Menyekolahkan Anak Cerdas sebelum Waktunya


Oleh: Dra Shinto B Adelar MSc

Ibu Shinto Yth,

Anak saya perempuan saat ini duduk di taman kanak-kanak (TK) B. Kelihatannya perkembangannya lebih cepat daripada anak-anak yang lain. Kini, ia sudah lancar membaca meskipun tidak saya ajari secara khusus.

Sebenarnya ia sudah mulai bisa membaca sendiri sejak berusia sekitar 4 empat tahunan. Memang ia saya beri cukup banyak bacaan anak-anak, tetapi sekarang ia sudah mulai membaca sendiri majalah anak-anak yang saya belikan, dan sudah lancar. Cara membacanya sepertinya sudah tidak dieja lagi.

Saya ingin tahu, apakah pelajaran di TK nantinya tidak membosankan untuk dia? Saya khawatir ia bosan dengan kegiatan seperti menggambar, berhitung yang mudah-mudah, melipat-lipat kertas, dan menyanyi seperti yang biasa dilakukan di TK. Apakah tidak sebaiknya ia saya masukkan ke sekolah dasar (SD) saja karena ia sudah lancar membaca, sudah cukup lancar berhitung sampai lima puluhan. Bukan hanya menyebut saja, tetapi sudah bisa tambah-tambahan dan kurang-kurangan.

Di sisi lain, saya ragu juga apakah kalau ia saya masukkan ke SD sekarang nantinya kegiatan di SD akan terasa berat buat dia. Apalagi di SD biasanya para guru sudah banyak memberi PR. Mohon saran mengenai hal yang sebaiknya saya lakukan.

Wartini, Bandung

Ibu Wartini Yth,

Saya ikut bersyukur karena tampaknya Ibu dikaruniai putri yang cerdas. Kemampuan kognitifnya tampaknya berkembang jauh di atas rata-rata anak seusianya. Anak-anak yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, apabila diberi stimulasi yang cukup biasanya memiliki rasa ingin tahu besar yang kemudian mendorongnya untuk mempelajari berbagai keterampilan secara mandiri.

Putri Ibu saat ini sudah lancar membaca dan cukup terampil berhitung. Apakah dengan modal potensi yang baik tersebut ia sudah siap untuk mengikuti pendidikan di SD?

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk memprakirakan, apakah seorang anak cukup mampu untuk mulai mengikuti pendidikan di SD yaitu antara lain sebagai berikut.

· Kecerdasan yang memadai, minimal memiliki inteligensi rata-rata.

· Perkembangan kemampuan persepsi visualnya cukup menunjang untuk mengenali perbedaan bentuk huruf atau angka-angka.

· Perkembangan koordinasi motorik harusnya sudah cukup memadai untuk belajar menulis.

· Menunjukkan minat yang besar untuk belajar dan mencoba hal yang baru.

· Mampu mempertahankan perhatian atau berkonsentrasi dalam jangka waktu minimal 20 menit terus-menerus.

· Memiliki sikap kerja yang baik, yaitu mau mengikuti instruksi, tidak mudah kecil hati atau patah semangat, apabila menjumpai kesulitan. Berani mencoba dan tidak takut salah dalam belajar, terdorong untuk menyelesaikan tugas sampai tuntas.

· Memiliki kemandirian yang cukup memadai, antara lain merasa aman dan cukup percaya diri tanpa kehadiran orangtua, tidak membutuhkan perhatian berlebihan dari orang lain.

· Memiliki kematangan emosi yang memadai, antara lain mampu menunda atau mengendalikan keinginan yang muncul pada suatu saat, menunjukkan reaksi emosi yang sesuai dengan usianya, mampu mengatasi emosi negatif yang dapat muncul dalam interaksi dengan teman mau pun guru di sekolah.

· Memiliki keterampilan bergaul dan cukup memiliki fleksibilitas dalam menghadapi perubahan atau hal-hal baru.

Nah, Ibu Wartini, Anda dapat mengamati sendiri apakah hal-hal tersebut sudah tampak pada diri putri Ibu. Keberhasilan mengikuti pendidikan di sekolah tidak semata-mata bergantung pada aspek inteligensi, namun juga aspek kematangan emosi dan keterampilan sosial seseorang.

Kekeliruan yang selama ini terjadi, bahwa banyak orang terlalu memfokuskan perhatian pada kemampuan intelektual dan kurang mengasah aspek emosi dan sosial anak. Idealnya, kemampuan intelektual anak berkembang dengan baik sesuai potensinya, namun aspek kepribadiannya yang lain seperti emosi dan kemampuan sosial juga perlu dikembangkan.

Apabila ibu khawatir bahwa putrid ibu akan bosan di TK, sebaiknya Ibu cermati dulu kegiatan apa saja yang dilakukan di TK-nya. Apakah cukup bervariasi, apakah cukup memberi tantangan atau memicu rasa ingin tahunya, apakah cukup positif bagi perkembangan kemampuannya untuk berinisiatif, apakah cukup menunjang pengembangan rasa percaya dirinya?

Kalau kita mau mencermati dengan paradigma inteligensi jamak, apakah kegiatan di TK tersebut cukup merangsang perkembangan rasa keindahan, kelenturan dan kecekatan fisik, kecerdasan musikal, logika maupun daya nalar, pemahaman spasial (keruangan), kemampuan interaksi sosial mau pun kemampuan mengatasi emosi di dalam diri sendiri.

Untuk mencegah, agar anak tidak jenuh atau bosan, sebenarnya orangtua dapat memberi pengayaan. Berikanlah cukup variasi kegiatan atau bahan-bahan yang dapat merangsang berbagai macam kecerdasan yang mungkin dimilikinya.

Interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa lain di TK termasuk kesempatan yang baik untuk mematangkan aspek kepribadian yang lain, selain berhitung, membaca, dan menulis. Termasuk kemampuan memecahkan masalah dalam interaksi dengan teman, kemampuan bergaul, mengasah empati atau kepedulian kepada orang lain dan bekerja sama dalam suasana bermain yang tidak terlalu memfokus pada prestasi.

Ibu juga perlu ingat bahwa masa-masa di TK dan SD sebenarnya adalah masa perkembangan yang penting. Di masa-masa itu sebaiknya perhatian kita tidak hanya tertuju pada hasil atau yang sudah berhasil dikuasai oleh si anak, tetapi juga perlu memperhatikan proses, cara dan suasana belajar, sehingga di kemudian hari anak akan senang belajar, bukan merasa terbebani oleh kegiatan belajar.

Memang membanggakan, bila anak kita memiliki kemampuan yang jauh lebih berkembang daripada anak-anak lain. Namun demikian, menurut saya kita juga perlu ingat untuk tetap memberi kesempatan bagi anak-anak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Tuntutan untuk segera beralih dari sikap bermain menuju sikap kerja yang serius dapat mengurangi kesenangan anak, atau bahkan membebani anak.

Cukup banyak kasus menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang di masa dewasa tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya, namun kecerdasan emosional dan keterampilan sosial cukup banyak berpengaruh dalam membuka peluang untuk pengembangan dirinya.

Cukup banyak anak yang pernah mengalami “loncat kelas” karena prestasi sekolahnya menonjol, tetapi di masa selanjutnya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan anak-anak lain yang mengikuti pendidikan dengan tempo belajar yang normal (tidak loncat-loncat kelas atau dipercepat).

Ibu Wartini, perlu juga diingat bahwa anak-anak yang masuk SD terlalu dini kemungkinan akan mengalami penyesuaian diri yang cukup berat. Ia sudah harus mulai bersaing dengan anak-anak lain yang usianya lebih tua, padahal kalau ditinjau dari aspek perkembangan psikososial, anak-anak seusia TK masih perlu memantapkan kemampuan berinisiatif dan mengembangkan rasa percaya dirinya.

Bila sudah ada landasan yang cukup kuat dalam hal tersebut, anak-anak pun akan lebih mudah mengembangkan kompetensi dan memupuk rasa berhasil dalam dirinya. Bayangkan, bagaimanakah kemampuan putri ibu dibanding dengan anak-anak lain yang lebih tua dan nanti akan menjadi teman atau pesaing putri ibu di SD?

Anak-anak berusia lebih tua itu nantinya akan menjadi tolok ukur atau pun model bagi putri ibu dalam berbagai hal, bukan hanya prestasi akademis. Keberhasilan atau kegagalannya akan dinilai relatif terhadap teman-teman yang usianya lebih tua, yang tentunya ada juga yang tingkat kecerdasan intelektualnya setara atau bahkan lebih tinggi daripada putri ibu.

Sebagai akhir kata, terpulang kepada Ibu Wartini juga, akan Ibu masukkan dalam lingkungan yang bagaimanakah putri ibu itu. Apakah Ibu akan memanfaatkan masa bermainnya untuk mematangkan berbagai segi kepribadian atau kecerdasan yang lain, atau Ibu hanya ingin agar ia menonjol dalam prestasi akademis.

Jangan lupa, anak-anak akan menunjukkan prestasi yang optimal apabila suasana belajar atau bertugas dirasakan menyenangkan dan memberi tantangan, bukan membebani. Apabila kegiatan di TK putri Ibu sekarang kurang bervariasi atau kurang menantang untuk perkembangan kecerdasannya, Ibu dapat memberi pengayaan dalam berbagai bidang kehidupan atau mencari TK lain yang memberi peluang lebih luas untuk mengembangkan kepribadian putri ibu secara lebih seutuhnya, bukan hanya “calistung” (membaca, menulis, berhitung).

Sabar-sabarlah ibu, pengalaman menunjukkan bahwa selalu ada sisi negatif dari segala sesuatu yang menjadi matang secara tidak alamiah. Buah-buahan yang matang di pohon kebanyakan lebih nikmat daripada yang matang diperam.

Di masa-masa orang-orang ingin mempertahankan kebeliaan mereka, mengapa ingin mendorong anak menjadi “tua” sebelum waktunya? Tabunglah waktu setahun di masa kanak-kanak untuk menuai hasil yang lebih matang di masa dewasa, apalagi kini orang cenderung tidak akan pernah berhenti belajar seumur hidup. Jadi, sebaiknya manfaatkanlah masa bermain, masa kanak-kanak yang ceria tanpa beban, selagi masih bisa. Masa-masa indah itu dikhawatirkan akan menghilang ketika anak-anak mulai menginjakkan kaki mungil mereka di SD.

Suara Pembaruan Daily 28/8/03

Hangtuah Digital Library

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s