Arsip

Archive for the ‘kisah’ Category

Ketika Mas Gagah Pergi

Minggu, 15 Juli 2007 bibilung 3 komentar

Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku. Read more…

Categories: kisah

Annisa

Sabtu, 14 Juli 2007 bibilung 3 komentar

“Mas, tolong embernya”

“Panci besarnya juga …”

“Bawain kain pel sekalian Mas…” teriak istriku dari ruang tengah.

Hujan di tengah malam ini membuat kami jadi kalang kabut, pas enak-enak tidur, eh ternyata bocor di mana-mana, yang paling menjengkelkan bocornya tepat di atas tempat tidur, kasur pada basah semua, jadinya tidur pun terasa nggak nyaman. Yah beginilah keadaan kontrakan kami, rumah sederhana yang baru kami kontrak. Keadaannya cukup memprihatinkan juga sebenarnya. Tapi apa daya, hanya ini yang bisa kuusahakan, gajiku sebagai pekerja serabutan membuatku untuk hidup sehemat mungkin. Read more…

Categories: kisah

Raihana

Sabtu, 14 Juli 2007 bibilung 8 komentar

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.

”Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di Pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku. Read more…

Categories: kisah