Istri Lebih Agresif Saat Hamil


Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Kehamilan ternyata memengaruhi dorongan seksual wanita. Sebagian wanita justru meningkat dorongan seksualnya. Namun, pada mereka yang banyak mengalami mual dan muntah, terjadi sebaliknya.

Kasus:

“Saya seorang suami yang sudah menikah 2 bulan, dan kini saya merasa bahagia karena istri sudah telat menstruasi. Saya dan istri saling mencintai dan berharap anak saya nanti lahir sehat dan normal. Karena itu, saya mencoba tidak melakukan hubungan suami istri agar tidak mengganggu kehamilan. Sejak kami berpacaran dulu kami sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Namun, setelah kami menikah, saya menemukan keanehan pada diri istri saya. Saya merasakan nafsu seks istri saya meningkat dan sangat agresif sekali merangsang saya. Saya sering sekali menahan nafsu, bahkan sempat saya merasakan sakit pada alat vital saya yang ereksi. Yang ingin saya tanyakan, sering menahan nafsu saat ereksi apakah bisa menyebabkan impotensi atau gangguan yang lain di alat kelamin saya? Bagaimana memberi penjelasan pada istri saya supaya ia tidak merangsang saya setiap malam agar tak terjadi hubungan seks?”

(W.W., Surabaya)

Jawaban:

Pengaruh Kehamilan

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh kehamilan terhadap aktivitas seksual pasangan suami istri. Ternyata kehamilan memang memengaruhi aktivitas seksual.

Bagi sebagian wanita, kehamilan justru meningkatkan dorongan seksual. Sebagian lainnya tidak berpengaruh. Sementara, bagi wanita yang lain, kehamilan justru menekan atau menurunkan dorongan seksual.

Mengapa terjadi perbedaan pengaruh kehamilan terhadap dorongan seksual wanita? Perbedaan ini ditentukan oleh sejauhmana perubahan fisik dan psikis yang terjadi selama kehamilan berpengaruh terhadap kesehatan dan fungsi seksual wanita yang hamil tersebut. Selain itu tentu juga dipengaruhi oleh sikap dan perilaku seksual suaminya.

Dorongan Seks Naik

Terdapat perbedaan dalam perilaku seksual wanita hamil dan pasangannya. Selama tiga bulan pertama kehamilan, terdapat variasi keluhan dan perilaku seksual di kalangan wanita hamil.

Wanita yang mengalami keluhan mual dan muntah hebat, merasakan dorongan seksualnya menurun, yang mengakibatkan berkurangnya frekuensi semua aktivitas seksual. Keadaan ini mudah dipahami karena mual dan muntah yang terjadi selama hamil muda cukup menimbulkan gangguan bagi kesehatan tubuh secara umum.

Sebaliknya, pada sebagian wanita yang tidak diganggu oleh muntah atau keluhan-keluhan lain, justru mengalami peningkatan dorongan seksual. Ekspresinya, tentu pada frekuensi hubungan seksual yang semakin sering. Tentu saja kalau pasangannya bersedia untuk itu.

Namun, kalau pasangannya merasa tidak bergairah karena tak tertarik kepada istrinya yang mengalami perubahan fisik, frekuensi hubungan seksual menjadi semakin jarang. Selama tiga bulan kedua kehamilan, 80 persen wanita hamil merasakan peningkatan dorongan seksual dan reaksi seksualnya.

Ternyata banyak laki-laki yang gemar melakukan hubungan seksual ketika pasangannya hamil dalam tiga bulan kedua. Kegemaran ini, boleh jadi disebabkan oleh meningkatnya dorongan seksual dan reaksi seksual pasangannya yang hamil itu.

Sebab lain, barangkali karena temperatur vagina menjadi lebih hangat pada masa kehamilan, sehingga memberikan rangsangan seksual yang lebih erotis.

Hamil Tua Menurun

Sebaliknya, selama tiga bulan terakhir masa kehamilan, kelelahan terasa meningkat, sehingga dorongan seksual dan reaksi seksual menurun. Akibatnya, frekuensi hubungan seksual menjadi sangat berkurang.

Di pihak laki-laki, ada alasan juga mengapa enggan melakukan hubungan seksual pada masa tiga bulan terakhir kehamilan pasangannya. Demi kesehatan istri dan bayi di dalam rahim, merupakan alasan yang banyak dikemukakan.

Sementara pihak wanita sendiri menduga bahwa bentuk fisiknya yang dalam keadaan hamil besar, tidak lagi mempunyai pesona seksual bagi laki laki. Tidak aneh kalau sang suami tak tertarik melakukan hubungan seksual pada masa itu. Sebagian lain melakukannya dengan posisi tertentu atau melakukan aktivitas seksual selain hubungan seksual.

Jadi, bukan hal yang luar biasa kalau istri Anda mengalami peningkatan dorongan seksual dan ingin lebih sering melakukan hubungan seksual. Masalahnya, Anda tidak dapat memenuhi keinginannya karena alasan tertentu.

Perhatikan Keinginannya

Sayang Anda tidak menjelaskan mengapa Anda memilih menahan dorongan seksual daripada melakukan hubungan seksual seperti keinginan istri. Padahal, tak ada alasan yang mutlak untuk tidak boleh melakukan hubungan seksual selama hamil. Seharusnya Anda pikirkan apakah alasan tidak memenuhi permintaannya untuk melakukan hubungan seksual itu benar atau tidak.

Tidak ada akibat buruk apa pun karena menahan dorongan seksual seperti yang Anda lakukan. Jadi, tidak akan mengakibatkan disfungsi ereksi atau gangguan lain pada penis.

Anda harus memikirkan keinginan istri untuk melakukan hubungan seksual. Kalau dia berusaha merangsang Anda setiap malam, tentu Anda mengerti bahwa dia ingin melakukan hubungan seksual. Itu adalah sesuatu yang normal, termasuk dalam keadaan hamil seperti uraian di atas.

Kalau Anda tidak menghendaki istri melakukan rangsangan setiap malam, Anda dapat sampaikan melalui komunikasi yang baik. Tentu saja dengan alasan yang benar.

Namun, sekali lagi, Anda juga harus memperhatikan keinginan seksual istri. @

diambil dari ::kompas::

About these ads

12 gagasan untuk “Istri Lebih Agresif Saat Hamil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s