Rawankah Hamil di Usia Tua?


“Ini kehamilan pertama saya dan mungkin juga yang terakhir. Saya sangat cemas dan khawatir akan keputusan saya untuk memiliki anak di usia saya yang mungkin dapat dikatakan di luar usia aman bagi seorang ibu untuk hamil dan melahirkan. Saya sangat berharap agar saya dapat melahirkan anak yang sehat, tetapi saya juga sudah mendengar dan membaca tentang risiko kehamilan di atas usia 35 tahun dan hal itu membuat saya merasa gelisah. Apa yang sebaiknya saya lakukan?”

Pemikiran dan pertanyaan ini tentu selalu menghantui bagi kaum wanita yang ingin hamil di atas usia 35 tahun. Sekarang ini, banyak sekali pasanngan yang memutuskan untuk menikah dan memiliki anak pada usia 35 tahun atau lebih, terutamanya di kota-kota besar. Jumlahnya juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Survei di Amerika Serikat pada tahun 2006 menunjukkan, jumlah persalinan pada wanita berusia 35 – 39 tahun meningkat sekitar 60 persen dibanding tahun 1998. Peningkatan yang hampir sama terjadi pada wanita dengan rentang usia 40 – 44 tahun, yakni sekitar 50 persen. Beragam sekali alasan yang dikemukan dalam menunda menikah atau menunda memiliki anak. Namun yang paling sering dalam menjadi alasan karena merasa belum siap secara finansial, sehingga pasangan-pasangan muda itu memutuskan untuk menunda menikah dan memiliki anak sampai tabungan mereka cukup. Sibuk dalam meniti karier juga kerap dikemukakan sebagai alasan sehingga tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat.

Bila anda sudah hidup di dunia ini selama lebih dari 35 tahun, tentu anda tahu bahwa tidak ada hal yang tanpa risiko. Begitupula dengan kehamilan, pada usia berapun memiliki risiko. Usia yang paling aman pada wanita untuk hamil dan melahirkan adalah sekitar usia 20 – 30 tahun. Pada usia ini wanita dalam keadaan optimal dengan kata lain, risiko angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) ibu dan bayi yang terjadi akibat kehamilan dan persalinan dalam kelompok usia tersebut paling rendah dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Risiko ini akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur.

Mengapa demikian ?

Bertambahnya usia pada wanita sangat berpengaruh terhadap jumlah sel telur yang belum dikeluarkan dari ovarium atau indung telur. Saat pubertas, seorang wanita akan memiliki sekitar 400 ribu sel telur. Telur-telur ini akan dilepaskan satu demi satu setiap bulan bersamaan dengan siklus menstruasi (ovulasi) dan siap untuk dibuahi.

Selain telur-telur yang telah dilepas tersebut, terdapat pula puluhan sel telur yang setiap bulan mengalami kematian alamiah karena gagal untuk dilepaskan dari indung telur, sehingga telur yang terbaiklah yang dilepaskan sedangkan telur yang tidak sempuna akan tetap tinggal dan mati. Oleh karena itu, ketika wanita mengalami menopause di usia 50 – 55 tahun, maka hanya terdapat beberapa ribu sel telur berusia tua saja yang masih tertinggal di indung telur. Itu sebabnya, wanita yang menjelang menopause kesulitan mengalami ovulasi. Sel-sel yang sudah tua itu mengalami penurunan kemampuan untuk dibuahi dan kehilangan kemampuan untuk menghasilkan hormon, terutama estrogen dan progesteron.

Selain jumlah sel telur yang tinggal sedikit, faktor usia (di atas 35 tahun) juga berpengaruh terhadap kemampuan rahim untuk menerima bakal janin atau embrio. Dalam hal ini, kemampuan rahim untuk menerima janin, menurun. Faktor penuaan juga akan menyebabkan embrio yang dihasilkan oleh wanita di atas 35 tahun terkadang mengalami kesulitan untuk melekat di lapisan lendir rahim atau endometrium. Ini dapat meningkatkan kejadian keguguran.

 

Apa saja risiko yang dapat terjadi?

Risiko terhadap ibu:

  • Gangguan fungsi dan kerja organ – organ pada ibu
  • Hipertensi esensial dan hipertensi dalam kehamilan meningkat 2 – 4 kali lipat.
  • Diabetes mellitus akibat kehamilan atau lebih dikenal dengan istilah diabetes gestasional dapat meningkat 2 – 5 kali lipat.
  • Obesitas (kegemukan) sebelum dan selama kehamilan akan meningkat setelah usia 35 tahun. Obesitas akan menambah risiko hipertensi dan diabetes mellitus.
  • Perdarahan postpartum atau perdarahan setelah melahirkan, misalnya yang disebabkan oleh letak plasenta yang menutup jalan lahir (plasenta previa). Risiko plasenta previa meningkat dua kali lipat pada usia 30-39 tahun dan meningkat tiga kali lipat pada usia di atas 40 tahun. Perdarahan ini juga disebabkan oleh karena fungsi saluran reproduksi yang sudah menurun.
  • Persalinan preterm dengan tindakan akan meningkat 2-4 kali lipat. Tindakan lainnya seperti induksi persalinan dan persalinan dengan tang (forseps) juga meningkat.
  • Kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik meningkat 2 – 4 kali lipat.

Risiko terhadap janin atau bayi:

 

  • Cacat bawaan, baik yang disebabkan oleh kelainan kromosom atau bukan. Kelainan kromosom yang paling sering dijumpai adalah Sindrom Down (yang berciri khas berbagai tingkat keterbelakangan mental, ciri wajah tertentu, berkurangnya tonus otot, dan kadang kala kesehatan lainnya).

Adapun risiko kelainan kromosom akan meningkat menurut usia ibu hamil, yaitu :
– pada usia 25 tahun: 1 di antara 1.200 – 1.250 kehamilan.
– pada usia 30 tahun: 1 di antara 1.000 kehamilan.
– pada usia 35 tahun: 1 di antara 400 kehamilan.
– pada usia 40 tahun: 1 di antara 100 kehamilan.
– pada usia 45 tahun: 1 di antara 30 kehamilan.
– pada usia 49 tahun: 1 di antara 10 kehamilan.

Diperkirakan 25 % dari kasus Sindroma Down berhubungan dengan cacat pada sperma ayah. Dengan mengingat bahwa ayah juga turut andil dalam terjadinya pembuahan, dimana calon sperma dari ayah yang berusia baya sudah lama terkena pengaruh bahaya lingkungan dan mungkin juga mengandung gen atau kromosom yang telah berubah atau rusak. Dengan makin meningkatnya usia ayah, maka kualitas dari sperma juga sudah semakin menurun.

  • Keguguran

Risiko terjadinya keguguran akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia ibu hamil:
– Usia 20 – 29 tahun: 10 %
– Usia 35 – 39 tahun: 20 %
– Usia 40 – 44 tahun: 50 %
– Usia di atas 48 tahun: 84 %

  • Kelahiran prematur, meningkat sekitar 40 % pada ibu di atas 40 tahun.
  • Bayi lahir mati, meningkat tiga kali lipat pada usia di atas 40 tahun.
  • Persalinan bayi besar (lebih dari 4.000 gram)
  • Persalinan bayi kecil (kurang dari 2.500 gram)

Bagaimana cara mengurangi risiko yang ada?
Agar risiko berkurang, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan ibu jika hamil pertama di usia rawan, yaitu:

  • Konsultasikan kehamilan pada ahlinya karena ibu yang hamil di usia rawan memerlukan pengawasan khusus secara dini selama kehamilan dan pada proses persalinan. Sebaiknya ibu ditangani dokter spesialis dan bukan bidan atau dokter umum. Bila kondisi tidak memungkinkan, setidaknya ibu pernah satu atau ¬dua kali berkonsultasi dengan dokter spesialis agar mendapat pemeriksaan yang khusus dan teliti, seperti pemeriksaan panggul, tekanan darah dan pemeriksaan USG.
  • Proses persalinan sebaiknya dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas yang memenuhi standar. Rumah sakit yang tidak memiliki NICU (Neonatal Intensive Care Unit) tentu tidak dapat memberikan fasilitas yang memadai bagi bayi yang lahir prematur. Padahal risiko ini bisa terjadi pada ibu yang hamil di usia rawan. Sarana dan prasarana yang baik juga berguna bila terjadi suatu kelainan pada proses persalinan, misalnya jika ibu mengalami perdarahan maka dapat ditanggulangi secara cepat dengan tersedianya transfusi, sehingga angka mortality ibu dapat dikurangi.
  • Lakukan tes amniosentesis pada awal kehamilan bagi wanita berusia 35 tahun atau lebih pada kehamilan pertama untuk menemukan kemungkinan sindrom down dan abnormalitas kromosom lain. Kelainan tersebut dapat dideteksi dengan screening darah dan USG pada kehamilan dini. Tapi deteksi terakurat hanyalah melalui tindakan amniosentesis atau mengambil contoh jaringan janin untuk dilihat kromosomnya. Jika janin terbukti menderita down syndrome maka dokter bisa melakukan konseling pada suami-istri. Apa yang akan terjadi, apa yang bisa dilakukan oleh dokter, apakah kehamilan akan diteruskan atau tidak. Bila diteruskan bagaimana risikonya dan lainnya. Dalam mengambil keputusan , ada baiknya orangtua mencamkan bahwa hanya 10% anak dengan Sindroma Down benar-benar terbelakang dan banyak anak semacam ini memiliki potensi untuk hidup penuh, setidaknya hidup yang hampir optimal.
  • Beberapa pemeriksaan lain yang perlu dilakukan diantaranya adalah pemeriksaan laboratorum seperti gula darah untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit diabetes mellitus, atau pemeriksaan darah ibu untuk mendeteksi kelainan kromosom pada janin.
  • Calon ibu juga perlu menjalani upaya medis untuk mencegah hipertensi dan cacat bawaan. Bila ada indikasi rubella misalnya, diberikan vaksinasi pada 1-3 bulan sebelum hamil. Serta tak kalah pentingnya adalah pemberian asam folat. Asupan asam folat yang cukup pada ibu hamil diketahui dapat mengurangi risiko bayi lahir dengan cacat bawaan pada otak dan tulang belakang. Asam folat, kata Bambang, diberikan sejak 1 – 3 bulan sebelum hamil sampai usia kehamilan 12 minggu (masa pembentukan organ janin) dengan dosis 4 mg/hari.
  • Melakukan latihan, diet serta perawatan pralahir dapat mengurangi juga risiko kehamilan di usia tua.

Jadi jangan khawatir bagi calon ibu yang hamil di usia tua, karena dengan adanya kemajuan di dunia kedokteran sekarang ini maka risiko yang ada dapat dikurangi sehingga calon ibu dapat juga melahirkan anak yang sehat seperti ibu muda lainnya.

Di samping itu kehamilan di usia tua juga mempunyai beberapa nilai positif lainnya. Pada umumnya ibu yang setengah baya mempunyai kematangan dan kestabilan emosi, mental serta finansial sehingga dapat menjadi orangtua yang lebih baik. Selain itu penelitian juga menunjukkan bahwa ibu-ibu ini menerima keadaan dan tanggung jawab sebagai orangtua dan kebanyakan dari mereka justru sangat berbahagia. (Gracia Dewi I.)


Referensi

Murkoff, Heidi, Arlene Eisenberg dan Sandee Hathaway.2006.Kehamilan: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan.Jakarta: Arcan.

http://www.republika.co.id

http://www.mail_archive.com

diambil dari ::tanyadokteranda::

About these ads

4 thoughts on “Rawankah Hamil di Usia Tua?

  1. mau nanya nih..

    umur saya 45 tahun dan saya perokok aktif. begitu pun juga suami saya..
    apakah saya masih hamil?dan apakah nanti ada resikonya?

    tolong banget ya dijawab saya sangat membutuhkan informasi:”(

  2. Siang Dokter,usia saya skrg 39 thn,sy dan suami ingin mempunyai anak lagi dan ingin melepas KB spiral saya,sblmnya saya sdh mempunyai anak 2 laki2,yg satu umur 12 thn yg ke2 umur 10 thn…..Yg ingin sy tanyakan msh bskah sy hamil kembali sedangkan jarak anak kedua sy jauh,terima kasih dokter…….

  3. malam dokter,
    saya berusia 44 tahun dan baru saja menikah dengan wanita usia 44 tahun jg, kami sudah 3 bulan yang lalu menikah dan selam 3 bulan kami sering melakukan hubungan intim agar ssegera punya keturunan, sebelum nya kami sudah cek ke dokter di kota kami tinggal bahwa kami berdua sehat. yang say a mau tanyakan apakah pada usia 44 tahun ini sulit kah untuk hamil???????? jika memang bisa kami mohon tip dan saran dari dokter, terimakasih.

  4. Bagaimana yang justru menikahnya pada usia sudah di atas 30 tahun tapi ingin punya banyak anak? Setidaknya 4 atau 5 anak.. berarti jika pada hamil pertama usia 35 tahun maka sampai anak kelima masih hamil pada usia 45 tahun.. jika dihitung hamil pertama 35 tahun, hamil kedua 37 tahun, hamil ketiga 39 tahun, hamil keempat 42 tahun, dan hamil kelima 45 tahun.. :-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s