<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bibi Lung &#187; kisah</title>
	<atom:link href="http://bibilung.wordpress.com/category/kisah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bibilung.wordpress.com</link>
	<description>berada dalam sebuah kebesaran, hidup terasa kecil</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Nov 2009 06:27:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bibilung.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/789d1556c63284d1957a881ca524cd4e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bibi Lung &#187; kisah</title>
		<link>http://bibilung.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bibilung.wordpress.com/osd.xml" title="Bibi Lung" />
		<item>
		<title>Ketika Mas Gagah Pergi</title>
		<link>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/15/ketika-mas-gagah-pergi/</link>
		<comments>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/15/ketika-mas-gagah-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 02:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bibilung</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bibilung.wordpress.com/2007/07/15/ketika-mas-gagah-pergi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Helvi Tyana Rosa
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bibilung.wordpress.com&blog=1358460&post=36&subd=bibilung&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Oleh : Helvi Tyana Rosa</em></p>
<p>Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!</p>
<p>Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak <span class="caps">SMA</span>.</p>
<p>Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku. <span id="more-36"></span></p>
<p>Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.</p>
<p>Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.</p>
<p>&#8220;Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?&#8221;</p>
<p>Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.</p>
<p>Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?</p>
<p>&#8220;Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…&#8221;Kata Mas Gagah pura-pura serius.</p>
<p>Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!</p>
<p>Itulah Mas Gagah!</p>
<p>Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…</p>
<p>&#8220;Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!&#8221; teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!</p>
<p>&#8220;Assalaamu’alaikum!&#8221;seruku.</p>
<p>Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.</p>
<p>&#8220;Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Matiin kasetnya!&#8221;kataku sewot.</p>
<p>&#8220;Lho memangnya kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!&#8221; aku cemberut.</p>
<p>&#8220;Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bodo!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,&#8221; kata Mas Gagah sabar. &#8220;Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokoknya kedengaran!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!&#8221; Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.</p>
<p>Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung <span class="hilite">islami</span>. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!&#8221; begitu kata Mas Gagah.</p>
<p>Oala.</p>
<p>Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua <span class="caps">SMA</span>, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.</p>
<p>Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya &#8220;Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!&#8221;</p>
<p>Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!</p>
<p>Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.</p>
<p>&#8220;Penampilanmu kok sekarang lain Gah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lain gimana Ma?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…&#8221;</p>
<p>Mas Gagah cuma senyum. &#8220;Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.&#8221;</p>
<p>Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. &#8220;Jadi mirip Pak Gino.&#8221; Komentarku menyamakannya dengan supir kami. &#8220;Untung aja masih lebih ganteng.&#8221;</p>
<p>Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.</p>
<p>Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?&#8221; tegurku suatu hari. &#8220;Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,&#8221; dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. &#8220;Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!&#8221;</p>
<p>Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?&#8221;</p>
<p>Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.&#8221;Baca!&#8221;</p>
<p>Kubaca keras-keras. &#8220;Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.&#8221;</p>
<p>Mas Gagah tersenyum.</p>
<p>&#8220;Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,&#8221; kataku.</p>
<p>&#8220;Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?&#8221; Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. &#8220;Coba untuk mengerti ya dik manis?&#8221;</p>
<p>Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.</p>
<p>Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.</p>
<p>&#8220;Mau kemana Gita?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nonton sama temen-temen.&#8221; Kataku sambil mengenakan sepatu.&#8221;Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ikut Mas aja yuk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!&#8221;</p>
<p>Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.</p>
<p>&#8220;Assalamualaikum!&#8221; terdengar suara beberapa lelaki.<br />
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.</p>
<p>&#8220;Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?&#8221;tanyaku iseng.</p>
<p>Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.<br />
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. &#8220;Ssssttt.&#8221;</p>
<p>Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!</p>
<p>&#8220;Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!&#8221; Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.</p>
<p>&#8220;Ikhwan?’ ulangku. &#8220;Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?&#8221; Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.</p>
<p>&#8220;Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita.&#8221; Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. &#8220;Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.&#8221;</p>
<p>Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.</p>
<p>&#8220;Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham.&#8221;</p>
<p>Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.</p>
<p>&#8220;Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, &#8221; ujar Tika tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…&#8221; kataku jujur. &#8220;Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…&#8221;</p>
<p>Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin.&#8221; Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.</p>
<p>&#8220;Mbak Ana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.</p>
<p>&#8220;Hidayah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!&#8221;</p>
<p>&#8220;Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!&#8221; tegurku ramah.</p>
<p>‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!&#8221; Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.</p>
<p>&#8220;Dari rumah Tika, teman sekolah, &#8220;jawabku pendek. &#8220;Lagi ngapain, Mas?&#8221;tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…</p>
<p>&#8220;Cuma lagi baca!&#8221;</p>
<p>&#8220;Buku apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tumben kamu pingin tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?&#8221;desakku.</p>
<p>&#8220;Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.<br />
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. &#8220;Nih!&#8221;serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.</p>
<p>&#8220;Naah yaaaa!&#8221;aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku &#8220;Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam&#8221; itu.</p>
<p>&#8220;Maaas…&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa Dik Manis?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gita akhwat bukan sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…&#8221; tanyaku manja.</p>
<p>Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.</p>
<p>Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Mas kok nangis?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit.&#8221;</p>
<p>Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…</p>
<p>&#8220;Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?&#8221; Tanya Mas Gagah tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Gita capek marahan sama Mas Gagah!&#8221; ujarku sekenanya.</p>
<p>&#8220;Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tenang aja. Gita ngerti kok!&#8221; kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.</p>
<p>Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.</p>
<p>Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.</p>
<p>&#8220;Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?&#8221; tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, &#8220;Iya deh, iya!&#8221;</p>
<p>Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus <span class="hilite">Islami</span> dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.<br />
Aku nyengir kuda.</p>
<p>Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.<br />
&#8220;Nyoba pakai jilbab. Git!&#8221; pinta Mas Gagah suatu ketika.<br />
&#8220;Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.</p>
<p>Mas Gagah tersenyum. &#8220;Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama.&#8221;</p>
<p>Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.</p>
<p>&#8220;Gita mau tapi nggak sekarang,&#8221; kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.</p>
<p>&#8220;Itu bukan halangan.&#8221; Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.<br />
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.</p>
<p>&#8220;Ini hidayah, Gita.&#8221; Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.</p>
<p>&#8220;Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.</p>
<p>&#8220;Lho! &#8221; Mas Gagah bengong.</p>
<p>Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan <span class="caps">FTUI</span> untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, &#8220;Hei itu kan Mas Gagah-ku!&#8221;</p>
<p>Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, &#8220;Lho Mas Gagah kok bisa sih?&#8221; Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.</p>
<p>Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. &#8220;Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, &#8221; kata Mas Gagah.<br />
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.</p>
<p>Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.</p>
<p>Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.<br />
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.</p>
<p>&#8220;Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.</p>
<p>&#8220;Mas Gagah belum pulang. &#8220;kata Mama.</p>
<p>&#8220;Yaaaaa, kemana sih, Ma??&#8221; keluhku.</p>
<p>&#8220;Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. &#8220;</p>
<p>&#8220;Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini.&#8221; Hibur Mama menepis gelisahku.</p>
<p>Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.</p>
<p>&#8220;Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!&#8221; Mama tertawa.<br />
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.</p>
<p>Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.</p>
<p>&#8220;Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh..&#8221; hibur Mama lagi.</p>
<p>Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.</p>
<p>&#8220;Nginap barangkali, Ma.&#8221; Duga Papa.</p>
<p>Mama menggeleng. &#8220;Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa.&#8221;</p>
<p>Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.</p>
<p>&#8220;Kriiiinggg!&#8221; telpon berdering.</p>
<p>Papa mengangkat telpon,&#8221;Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa, Pa.&#8221; Tanya Mama cemas.</p>
<p>&#8220;Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…&#8221; suara Papa lemah.</p>
<p>&#8220;Mas Gagaaaaahhhh<img src="http://islam.blogsome.com/category/cerpen-islami/%21" border="0" />&#8221; Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.<br />
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.</p>
<p>Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.<br />
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.</p>
<p>&#8221; Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini.&#8221; Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.</p>
<p>Mama dengan lebih tenang merangkulku. &#8220;Sabar sayang, sabar.&#8221;</p>
<p>Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.</p>
<p>&#8220;Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?&#8221; tanyaku. &#8220;Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?&#8221; Air mataku terus mengalir.</p>
<p>Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.</p>
<p>&#8220;Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…&#8221; bisikku.</p>
<p>Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang <span class="caps">ICU</span> kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga.&#8221;</p>
<p>Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. &#8220;Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi..&#8221;</p>
<p>&#8220;Gita…&#8221; suaraku serak menahan tangis.</p>
<p>Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah.&#8221; Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.</p>
<p>&#8220;Mas…ini Gita Mas..&#8221; sapaku berbisik.</p>
<p>Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.<br />
Kudekatkan wajahku kepadanya. &#8220;Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.&#8221;</p>
<p>Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.</p>
<p>&#8220;Dzikir…Mas.&#8221; Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.</p>
<p>&#8220;Gi..ta…&#8221;<br />
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.</p>
<p>&#8220;Gita di sini, Mas…&#8221;<br />
Perlahan kelopak matanya terbuka.</p>
<p>&#8220;Aku tersenyum.&#8221;Gita…udah pakai…jilbab…&#8221; kutahan isakku.<br />
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.</p>
<p>&#8220;Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…&#8221; ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.</p>
<p>Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang <span class="caps">ICU</span> memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.</p>
<p>Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.</p>
<p>Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. &#8220;Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas,&#8221; kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.</p>
<p>&#8220;Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.</p>
<p>Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.</p>
<p>Epilog:</p>
<p>Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.</p>
<p>Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.</p>
<p>Setitik air mataku jatuh lagi.</p>
<p>&#8220;Mas, Gita akhwat bukan sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, insya Allah akhwat!&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang bener?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, dik manis!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kok nanya gitu sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ganteng kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?&#8221; Jihad itu apa sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya always dong, jihad itu…&#8221;</p>
<p>Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!</p>
<p>Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,<br />
Dan jadilah muslimah sejati<br />
Agar Allah selalu besertamu.<br />
Sun sayang,<br />
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!</p>
<p><a href="http://islam.blogsome.com/2006/10/07/ketika-mas-gagah-pergi/" target="_blank">Diambil dari sini</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bibilung.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bibilung.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bibilung.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bibilung.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bibilung.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bibilung.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bibilung.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bibilung.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bibilung.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bibilung.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bibilung.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bibilung.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bibilung.wordpress.com&blog=1358460&post=36&subd=bibilung&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/15/ketika-mas-gagah-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13617218932abf295513f8ff322506ef?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bibilung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islam.blogsome.com/category/cerpen-islami/%21" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Annisa</title>
		<link>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/annisa/</link>
		<comments>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/annisa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 03:44:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bibilung</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/annisa/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Mas, tolong embernya&#8221;
&#8220;Panci besarnya juga &#8230;&#8221;
&#8220;Bawain kain pel sekalian Mas&#8230;&#8221; teriak istriku dari ruang tengah.
 
Hujan di tengah malam ini membuat kami jadi kalang kabut, pas enak-enak tidur, eh ternyata bocor di mana-mana, yang paling menjengkelkan bocornya tepat di atas tempat tidur, kasur pada basah semua, jadinya tidur pun terasa nggak nyaman. Yah beginilah keadaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bibilung.wordpress.com&blog=1358460&post=14&subd=bibilung&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Mas, tolong embernya&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Panci besarnya juga &#8230;&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Bawain kain pel sekalian Mas&#8230;&#8221; teriak istriku dari ruang tengah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Hujan di tengah malam ini membuat kami jadi kalang kabut, pas enak-enak tidur, eh ternyata bocor di mana-mana, yang paling menjengkelkan bocornya tepat di atas tempat tidur, kasur pada basah semua, jadinya tidur pun terasa nggak nyaman. Yah beginilah keadaan kontrakan kami, rumah sederhana yang baru kami kontrak. Keadaannya cukup memprihatinkan juga sebenarnya. Tapi apa daya, hanya ini yang bisa kuusahakan, gajiku sebagai pekerja serabutan membuatku untuk hidup sehemat mungkin. </span><span id="more-14"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Selama empat bulan pernikahan kami, Alhamdulillah telah membuatku benar-benar merasakan kebahagiaan. Aku benar-benar terprovokasi oleh buku “Kupinang Engkau dengan Hamdallah” buku pertama dari trilogi karya Ustad Fauzil Adhim yang direferensikan temenku. Pokoknya setelah baca buku itu, rasanya pengen banget nikah, abis isinya tentang indahnya pernikahan, bayangin aja, bercumbu, bermesraan kayak meremas tangan istri adalah berpahala, merontokkan dosa-dosa, gimana nggak kepengin, dan banyak hal lainnya, padahal waktu itu bisa dikatakan aku masih belum siap lahir batin, harta cuma sekedarnya, kesiapan batin juga perlu dipertanyakan, pokoknya aku ingin nikah secepatnya, menyempurnakan agama, mencari teman sejati buat menemani perjuangan suci, cieeee. (Brothers banget!)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Alhamdulillah doaku terkabul, Istriku Annisa adalah istri yang baik, kesederhanaanya, kesabarannya membuatku kagum, dia mau menerima keadaan yang serba pas-pasan ini. Namun yang paling penting adalah kesholehannya. Ibadahnya benar-benar perlu aku kasih jempol, beruntung aku bisa mendapatkannya padahal aku masih tergolong awam terhadap agama. Istriku telah membimbingku untuk lebih dekat kepadaNya, menuntunku dij alan petunjukNya, menghiburku dikala sedang susah. Pokoknya dia tuh istri pilihan yang telah mengeluarkanku dari kegelapan kepada cahaya, <em>minazh zhulumaati ilannuur</em>, jarang ada akhwat seperti Annisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“He he he, lucu yah Nisa kalo lagi bingung, apalagi pas teriak-teriak tadi, lihat aja muka Nisa jadi merah, tapi tambah manis kok” candaku padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yeeee, emangnya gula, manis, nih kain pelnya, taruh di belakang aja”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Otree bos”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tak berapa lama, akupun kembali keruang tengah menemui istriku. Tampak istriku yang duduk kelelahan di karpet, tampaknya hawa dingin dari hujan ini membuatnya menggigil kedinginan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Dingin yah, sini biar Mas dekap” kemudian ditenggelamkan kepalanya ke dadaku, kudekap erat-erat untuk mengusir hawa dingin yang menyelimuti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Badan Nisa panas, demam yah ” kutempelkan tanganku ke keningnya, tubuhnya terasa panas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak kok Mas, cuma capek aja, ngantuk lagi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Bener nggak apa apa, Mas cariin obat yah”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak usah Mas, malam-malam kayak gini mana ada toko yang buka, apalagi hujan, entar Mas sendiri yang sakit”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya udah kalo gitu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sesaat keadaan jadi hening, aku jadi kasian sama istriku, dia tentu belum biasa hidup seperti ini, yang selalu dibayangi dengan himpitan ekonomi, fasilitas rumah tangga yang sederhana, makanan seadanya, bener-bener perjuangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Maafin Mas Iwan ya, Nisa jadi menderita kayak gini”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas Iwan ini gimana sih, dibilangan nggak usah ngomongin itu lagi kok, rezeki itu Allah yang ngatur, kita yang berusaha mencari secara halal dan baik, percayalah Allah Maha Adil” istriku menasihatiku sambil memukul dadaku karena omonganku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Alhamdulillah kalo Nisa mau nerima, ya moga-moga Allah memberikan kesabaran, dan melapangkan rizki pada kita”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Amiin… eh ngomong-ngomong bau keringat Mas Iwan, ampun deh, bener-bener harum, bikin nyamuk nggak ada yang mau ndekat” candanya membuatku sedikit lebih tenang, dan dipeluknya aku makin erat, hatiku merasa tentram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span> </span>“Tapi janji ya, mau benerin atapnya, masak tiap kali hujan harus kayak gini, kan repot” timpal istriku lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Insya Allah deh, asal Nisa mau bantuin benerinnya&#8230; ” pintaku bergurau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yeeee, itu kan kerjaannya laki-laki, tapi jangan kuatir deh, entar Nisa bantu dengan doa aja ya … he he he&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Hujan deras ini telah membuat listrik padam, keadaan menjadi gelap gulita, hanya sesekali terang jika ada kilat. Kurasakan istriku sudah mulai tertidur, tidur dalam dekapanku, dekapan erat yang tak ingin kulepaskan, aku sangat sayang padanya. Tidurlah yang nyenyak kau dipelukanku, aku tak akan mengijinkan nyamuk-nyamuk nakal mengganggu kenyamanan tidurmu, biarkan aku menjagamu, biarlah aku kan menjadi selimut kehangatan bagimu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">ooOoo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Assalamu’alaikum, Niis, ada tamu?” salamku saat pulang kerumah dengan membawa seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wa’alaikum salam” salamnya, sambil keluar menyambutku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mb.. Mbak Ani” kata istriku dengan terkejut, tampak perubahan muka yang disembunyikan, diulurkannya tangannya pada Ani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Assalamu’alakum Dek Nisa, lama yah nggak ketemu” salamnya dengan senyum yang ramah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wa’alaikum salam, iya udah setengah tahunan kayaknya, wah Mbak tambah cakep aja, mari Mbak masuk”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ani, kakak kelas Nisa juga teman seangkatan denganku semasa kuliah, sekaligus teman SMA di kampung halaman, kami sangat akrab sekali, bahkan sempat sangat dekat, lebih dari sekedar teman, maklumlah saat itu aku masih belum begitu mengenal islam, masih awam, jadi masih merasa nggak bersalah kalo orang nyebut pacaran. Karena satu dan lain hal, akhirnya kami harus berpisah, harus saling menjaga jarak walau sebenarnya berat rasanya, sulit untuk melupakannya (nggak perlu dicritain ya), namun sejak perpisahannya itu justru telah membuatku dekat dengan dienul islam yang akhirnya mempertemukanku dengan Annisa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kedatangannya ke kota ini adalah menjenguk saudaranya yang dirawat di rumah sakit dekat tempat kerjaku, dan secara tak sengaja kami pun bertemu, ya kuajak aja mampir sejenak, walau sebenarnya ada yang mengganjal di hati, entahlah, aku seakan-akan lalai, nggak tahulah apa yang sedang terjadi padaku yang pada akhirnya kubawa Ani kerumahku. Aku tak bisa menipu diriku bahwa aku suka bertemu dengannya, seperti membuka kenangan yang lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kapan datangnya Mbak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kemaren, sama keluarga kok, mau njenguk paman yang sakit”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, sekarang gimana keadaannya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Alhamdulillah, udah baikan,<span>  </span>insya Allah<span>  </span>dua tiga hari udah bisa pulang”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Syukurlah kalo gitu, udah kerja ya Mbak, kayaknya sukses”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Alhamdulillah, sudah, cukuplah untuk kebutuhan hidup, mandiri kata orang”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wah senang ya.. terus udah punya …. ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ani hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan tersebut. Aku jadi nggak enak sendiri di sana, perasaan gelisah yang menyelimuti hati, aku merasa bersalah mengajaknya ke sini, tapi semua sudah terlanjur, tidak lama dia mampir di rumahku, namun walau singkat sepertinya telah merubah suasana hati keluargaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Seminggu kemudian …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Selama beberapa hari terakhir ini, istriku terlihat berbeda, dia menjadi jarang bercanda, lebih banyak diam dan tidak sehangat dulu, mungkin kecemburuannya pada Ani merasuki hatinya, memang beberapa hari terakhir ini, aku sering bertemu dengan Ani di rumah sakit yang memang dekat dengan tempat kerjaku. Perasaan inilah yang saat ini memisahkan kemesraan di antara kami, aku juga merasa bahwa aku jarang memulai bercanda, aku sering melupakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Hari ini adalah hari beratku, aku baru saja di PHK dari kantorku, keadaan ekonomi yang lesu membuat kantorku harus merampingkan karyawannya. Kuputuskan untuk tidak pulang dulu, aku ingin mencari kerjaan seadanya, keadaanku ekonomi rumah tanggaku sudah cukup memprihatinkan, aku tidak bisa mengandalkan pesangon yang diberikan, aku harus mendapat kerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya Allah berilah aku kemudahan dan kesabaran ya Allah” doaku sambil berusaha mencari kerja. Entahlah sudah berapa banyak kantor yang kumasuki untuk mencari lowongan, hingga matahari bersembunyi di ufuk barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Aku tidak pernah pulang selarut ini, istriku pasti cemas”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Assalamu’alaikum, Nis, mas pulang nih” salamku dengan senyum mengambang. Aku ingin tampil bahagia di depan istriku. Aku ingin menyembunyikan kegalauan hatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wa’alaikum salam” jawabnya dari dalam, namun dia tidak menyambutku, tidak seperti biasanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kulihat wajahnya yang ditekuk, muram, wah marah nih. Sesaat kemudian setelah membersihkan diri, rasanya sudah tak tahan menahan lapar yang sejak tadi belum makan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wah mas lapar nih, udah makan Nis?” tanyaku padanya, mencoba untuk mengajak makan bersama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Udah” jawabnya singkat dan ketus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“eeehhmmm, baunya sedap, masak apa ya” kuhampiri meja makan, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Saat kubuka penutup makanan, betapa terkejutnya aku, hanya ada nasi doang, nggak ada sayur, lauk pauk, itupun nasi tadi pagi yang dihangatkan. Entahlah perasaan jengkel melanda diriku, namun aku berusaha untuk mengendalikan diri. Kuambil nasi yang udah mulai dingin tersebut, kukasih garam dan kecap. Yah walau hambar rasanya, tetap aja kumakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Sekarang Mas Iwan udah berubah”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Sudah mulai melupakan istri, sudah mulai pulang malam” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas sudah tak menyayangi Nisa lagi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas ingkar janji, hiks hiks”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sindiran istriku yang berada dalam ruang tengah, walau pelan tapi terdengar jelas. Aku hampir saja tidak bisa menahan amarahku, gimana tidak, aku baru di-PHK, pulang dengan rasa capek dan lapar, tapi setelah pulang disambut dengan seperti ini. Dada terasa meledak-ledak, wajahku terasa merah padam. Kuselesaikan makanku, kuhampiri istriku dengan agak marah, emosiku meluap-luap, kupandang dia dengan tajam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ngomong apa sih Nis…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Bukannya menyambut suami, malah ngomel-ngomel, aku kan capek” ucapku tak bisa menahan emosi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Wajahnya semakin ditekuk, matanya dipincingkan untuk menahan air matanya. Dia pergi menuju kamar dan menutup kepalanya dengan bantal, menyembunyikan suara isak tangisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Astagfirullah” ucapku berkali-kali sambil menahan gejolak amarahku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kuambil air wudlu, kutenangkan pikiranku, dan selalu berdzikir kepadaNya. Bahtera rumah tanggaku mulai menghadapi badai, suatu keadaan yang aku takutkan, aku tidak pernah merasakan begini perasaanku, perasaan yang sangat tidak mengenakkan, perasaan yang telah merenggut kebahagian pernikahanku selama ini, perasaan yang membuat hati menjadi gelisah. Biarlah untuk sementara kubiarkan istriku tidur dikamarnya sendiri, biar dia menenangkan diri dulu, aku harus menyelesaikan permasalahan ini secepatnya biar tidak berlarut-larut, jangan sampai bahteraku pecah gara-gara masalah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Di dua pertiga malamnya, kubangunkan istriku, kuajak untuk berjamaah sholat lail, sudah beberapa hari terakhir ini aku tidak melakukan bersamanya. Kulihat wajahnya udah mulai tenang walau masih muram, masih pendiam, hatinya masih kesal terhadapku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“…Ya Allah, kokohkanlah bahtera hidup rumah tangga kami, segera selesaikanlah badai yang melanda keluarga kami, berilah kami kesabaran dalam menghadapi cobaanMu, dan tetapkanlah kami kedalam jalan yang Engkau ridhai ya Allah ….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Penggalan doaku setelah selesai solat malam, Tak terasa air mataku meleleh, berdoa mengharap belas kasihNya, memohon Rahmat dan petunjukNya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Suasananya begitu tenang, begitu sejuk dan begitu……. Kulihat istriku, kupandangi dengan lembut, bulir-bulir air matanya telah membasahi pipi dan jatuh di mukena putihnya. Akhirnya kupeluk istriku dengan lembut, kudekap erat-erat, kukecup keningnya, aku ingin merasakan kebahagiaan seperti sebelumnya, aku ingin menyelesaikan masalah ini sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Maafin Mas yah, Mas telah menyakiti Nisa, jangan marah lagi yah” ucapku padanya, dia pun menundukkan kepalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Eh marahnya udah selesai belum, kalo belum entar Mas cubit hidung Nisa lho” candaku padanya sambil mencubit hidungnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Masih marah, mau nggak dimasakkin lagi nanti” jawabnya namun dengan nada datar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Biarin, entar Mas beli di warung, Nisa nggak Mas kasih sedikit pun” godaku padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Gimana, masih marah yah, mana pipi Nisa, biar mas cubit, biar merah merona, kayak aisyah ummul mukminin istri Rasulullah, humaira, si merah delima” godaku lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tersungging senyumnya di balik bibirnya, sungguh tenteram hati ini melihat istriku sudah mau tersenyum lagi, wajahnya sudah mulai berseri-seri lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Tahu nggak, di dunia ini Nisa adalah akhwat yang paling Mas kasihi setelah ibu, yang paling Mas cintai lho”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Cieeee, ngrayu nih ceritanya” ledek istriku dengan tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Udah tahu nanya, tapi seneng kan dirayu, atau Mas jelek-jelekin aja…&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Jahaat&#8230; masa&#8217; sama istri sendiri dijelek-jelekkin” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Setelah keadaan menjadi tenang, kujelaskan permasalahanku, kuceritakan tentang kepulanganku yang telat, kujelaskan hubunganku dengan Ani dan berkomitmen terhadap janji pernikahan kami. Dia pun juga minta maaf, diceritakannya juga bahwa saat ini uang belanjanya udah habis, makanya nggak heran kalo tadi malam hidangannya seperti itu. Syukurlah segala kesalahpahaman yang terjadi selesai pagi itu, justru kami semakin dekat, semakin akrab. Alhamdulillah, badai yang melanda bahtera pernikahanku telah berlalu, kebahagian kembali mengalir mengisi hari-hariku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">ooOoo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Beberapa minggu kemudian&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nyam-nyam enaq, masakannya bener-bener enak, nyuri resep dari mana nih, perasaan nggak pernah masak kayak gini” ucapku sambil merasakan lezatnya masakan istriku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“He he he, enak aja nyuri, ini resep rahasia keluarga, buat acara spesial”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Emang sekarang spesial ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yup”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Spesial apa ya? Ultah nggak, apa sukuran Mas keterima kerja yang lebih baik ya? Tapi kan itu udah beberapa minggu lalu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mungkin, tapi ada yang lebih spesial” wajah istriku berseri-seri, kayaknya bahagia sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Udah deh nyerah, apa sih” tanyaku penasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Disodorkannya padaku sebuah surat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Hk, alhamdulillah, Nisa hamil, alhamdulillah, aku jadi abi, Nisa jadi ummi, ummi” hampir saja aku tersedak makanan di mulutku ini mendapat kabar ini. Aku akan menjadi abi. Aku melonjak kegirangan seakan melupakan makananku, entah perasaan apa yang melandaku, sulit aku gambarkan kebahagian ini, kabar terindah yang kudengar, sujud syukur padaMu ilahi, aku segera menghampiri istriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mi, ummi, boleh abi dengerin perut ummi, udah terasa belum jundi kecil abi ini”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Yeeee abi ini, kan baru 4 bulan bi, ya masih belum kelihatan dong”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Biarin, abi pengin dengar pokoknya, tuh kan mi, jundi kecil kita lagi bertasbih sekarang, dengerin aja” kutempelken telingaku ke perut istriku seperti ingin mendengarkan sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Bi, bersyukurlah pada Allah bi, bersyukurlah, alhamdulillah”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya Mi, alhamdulillah, semoga nanti anak kita menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tua” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nah sekarang ummi nggak boleh capek-capek, nggak boleh ….. ” wah sifat cerewetku mulai timbul, entah apa saja yang telah aku katakan, sementara istriku hanya senyum-senyum saja mendengarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Emangnya ummi ini anak kecil, Abi terlalu berlebihan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wajar dong mi, inikan anak pertama kita”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Malam itupun bertabur kebahagian, pikirankupun bermacam-macam, membayangkan anakku nanti, laki-laki atau perempuan, terus apa yang harus aku lakukan, pokoknya macam-macam deh, sulit melukiskannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">ooOoo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Saat itu pun datang, istriku akan melahirkan, dari hasil USG sih mengatakan kalo bayinya nanti akan kembar, satu perempuan satu laki-laki. Bingung, cemas menjadi satu ketika istriku sudah bukaan dua (katanya sih, aku sendiri nggak begitu tahu) padahal masih belum di rumah sakit, syukurlah ada tetangga yang mau mengantarkan ke rumah sakit bersalin, kontraksinya pun mulai terasa tiap lima sampai sepuluh menitan, tanda-tanda kelahiran akan tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Pak, mau menemani istrinya nggak, tega nggak” tanya suster</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">pengin rasanya menemani istriku, tapi rasanya aku justru akan mengganggu suster-suster tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Nggak usah saja, saya nggak tega, nanti jadi ganggu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Perasaan tegang menuyelimutiku, aku hanya bisa mondar mandir di depan pintu kamar bersalinnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“.. ya Allah, berilah kami kekuatan ya Alloh, Selamatkanlah istri dan anakku ya Alloh…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Lahir juga anakku, anak kembar laki-laki dan perempuan, alhamdulillah semua sehat-sehat saja istriku tampak lelah setelah melahirkan, tapi ada kebahagiaan yang terpancar diwajahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wah tampan dan cantik anaknya” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Beratnya 3.6 kg<span>  </span>dengan panjang 55 cm, lihat gagahnya anak itu” hibur suster yang membantu melahirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Berdasarkan kesepakatanku dengan istriku, yang laki-laki kuberi nama Sholahuddin al Ayubi yang kuambil dari tokoh panglima perang saat perang salib, semoga dia menjadi tentara Allah dalam menegakkan Islam. Yang perempuan sama istriku dikasih nama Fatimah az Zahra, mengambil dari nama putri kesayangan rasulullah, si bunga mawar yang indah dipandang, tetapi berduri jika dipegang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Itulah kebahagian yang kudapatkan, semua baik-baik saja, istriku, anak-anakku, hanya kepada Allah segala puji-pujian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8212;- tamat &#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">(Ikhwan Izzuddin)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Ya Alloh, tetapkanlah hati ini untuk selalu mencintai-Mu, Janganlah Kau palingkan wajahku kejalan yang lain, dekatkanlah hatiku hanya Kepada-Mu, kupasrahkan semua amalanku hanya kepada-Mu, jauhkanlah riya&#8217;, sombong dari pandanganku, karena godaannya terlalu berat bagiku&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;….Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” QS. Al-Furqaan(25) : 74</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><br />
</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bibilung.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bibilung.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bibilung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bibilung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bibilung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bibilung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bibilung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bibilung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bibilung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bibilung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bibilung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bibilung.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bibilung.wordpress.com&blog=1358460&post=14&subd=bibilung&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/annisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13617218932abf295513f8ff322506ef?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bibilung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Raihana</title>
		<link>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/raihana/</link>
		<comments>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/raihana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 03:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bibilung</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/raihana/</guid>
		<description><![CDATA[Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. 
”Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di Pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bibilung.wordpress.com&blog=1358460&post=12&subd=bibilung&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">”Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di Pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku. </span><span id="more-12"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang <em>baby face</em> dan anggun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “Cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli!&#8221; kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pesta pun meriah dengan empat grup rebana. Lantunan shalawat Nabi pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. <em>Rabbighfir li wa liwalidayya!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekadar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan, Raihana kubawa ke kontrakan di pinggir kota Malang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihana pun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab “Tidak apa-apa kok Mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga “ Ada kekagetan yang kutangkap di wajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak&#8217;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kenapa Mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa Mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Wallahu a’lam” jawabku sekenanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau Mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa Mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani Mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa Mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa Mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan Mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku di dunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikkan air mata bukan karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai di rumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku melepas semua pakaian yang basah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah kata pun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri di depan pintu membawa handuk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Biasanya dikerokin” jawabku lirih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Kalau begitu kaos Mas dilepas ya, biar Hana kerokkin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengeroki punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerok, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal al-Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. “Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. “Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba&#8230;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas, bangun, sudah jam setengah empat, Mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuma mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang.” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Maaf… maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana, “lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. “Matanya sedikit berbinar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Te.. terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng ke sana, habis sholat dhuhur, Insya Allah.” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar di bibirnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Acara pengajian dan aqiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik di kampusnya dan hafal al-Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. “Sudah satu tahun putra sulungku menikah, kok belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya “Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. “Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orangtuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal di kontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, “Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas di hati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku tak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah Bahasa Arab. Di antara tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang Mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen Bahasa Arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.<br />
“Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi.<br />
“Alhamdulillah, sudah” jawabku.<br />
“Dengan orang mana?”.<br />
“Orang Jawa”.<br />
“Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”<br />
“Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal al-Quran”.<br />
“Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”.<br />
“Kenapa dengan Bapak?”<br />
“Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”.<br />
“Bagaimana itu bisa terjadi?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orangtua. Di sana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapa pun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orangtuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali. Yasmin tidak bisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya ingin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Saya menyesal meletakkan kecantikan di atas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedi yang menyakitkan. “Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satu pun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung mengigau meminta ibunya pulang”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang di mataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap di hati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala di dindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan di bawah bantal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Di bawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku “serong”?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya… Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan al-Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa “Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang <em>baby face</em> dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangannya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat di mata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. “Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">“Raihana… istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”.<br />
“Ada apa dengan dia”.<br />
“Dia telah tiada”.<br />
“Ibu berkata apa!”.<br />
“Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Hatiku bergetar hebat. “Ke…. kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir desa. Di atas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis di sana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua&#8230;[]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sumber : Buku <strong>“Pudarnya Pesona Cleopatra”</strong> (Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa). Karya: Habiburrahman El Shirazy (Penulis Novel best sellers &#8220;Ayat-ayat Cinta&#8221;)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bibilung.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bibilung.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bibilung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bibilung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bibilung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bibilung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bibilung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bibilung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bibilung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bibilung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bibilung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bibilung.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bibilung.wordpress.com&blog=1358460&post=12&subd=bibilung&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bibilung.wordpress.com/2007/07/14/raihana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13617218932abf295513f8ff322506ef?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bibilung</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>