah diperlukan prosedur atau pemeriksaan diagnostik lebih lanjut, atau melakukan berbagai upaya pencegahan.
Tes skrining umumnya sederhana, tidak mahal dan aman, sementara tes diagnostik merupakan suatu tes yang sifatnya lebih khusus. Kadangkala, tes diagnostik bisa berisiko terhadap kehamilan.

Pemeriksaan USG
Pemeriksaan ini sering diterapkan untuk menapis kelainan janin. Biasa dilakukan pada usia kehamilan 18-20 minggu. Kemampuan deteksinya bervariasi antara 20-80 persen tergantung dari keterampilan pemeriksanya, pengalaman, dan resolusi alat USG yang digunakan.
Kelainan jantung janin adalah salah satu yang paling sering terlewatkan. Namun, dokter berpengalaman menggunakan USG dapat mendeteksi kelainan jantung utama hingga 86 persen dengan bantuan alat fetal ekokardiografi khusus pada ruang-ruang jantung, mengamati warna dan aliran darah di dalam jantung janin.
Dengan semakin majunya alat-alat ultrasonografi-termasuk USG tiga dimensi-serta semakin meluasnya penggunaan alat USG dari vagina, upaya skrining dan diagnostik dapat dilakukan dengan baik pada usia kehamilan 12-14 minggu.

Kelainan kromosom
Usia ibu adalah parameter yang paling sering digunakan untuk menapis sindroma Down. Semakin tua, risiko kelainan makin besar. Dengan parameter ini, hanya sekitar 30 persen sindroma Down pada kehamilan dapat dideteksi.
Kombinasi pemeriksaan usia ibu dengan berbagai variasi pemeriksaan petanda yang diambil dari serum darah pada trimester kedua seperti penanda human chorionik gonadotrofin (hCG), free-alfa hCG, free betha hCG, estradiol unkonyugasi, alfafetoprotein (AFP) dan inhibin A, dapat meningkatkan kemampuan deteksi kelainan 60-80 persen.
Skrining serum darah pada kehamilan trimester kedua paling banyak diterapkan untuk pemeriksaan ini di berbagai negara, meskipun kini dengan beberapa kombinasi pemeriksaan yang lebih baru seperti PAPP-A (pregnancy associated plasma protein). Dengan cara ini deteksi bisa ditingkatkan hingga 89 persen dan dapat dilakukan mulai trimester pertama kehamilan.
Penelitian-penelitian sitogenetika dari jaringan janin yang diperoleh melalui berbagai prosedur invasif seperti amniosentesis (mengambil contoh air ketuban), sampling villi chorionic (mengambil contoh dari ari-ari/ plasenta), atau kordosentesis (mengambil darah dari talipusat janin dalam kandungan) masih merupakan prosedur utama dalam melakukan diagnosis terhadap kelainan kromosom janin.
Pemeriksaan kariotipe perlu waktu 7-14 hari, dan bisa lebih lama lagi kalau pemeriksaan dengan USG menunjukkan tanda-tanda kelainan. Pemeriksaan lebih canggih dengan fluorescence based PCR atau fluorescence in situ hybridisation menggunakan kromosom spesifik probes bisa memberikan hasil yang lebih akurat dan lebih cepat dalam 1-2 hari. Meskipun demikian, teknik-teknik ini pun tidak selalu berhasil dan hanya mampu mendeteksi tipe aneuploidi tertentu dan translokasi.
Teknik pengambilan contoh jaringan janin dalam kandungan merupakan prosedur invasif (tindakan dengan melukai/memasukkan alat-alat ke dalam tubuh) dan sering dikaitkan dengan adanya risiko keguguran.
Amniosentesis umumnya dilakukan pada usia kandungan 15-20 minggu, sementara pengambilan contoh villi khorialis dilakukan pada 10-12 minggu kehamilan. Amniosentesis yang dilakukan pada usia 11-13 minggu berkaitan dengan tingginya kelainan talipes equinovarus (kaki pengkor) dan kematian janin dalam kandungan.
Karena besarnya risiko pada teknik diagnosis invasif, dilakukan upaya-upaya alternatif untuk mengisolasi sel-sel janin yang memasuki pembuluh darah ibu dengan mengambil dan memilahnya dari sirkulasi darah si ibu. Banyak riset-riset berupaya meneliti sel-sel dari janin dengan hanya mengambil contoh darah si ibu yang mengandungnya. Prosedur ini menghindari perlukaan pada janin dalam kandungan. Namun, kemampuannya mendeteksi kelainan belum bisa menggantikan teknik invasif.

Kelainan genetika
Kemajuan-kemajuan dalam biologi molekuler dan pemetaan genetika memungkinkan diagnosis pranatal yang lebih akurat terhadap kelainan genetika. Untuk ini dibutuhkan riwayat silsilah keluarga untuk mengenali risiko-risiko yang dapat diturunkan untuk keperluan penapisan, apalagi kalau penyakitnya cukup sering ditemukan pada populasi masyarakat tertentu (seperti kelainan darah thalasemia yang banyak ditemukan di Asia Tenggara).
Penapisan dan prosedur diagnostik yang ada memungkinkan diketahuinya kelainan yang diderita janin pada sebagian besar kasus. Wanita hamil dan memiliki janin dengan kelainan serius dapat mempertimbangkan terminasi atau melakukan pengobatan intrauterin (saat janin di dalam rahim).
Bagi pasangan-pasangan yang tak ingin melakukan terminasi, beberapa pusat penelitian telah memungkinkan melakukan diagosis praimplantasi, yakni mengetahui kelainan yang mungkin muncul sebelum terjadi penempelan/tertanamnya benih kehamilan di dalam rahim.[]

*Dr I Putu G Kayika SpOG, Dokter Spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan, Staf Pengajar Bagian Obstetri & Ginekologi FKUI-RSCM Jakarta

Iklan

2 thoughts on “Mendapatkan Bayi Normal di Setiap Kehamilan

  1. semua penjelasan nya udah bagus.lain kali bikin artikel tentang ibu hamil yang mengalami kematian janin dalam kandungan dan bagaimana caranya supaya bisa hamil kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s