Mengupayakan Balita Bebas “Xerofthalmia”


INDONESIA pernah disebut sebagai “home of xeropthalmia” tahun 1960-an karena prevalensinya pada anak balita cukup tinggi. Upaya intervensi dengan pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan balita berhasil menekan prevalensi xeroftalmia. Namun, upaya perlu diintensifkan untuk memastikan tak ada ancaman kebutaan pada balita. Masalah xeroftalmia ini dibahas dalam peluncuran buku Deteksi Dini Xeroftalmia, pekan lalu.

Xeroftalmia atau mata kering adalah kelainan mata akibat kurang vitamin A sebagai lanjutan dari buta senja. Dalam hal ini terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata.

Kekeringan berlarut-larut menyebabkan konjungtiva menebal, berlipat-lipat, dan berkerut. Pada konjungtiva tampak bercak putih seperti busa sabun (bercak Bitot). Selanjutnya, kornea akan melunak dan terjadi luka (tukak kornea). Jika kornea telah putih atau bola mata mengempis terjadi kebutaan permanen yang tak bisa dipulihkan lagi.

Menurut Prof Dr Muhilal dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor, penelitian Ten Doesschate tahun 1965-1966 pada 1574 anak laki-laki di bawah usia delapan tahun yang datang ke Rumah Sakit Undaan Surabaya, 497 anak (31,6 persen) di antaranya menderita xeroftalmia. Penelitian KL Oey tahun 1964-1965 di lima desa di Kabupaten Semarang menyebut prevalensi xeroftalmia 1,4-7,3 persen.

Survei nasional pertama tentang masalah gangguan akibat kurang vitamin A (GAKVA) tahun 1978-1980 mendapatkan prevalensi xeroftalmia 1,2 persen dan tukak kornea (keratomalacia) 0,098 persen. Angka itu jauh di atas batas prevalensi yang dikategorikan masalah kesehatan masyarakat, yaitu xeroftalmia lebih dari 0,5 persen dan tukak kornea 0,01 persen.

Setelah diintervensi dengan pemberian vitamin A dosis tinggi (200.000 IU tiap enam bulan) pada balita, tahun 1992 15 provinsi dengan masalah GAKVA disurvei ulang. Hasilnya prevalensi xeroftalmia tinggal 0,33 persen dan prevalensi tukak kornea turun drastis menjadi 0,005 persen sehingga Pemerintah Indonesia menerima trofi Helen Keller.

“Namun, lebih dari 40 persen (10 juta) anak balita serum vitamin A-nya masih di bawah 20 mikrogram per desiliter. Bila asupan vitamin A kurang atau distribusi vitamin A dosis tinggi kurang mencapai sasaran akan timbul masalah GAKVA lagi,” ujar Muhilal.

Menurut Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan dr Rachmi Untoro MPH, kurang vitamin A masih menjadi salah satu masalah gizi Indonesia, di samping gizi kurang/buruk/bayi lahir berat badan rendah, gangguan akibat kurang yodium (GAKY) serta anemia gizi ibu hamil. Sasaran program perbaikan gizi, tahun 2005 Indonesia bebas xeroftalmia.

Kelompok rentan, antara lain anak keluarga miskin, anak di pengungsian, anak di daerah yang pangan sumber vitamin A-nya kurang atau ada pantangan makanan sumber vitamin A, anak kurang gizi atau lahir dengan berat badan rendah, anak yang sering menderita penyakit infeksi (campak, diare, tuberkulosis, pneumonia) serta cacingan, anak yang tidak mendapat imunisasi serta kapsul vitamin A dosis tinggi.

Menurut Muhilal, vitamin A terdapat dalam bentuk preformed vitamine A (retinol) pada makanan hewani dan provitamin A (karoten) pada makanan nabati (sayuran hijau dan buah berwarna kuning). Selain menjamin kesehatan mata kecukupan vitamin A meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mencegah anak dari kesakitan serta kematian.

Untuk meningkatkan keberhasilan program suplementasi vitamin A (kapsul biru untuk bayi berusia enam sampai 11 bulan dan kapsul merah untuk balita berusia 12-59 bulan) Departemen Kesehatan menyusun buku pegangan bagi tenaga kesehatan bersama Helen Keller Indonesia. (ATK)

Copyright © 2002 PT. Kompas Cyber Media Kamis, 26 Juni 2003, 9:41 WIB

Hangtuah Digital Library

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s