Jika Si Kecil Terpaksa di Rumah Sendirian


SETIAP kali ditanya kabar anaknya yang terpaksa ditinggal di rumah sendirian, air mata Rini (38)-bukan nama sebenarnya-pasti merebak. Dia sebenarnya tidak tega meninggalkan putri semata wayangnya tinggal di rumah sendirian. Tetapi, keadaan menuntut Rini meninggalkan Mayang di rumah sejak Mayang masih berusia empat tahun.

DULU ADA di menjaga rumah. Tetapi, sakit-sakitan, akhirnya kakak pulang ke orangtua. Sementara mendapatkan pembantu rumah tangga yang bisa dipercaya. Saya juga tidak mungkin berhenti bekerja karena orangtua saya butuh biaya banyak untuk berobat,” jelas Rini.

Ditambahkan Rini, “Tidak ada satu orangtua pun yang tega meninggalkan anaknya yang masih kecil di rumah sendirian. Tetapi, bagaimana lagi, keadaan memaksa. Setiap kali berangkat, saya pasti menangis karena saya berangkat lebih dulu daripada Mayang. Dia berangkat ke sekolah dengan jemputan.”

Rini berani meninggalkan Mayang sendirian di rumah karena Mayang sudah mandiri dan mau ditinggal sendiri.

“Sejak sekolah play group, dia tidak mau diantar. Dia akan jalan sendiri ke sekolah dan marah kalau diantar. Dia juga sudah bisa makan dan mandi sendiri,” kata Rini yang sebelum berangkat sudah menyiapkan makanan dan pakaian buat dipakai Mayang sepulang sekolah. “Saya juga menyiapkan banyak buku bacaan agar dia punya kegiatan. Kebetulan Mayang lebih senang baca daripada menonton televisi.”

Setelah menyadari harus meninggalkan anaknya sendirian, Rini kemudian mengajari Mayang cara mengunci pintu. Dia juga meminta agar Mayang tidak membukakan pintu bagi tamu. Mayang juga dilarang untuk mengutak-utik kompor gas, alat-alat listrik, dan barang-barang berbahaya lain.

“Saya juga meninggalkan nomor telepon, baik nomor tetangga terdekat maupun nomor telepon saya di kantor. Dengan begitu, dia merasa aman, karena dia tahu bagaimana harus menghubungi saya jika ada sesuatu,” kata Rini.

Rini juga mengajar Mayang untuk mengenal waktu. Dia membelikan jam weker yang ada angkanya dan membuatkan jadwal. Dengan demikian, Mayang tahu kapan dia harus tidur siang, kapan harus bangun dan mandi, serta kapan harus belajar.

Namun, walau Mayang sudah mandiri, tetap saja dia masih anak-anak yang takut akan gelap. Ketika Rini terpaksa pulang pukul 19.00 karena lalu lintas macet sekali, dia menemukan Mayang menangis tersedu-sedu di kegelapan. Rupanya, Mayang ketakutan karena rumah gelap dan hari sudah malam.

“Saya memang melarang untuk mengutak-atik listrik. Dia juga tidak bisa menjangkau sakelar listrik untuk menyalakan lampu. Kami berdua menangis berpelukan,” kenang Rini.

Meninggalkan anak sendiri di rumah bisa terjadi pada setiap keluarga. Tidak hanya ditinggal dalam jangka waktu yang lama karena kedua orangtua harus bekerja, sementara tidak ada orang lain di rumah, bisa juga si ibu atau orang-orang yang biasa menjaga anak di rumah tiba-tiba harus keluar sebentar.

“Sebaiknya, jika memang si anak bisa dibawa, bawa saja anak itu pergi. Jangan ditinggal di rumah sendirian. Anak yang bisa ditinggal di rumah sendiri hanyalah anak yang sudah bisa mandiri,” kata Ratih Andjayani, psikolog Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Menurut Ratih, kemandirian anak tidak tergantung pada umur. Dia tidak akan datang sendiri. Kemandirian dibentuk dari pendidikan dan kebiasaan yang diterima anak dari orangtuanya. Jadi, kemandirian merupakan sebuah proses yang memerlukan waktu dan harus terus-menerus dilatih.

Ratih mengakui, seorang anak sering kali memiliki imajinasi yang menyeramkan seperti monster, setan, atau binatang. Namun, semua ketakutan seperti itu bisa dikurangi asalkan anak sudah dilatih untuk berani dan berpikir rasional.

“Misalnya, jika ada bunyi sesuatu yang aneh atau mencurigakan, jangan anak ditakut-takuti. Ajaklah anak mencari sumber bunyi. Dengan demikian, anak tahu macam-macam bunyi. Dia jadi tidak cepat takut jika mendengar bunyi yang belum pernah didengarnya,” kata Ratih.

Meninggalkan anak sendiri di rumah ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya, anak menjadi semakin cepat mandiri dan bertanggung jawab. Dia bisa mengetahui apa yang dibutuhkannya dan bagaimana memenuhinya.

Yang paling jelas, anak menjadi cepat mandiri dibandingkan dengan anak yang terus- menerus dibantu. Anak-anak yang biasa ditinggal orangtua menjadi terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri dan belajar mencari kesibukan sendiri. Ditambah lagi mereka menjadi terbiasa memegang tanggung jawab.

Sementara kekurangannya, keamanan anak menjadi taruhan.

SEBELUM meninggalkan anak sendiri di rumah, sebaiknya orangtua melakukan persiapan khusus. Misalnya, menyediakan makanan yang cukup selama anak ditinggal sendiri. Baju ganti setelah pulang sekolah juga disiapkan agar tidak perlu lagi mencari-cari di lemari. Tinggalkan juga nomor-nomor telepon yang bisa dihubungi jika anak merasa membutuhkan bantuan.

Selama anak ditinggalkan, orangtua sebaiknya sudah dipersiapkan sejumlah kegiatan konstruktif agar anak terus menyibukkan diri sehingga dia tidak merasa sepi.

Jika anak senang membaca, bisa disediakan berbagai macam bacaan atau majalah baru yang belum pernah dibaca anak. “Jangan memilih cerita yang seram dan tegang karena suasana di rumah sedang sepi. Nanti anak justru ketakutan,” pesan Ratih.

Jika anak sudah cukup besar, dia bisa memainkan mainan kesayangannya seperti PlayStation atau komputer. Asalkan mainan itu sudah tersambung ke listrik, anak tinggal memencet tombol saja. Sementara jika anaknya masih berusia 4-7 tahun, dia bisa melakukan permainan seperti lilin atau mewarnai.

“Jika tidak ada lilin, orangtua bisa membuat sendiri dari tepung terigu yang dicampur sedikit minyak, air, dan pewarna yang tidak berbahaya,” kata Ratih. Terigu itu kemudian diuleni hingga liat sampai bisa dibentuk. Kemudian, terigu itu disimpan di lemari es biar tidak cepat basi.

Orangtua juga bisa menyiapkan lem yang terbuat dari tepung kanji yang sudah dicampur dengan cat poster. Lem ini bisa dipakai sebagai cat. Alas gambarnya bisa memakai kertas kalender yang sudah tidak terpakai.

“Rumah memang akan jadi kotor, tetapi anak menemukan keasyikan sehingga dia lupa kalau dia sendirian di rumah,” ujar Ratih.

Tidak ada salahnya apabila anak diminta melakukan pekerjaan seperti mencuci piring atau membereskan meja belajarnya. Katakan, mumpung dia sendiri, dia bisa mengatur barang-barangnya tanpa ada gangguan.

Jika anak mempunyai kegiatan lain sepulang sekolah seperti kursus, ada baiknya orangtua sudah mencari orang yang bisa menjemput. Misalnya, meminta tolong teman kursus untuk menjemput, atau tukang ojek langganan, atau khusus hari itu anak tidak kursus dulu.

“Waktu itu akhirnya saya memutuskan untuk mengubah jadwal kursus renang Mayang ke hari Minggu. Saya benar-benar khawatir dia pergi sendiri,” kata Rini.

Masalah keselamatan merupakan prioritas. Oleh karena itu, jika urusan di luar sudah selesai, segeralah pulang agar anak tidak terlalu lama sendirian di rumah. (ARN)

Copyright © 2002 PT. Kompas Cyber Media

Hangtuah Digital Library: Minggu, 17 Agustus 2003, 10:31 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s