Anak Jadi Agresif Sejak Punya Adik


KEPONAKAN saya R bulan ini usianya genap 5 tahun. Ia anak laki-laki yang cukup cerdas, aktif, dan bicaranya lancar. R adalah anak pertama dari pasangan suami istri, ayah bekerja sebagai PNS sedangkan istri swasta. Ia lahir cukup bulan dan normal tidak kurang sesuatu apa.

Terakhir kami bertemu dengan tampak cemas, gelisah, dan tegang. Menurut orang tuanya, ia menjadi lebih aktif dan agresif sejak 8 bulan yang lalu, yaitu setelah kelahiran adiknya. Bila dalam keadaan marah sekali R dapat mendorong, memukul, bahkan menggigit adiknya.Kedua orang tua R kehabisan kata-kata menghadapinya, terlebih sejak 4 bulan yang lalu R menjadi sulit makan, sulit untuk tidur dan sejak 2 bulan terakhir mulai mengompol dan buang air besar di celana.

Kedua orang tua merasa sangat khawatir terhadap perkembangan anaknya. Mereka kemudian membawa R berobat ke puskesmas dan dokter. Akan tetapi, sampai saat ini keadaan R belum banyak berubah. Mohon pengasuh dapat memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi pada R dan mencarikan jalan keluarnya.

Terima kasih.

Din di Bandung

KEMAMPUAN menata emosi dan kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah hasil dari proses yang dijalani selama masa perkembangan. Cara merawat, mengasuh, dan mendidik anak diyakini sangatbesar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian anak, kelak sebagai orang dewasa. Artinya, banyak kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan intervensi dari mana pun anak berasal agar dia menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani, mampu menyesuaikan diri, dan selalu dapat menyikapi dan menyiasati semua perubahan kondisi dan situasi secara positif. Di antara cerminan adanya kemampuan menata emosi adalah cara seseorang mengemukakan pendapat dan mengekspresikan perasaannya. Apakah ia dapat menyatakannya secara sehat, yang artinya tidak menimbulkan kesulitan pada dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan pada umumnya? Ataukah pernyataan pendapat dan ekspresi perasaan itu menimbulkan luka mental dan fisik pada orang lain.

Gangguan emosional anak Tuan Din, gangguan mental emosional bisa juga dialami oleh anak -anak. Perkembangan anak tidak selalu berjalan normal. Ada anak yang mengalami kesulitan dalam berperilaku, yang dikeluhkan orang tua sebagai perkembangan yang terlambat, ketidakmampuan menyesuaikan diri, tidak bisa diam, sulit konsentrasi, agresif dan sebagainya. Dari berbagai media pemberitaan kita sering melihat kasus gangguan mental emosional yang juga menyangkut anak-anak usia di bawah 10 tahun. Bahkan, yang lebih memprihatinkan masih ada anak yang mendapat perlakuan yang tidak senonoh di usia yang sa-ngat muda seperti perkosaan, penelantaran, tindak kekerasan yang tentunya berdampak negatif terhadap perkembangan jiwa anak.

“Sibling rivairry”

Dari informasi di atas, tampaknya R mengalami masalah mental emosional yang berkaitan dengan persaingan dan iri antara saudara, depresi pada anak, enkopresis (buang air besar di celana) dan enuresis (ngom-pol). Masalah persaingan dan iri antara saudara merupakan kejadian yang biasa dijumpai. Sebagian besar anak usia dini memperlihatkan masalah emosional dengan kelahiran adiknya. Gangguan yang timbul biasanya bersilat ringan meskipun rasa persaingan atau iri hati yang timbul dapat berlangsung cukup lama. Rasa persaingan atau iri hati merupakan upaya bersaing antarsaudara untuk merebut perhatian atau cinta orang tuanya.

Dalam kasus yang berat, dapat disertai oleh rasa permusuhan yang terbuka terutama trauma fisik, atau upaya menyakiti saudaranya. Dalam kasus yang ringan dapat terlihat dalam bentuk keengganan untuk berbagi dan tidak menunjukkan sikap yang ramah. Seorang anak tidak mudah mengerti dan mengutarakan perasaannya. Sering kali perasaan iri atau persaingan antarsaudara dapat dideteksi dari perilaku anak. Gangguan emosional pada anak dapat berbentuk macam-macam regresi (kemunduran ke tahap yang lebih dini) dengan hilangnya berbagai keterampilan yang telah dimilikinya, sepertipengendalian buang air besar dan buang air kecil dan cenderung berperilaku seperti bayi. Dapat pula anak menunjukkan perilaku menentang terhadap orang tua, mengamuk atau temper tantrum, cemas, atau kecewa, dan penarikan diri secara sosial. Adanya gangguan akibat persaingan antarsaudara (.sibling rivalry) ditegakkan bilaa.Ditemukan adanya rasa persaingan dan atau iri hati terhadap saudara.b.Awitan selama beberapa bulan setelah kelahiran adik (terutama adik langsung).c.Gangguan emosional melampaui taraf normal dan atau berkelanjutan dan berhubungan dengan masalah psikososial.

Enkopresis adalah gangguan yang tidak mampu menahan buang air besar bila terjadi setelah periode pengendalian fekal yang lama (usia anak telah lebih dari 3 tahun) kadang-kadang merupakan regresi setelah stres tertentu seperti perpisahan dengan orang tua, pindah rumah atau kelahiran adik. Sedang enuresis adalah gangguan kencing berulang-ulang sehingga pakaian dan tempat tidur anak basah. Biasanya terjadi pada anak yang usianya sekurang-kurangnya 5 tahun.

Selain itu yang perlu dipertimbangkan adanya depresi pada anak. Depresi pada anak sering didasari oleh suatu kehilangan objek cinta, yang bermakna bagi anak. Kehilangan dapat merupakan suatu kejadian yang nyata, atau dapat pula hanya terjadi dalam imajinasi anak (keha-diran adik, kakak “kehilangan” cinta dan perhatian ibu) Gangguan depresi pada anak kadang-kadang sulit teridentifikasi karena anak sulit mengutarakan perasaannya. Pernyataan perasaan sering berupa penyimpangan perilaku dalam bentuk cepat marah, temper tantrum, menolak makan dan keluhan fisik yang samar-samar (tanpa kelainan organ) seperti sakit perut, muntah-muntah, dan sakit kepala. Pada anak usia kurang dari 5 tahun memperlihatkan gejala depresi yang terselubung seperti agresif dan hiperaktif.

Mengatasi

Upaya yang dapat dilakukan terhadap R antara lain konseling pada kedua orang tua. Persaingan antarsaudara merupakan hal yang umum terjadi dalam perkembangan anak. Bila terdapat faktor yang lebih kompleks seperti sampai terjadi disharmoni keluarga, merupakan trauma psikis yang berkepanjangan. Usaha berbagai cara untuk mengatasi persaingan atau rasa iri hati antarsaudara dengan cara lebih mendekatkan rasa persaudaraan adik-kakak dan mempersiapkan perasaan kakak dalam menerima kelahiran adiknya serta melibatkan kakak dalam mengasuh adik. Bila upaya yang dilakukan masih belum dapat mengatasi masalah anak, segera bawa ke fasilitas pelayanan psikiatn terdekat untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan seperti psikoterapi dan terapi keluarga. Perawatan di rumah sakit harus dipertimbangkan jika keadaan anak memburuk.***

::bataviase dan pikiran rakyat::

About these ads

3 gagasan untuk “Anak Jadi Agresif Sejak Punya Adik

  1. memang kecenderungan anak merasa ada “saingan” dalam merebut kasih sayang dan perhatian dari orang tua setelah adiknya lahir. Untuk itu peran ortu memberi pengertian yg benar dan bijak tentang keberadaan adiknya dan tetap berlaku adil kepada semua anaknya dalam memberikan kasih sayang…….

  2. Mungkin juga. Tapi setiap anak akan berbeda respon thd keberadaan adiknya. Anak saya ada yang agresif dan minta perhatian ketika adiknya lahir.Tapi ada juga anak saya yg biasa-biasa saja. Kalem. Thx artikelnya.

  3. Saat ini usia kehamilan saya 9 bln,ini merupakan anak kedua,ketika saya periksa kandungan saya ternyata detak jantung anak saya tidak stabil,kadang menguat kadang melemah,apakah penyebabnya?apa janin saya cacat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s