Hamil Aman Meski Usia Sudah “Lewat”


<!––><!––>
PULUHAN tahun lalu, wanita berusia seperempat abad yang belum menikah dianggap sebagai “perawan tua”. Kini yang sudah menikah pun banyak yang tak ingin segera punya anak demi karir. Bahkan sampai umur kepala tiga. Padahal kehamilan di atas usia 35 tahun tergolong berisiko.

Penelitian U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2006 silam menyatakan adanya kenaikan risiko kematian saat persalinan, hampir tiga kali lipat pada wanita berusia lebih dari 35 tahun. Penyebab utama kematian ibu saat melahirkan di antaranya perdarahan, emboli darah (sumbatan yang berasal dari pecahan trombus atau bekuan darah dalam sistem pembuluh darah jantung) serta kelainan tekanan darah.

Dr RM Denny Dhanardono, MPH&TM, SpOG dari RSIA Budhi Jaya Jakarta menyatkan, “Kehamilan berisiko tinggi berarti memiliki satu atau lebih faktor risiko, yang dapat mengganggu proses kehamilan maupun persalinan. Beberapa faktor tersebut bisa terkait dengan masalah ibu atau janin. Mulai dari penyakit yang menyertai, misal jantung, paru-paru, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Kemudian usia ibu hamil yang masih terlalu muda (di bawah 16 tahun), usia di atas 35 tahun, tinggi ibu kurang dari 140 cm, jumlah janin lebih dari satu, posisi janin sungsang atau melintang,” paparnya.

Pria yang akrab disapa Denny ini mengakui bahwa faktor usia termasuk berperan penting dalam proses kehamilan. “Risiko ibu hamil pada usia muda biasanya timbul karena belum siap secara psikis maupun fisik. Sedangkan risiko ibu hamil di atas 35 tahun berkaitan dengan fungsi organ reproduksi yang sudah menurun,” terangnya.

Waspadai Sindroma Down

Menurut dr Denny, pada kehamilan di atas 35 tahun perlu diwaspadai meningkatnya risiko kelainan sindroma Down pada janin, yaitu kelainan kombinasi dari retardasi mental dan abnormalitas bentuk fisik yang disebabkan kelainan kromosom.

Hingga kini, kelainan kromosom diperkirakan terjadi karena sel telur sudah berusia lanjut, terkena radiasi, pengaruh obat-obatan, infeksi dan sebagainya. Denny menegaskan, kelainan tersebut dapat dideteksi sejak dini dengan screening darah dan USG.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan amniocentesis, dengan cara mengambil cairan ketuban melalui alat semacam jarum yang dimasukkan lewat perut ibu. Pemeriksaan ini dapat dilaksanakan setelah kehamilan memasuki usia 16-20 minggu. “Bila janin terbukti menderita sindroma Down, biasanya dokter akan menjelaskan pada ibu hamil yang bersangkutan, apa yang akan terjadi, apakah kehamilan dapat diteruskan, bagaimana risikonya. Dokter akan menyerahkan keputusan kepada pasangan istri-suami,” imbuhnya.

Lakukan Pemeriksaan Gula Darah

Pemeriksaan lain yang tak kalah penting adalah pemeriksaan gula darah untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya diabetes gestational atau diabetes yang hanya terjadi pada ibu-ibu hamil, akibat perubahan hormon selama kehamilan yang membuat masa kerja insulin menjadi terhenti.

“Jika sebelumnya sudah beriwayat diabetes, berarti harus lebih waspada, karena akan memberi efek kelainan bawaan pada fisik bayi. Sebaliknya, meski tak memiliki riwayat diabetes, ibu hamil berusia di atas 35 tahun juga perlu berhati-hati karena sebagian besar penderita diabetes gestational tidak merasakan gejala. Beberapa gejala yang kerap muncul adalah penurunan berat badan karena alasan yang tidak jelas, mata kabur, kesemutan, dan gatal-gatal pada daerah kemaluan,” jelasnya.

Diabetes gestational dapat membuat berat badan bayi berlebih. Akibatnya proses kelahiran terpaksa dengan cesar. Selain itu, pendarahan pascapersalinan juga dapat mengancam nyawa ibu. “Untuk mencegah komplikasi, ibu hamil mengontrol ketat gula darahnya melalui diet, berolahraga, dan menerapkan gaya hidup sehat,” anjurnya.

Pre-eklamsia

Gangguan lain yang patut diwaspadai adalah pre-eklamsia. Gejalanya, tekanan darah meningkat drastis (hipertensi) hingga lebih dari 140/90 mmHg, urin mengandung protein, pembengkakan pergelangan kaki, tangan, dan terkadang wajah.

Setelah terdiagnosis, dokter akan mengontrol tekanan darah. Dokter juga menilai kondisi organ-organ seperti ginjal, jantung, paru, hati, mata, otak, dan sistem syaraf karena dikhawatirkan terjadi gangguan fungsi.

Janin juga diperiksa. “Ini untuk menentukan tindakan yang akan diambil, apakah kehamilan diperpanjang atau ?terpaksa'” terang Dr Denny.

3P untuk Persalinan Normal

Selama ini beredar anggapan bahwa wanita hamil di atas 35 tahun pasti akan bersalin cesar. Dr Denny menepis mitos tersebut. “Dalam proses kelahiran, di kenal tiga komponen yaitu passage (jalan lahir), power (kekuatan ibu) dan passenger (bayi). Artinya, jika tidak terdapat kelainan pada ketiganya, persalinan dapat berlangsung secara normal,” tandasnya.(Mom& Kiddie//tty)

diambil dari ::okezone::

About these ads

One thought on “Hamil Aman Meski Usia Sudah “Lewat”

  1. Aku ingin agar istriku kembali hamil. Kini sedang berusaha. Tapi usianya sudah kepala tiga (di atas 30 tahun). semoga masih aman untuk kehamilan keempatnya ini nanti… (sedang kami rencanakan)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s