Faktor Penyebab Kelahiran Sungsang
|
||
| Read more… |
|
||
| Read more… |
|
|
Pembengkakan kaki yang dialami ibu hamil, menjelang kelahiran, sudah biasa. Namun jika kondisi tersebut disertai pusing atau sakit kepala, mual, muntah dan nyeri di perut, sebaiknya segera waspada. Periksa kondisi ini ke dokter, karena siapa tahu Anda mengidap preeklampsia. |
![]() |
|
diambil dari ::conectique::
| Bagi balita | |
| - | Pakai bangku keselamatan khusus anak-anak yang tersedia dalam berbagai jenis dan ukuran sesuai usia dan bobot tubuh. |
| - | Disain bangku khusus anak terbaik adalah yang memiliki sabuk pengikat di 5 titik ( 2 melindungi pinggul, 2 melindungi bahu dan 1 untuk diselipkan di antara kaki). |
| - | Bangku khusus ini wajib dikenakan anak-anak usia dibawah 6 tahun dan diletakkan di baris kedua. |
|
1. Hari pertama menstruasi terakhir
Metode ini membutuhkan pengetahuan Anda tentang siklus menstruasi. Berdasarkan siklus, dokter bisa memperkirakan usia kehamilan dan tanggal kelahiran si kecil yang dihitung berdasarkan rumus Naegele, yakni hari ditambahkan 7, bulan dikurangi 3, tahun ditambahkan 1. Contohnya, bila menstruasi terakhir tanggal 1 Mei 2005, diperkirakan persalinan akan terjadi pada 8 Februari 2006. Sebagai catatan, untuk bulan yang tidak bisa dikurangi 3, misalnya Januari, Februari, dan Maret, maka bulannya ditambah 9, tapi tahunnya tetap. Read more…
|
Bayangkan, jika ukuran panggul calon ibu sempit, namun bayi dalam rahim sangat besar. Apa yang akan terjadi? Tentu saja, melahirkan melalui proses normal tidak akan mungkin dilakukan dan operasi caecar adalah solusi. |
![]() |
Untuk mengantisipasi kondisi ini, pada usia kehamilan 36 minggu, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul. Hasil pemeriksaan bisa membuat dokter menentukan apakah ibu hamil akan melahirkan secara normal, atau tidak. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengukur luas rongga panggul. Semakin luas panggul ibu, dipastikan semakin mudah bayi keluar. Sebenarnya, melalui mata telanjang calon ibu bisa mengetahui luas panggulnya. Kalau ibu bertubuh tinggi besar, bisa dipastikan ukuran panggulnya relatif luas. Sedangkan ibu yang tidak terlalu tinggi, hanya 150 cm atau malah kurang, kemungkinan besar ukuran panggulnya kecil dan sempit. Namun calon ibu yang bertubuh kecil, jangan berkecil hati. Pengamatan ini hanya asumsi. Pemeriksaan yang akurat hanya bisa dilakukan secara klinis dengan rontgen. |
|
Kontroversi tentang pemeriksaan ultrasonografi atau USG pada ibu hamil masih berlanjut. Ada pendapat yang menghubungkan kekerapan USG dengan gangguan perkembangan janin dalam kandungan. Itu sebabnya, hingga kini banyak ibu-ibu hamil yang hanya bersedia satu atau dua kali saja menjalani pemeriksaan USG. Sebenarnya apa sih kegunaan pemeriksaan USG? Amankah? Kapan sebaiknya melakukan pemeriksaan USG saat hamil? |
|
| USG atau ultrasonografi adalah | |
|
|
Sebuah scanner khusus yang diletakkan di kulit untuk mengetahui kondisi kesehatan, usia, berat dan ukuran janin dalam kandungan. Alat ini digunakan dalam dunia kedokteran kandungan dunia pertama kali pada 1961. Dan baru digunakan oleh kedokteran kandungan Indonesia sekitar tahun 80-an. Setelah itu, seriring perkembangan dan kemajuan teknologi, USG berkembang. Semula dikenal USG 2 dimensi, kini ada USG 3 dan 4 Dimensi. |
Apakah fungsinya? Secara prinsip, ketiga USG ini memiliki fungsi yang sama, yaitu;
|
diambil dari ::conectique::
|
||||
|
|
|
Kondisi ibu yang sedang hamil seringkali sangat dicemaskan. Akibatnya, segala macam aktivitas fisik, termasuk olahraga dijauhi. Kebanyakan ibu hamil berasumsi bahwa jika banyak bergerak maka risiko keguguran akan meningkat. Hal tersebut tidak benar! Justru, perubahan fisik karena kehamilan harus dibarengi dengan olahraga. Aktivitas fisik yang teratur membuat, otot-otot tubuh menjadi lentur, napas teratur dan tubuh tidak mudah lelah sehingga kelak ibu akan sukses mengejan kala bersalin. Nah, salah satu olahraga yang paling disarankan untuk ibu hamil adalah berenang. Mengapa? Selain aman dilakukan pada tiap trimester, olahraga di dalam air memiliki risiko yang sangat kecil terhadap cidera tulang, sendi dan otot. |
Anak-anak yang pada masa usia mulai nol hingga lima tahun harus mendapatkan nutrisi sesuai dengan kebutuhannya, karena kurangnya salah satu unsur saja akan membuat pertumbuhan mereka terganggu.
Salah satu unsur itu misalnya zat besi. Apabila anak-anak menerima asupan makanan dengan tingkat kandungan zat besi yang rendah maka berakibat terjadinya defisiensi pada otak (berkurangnya kemampuan kerja otak), walaupun mereka memperoleh penanganan medis sejak awal, demikian dilaporkan oleh para peneliti Amerika.
Hasil penelitian terhadap 185 remaja Costa Rica menunjukkan bahwa mereka yang pada masa usia balita mengalami kekurangan zat besi pada nutrisinya semasa lima tahun pertama dalam kehidupan mereka, tak pernah lulus tes daya ingat dan daya kemampuan belajar, dan semakin besar kekurangan zat besi pada nutrisi yang diperolehnya pada usia hingga lima tahun maka semakin buruk pula kondisinya bersamaan dengan bertambahnya umur mereka.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pediatri dan Remaja memperlihatkan betapa pentingnya nutrisi pada usia awal sejak bayi hingga lima tahun, demikian para peneliti melaporkan.
“Apabila dampak langsung dan tak langsung dari kekurangan unsur zat besi yang mengakibatkan terganggunya atau tertundanya perkembangan dasar otak maka dapat terjadi efek ‘bola salju’ (semakin lama semakin parah),” kata Dr. Betsy Lozoff dari the University of Michigan di Ann Arbor, yang memimpin penelitian.
Lozoff dan rekan-rekannya yang didanai oleh Lembaga Kesehatan Negara (AS) mempelajari 185 anak sejak berusia satu tahun.
Anak-anak tersebut diperiksa pada kunjungan pertama mereka untuk mengetahui seberapa besar kekurangan zat besi yang mereka derita dan diberikan tes kognitif (kemampuan berpikir) secara berkala sesuai dengan usia mereka untuk mengetahui kemampuan mereka dalam hal belajar, berpikir dan mengingat.
Balita yang menerima nutrisi dengan kandungan unsur zat besi dengan tingkat yang rendah diberikan asupan makanan tambahan namun kadar besi tersebut tak dapat membuat kemampuan daya otak mereka ketingkat normal bahkan pada bayi-bayi yang didiagnosa anemia (kasus kekurangan zat besi yang sering terjadi)
Para peneliti kemudian membandingkan 53 bayi dengan defisiensi (kekurangan) zat besi kronis dengan 132 bayi-bayi normal.
Diantara anak-anak balita yang berasal dari keluarga dengan strata sosial menengah perbedaan kemampuan kognitifnya tidaklah tajam mulai dari masa bayi hingga mencapai usia remaja.
“Namun pada anak-anak balita dari keluarga dengan tingkat sosial rendah terlihat meningkatnya perbedaan ketidak-mampuan kognitif mereka seiring dengan pertambahan usia mulai dari angka 10 pada usia balita dan menjadi angka 25 pada usia 19 tahun, demikian dilaporkan peneliti dari Universitas Michigan tersebut.
Seperlima dari dua puluh lima persen anak di dunia menderita defisiensi zat besi dalam kasus anemia yaitu kondisi dimana kurangnya zat besi yang menimbulkan masalah dengan sel darah mereka.
Hasil penelitian yang kedua yang juga dimuat pada jurnal yang sama menemukan bahwa anak-anak yang minum susu formula dari botol setelah usia satu tahun cenderung untuk mengalami defisiensi zat besi dibandingkan dengan anak-anak yang juga minum susu formula dengan usia sama namun minum dari gelas.
Dr. Trenna Sutcliffe beserta rekan-rekannya dari the University of Toronto memantau dan mengetes sebanyak 150 anak-anak yang sehat dengan kisaran usia 12 hingga 38 bulan yang minum susu formula.
Mereka menemukan 37 persen anak-anak yang minum susu formula dari botol dan 18 persen yang minum susu sapi dari gelas, tingkat zat besi dalam nutrisi mereka sedikit agak rendah dari yang dibutuhkan.
“Botol susu tersebut agaknya menjadi alat yang menyebabkan konsumsi susu formula yang berlebihan sehingga anak-anak yang sudah kenyang akan asupan susu formula akan menolak untuk makan makanan lainnya yang mempunyai kandungan zat besi yang tinggi,” demikian seperti dilaporkan para peneliti.
(Idionline/KCM) diambil dari ::keluargasehat::
komentar pengunjung