Syukuran 4 Bulan Kehamilan


Assalamualaikum….pak ustadz

Saya mau bertanya, apakah ada hadist tentang acara empat bulanan atau tujuh bulanan yang sering dilakukan oleh orang orang kebanyakan? Apa hukumnya?

Terima kasih atas penjelasan dari ustadz.

Wassalamualaikum. Wr. Wb

Supri Wijayanto
supri_w at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sepanjang apa yang kami ketahui tentang ajaran Islam dan dalil-dalilnya, kami belum pernah menemukan perintah bagi orang hamil untuk mengadakan acara empat bulanan atau tujuh bulanan.

Karena tidak ada perintahnya, maka hukumnya tidak merupakan sunnah, apalagi kewajiban. Tetapi apakah hukumnya menjadi haram atau tidak, di situ para ulama seringkali berbeda pendapat.

Sebagai ulama seringkali mengharamkan segala bentuk aktifitas yang tidak ada dalilnya dari sunnah Rasulullah SAW. Bagi mereka, melakukan semua itu termasuk mengada-ada dalam perkara agama. Istilah yang sering digunakan adalah bid’ah.

Hukumnya haram dan tidak boleh dilakukan. Bahkan ada dosa tersendiri bila melakukan hal itu.

Maka buat kalangan ini, apa pun nama perayaannya, semua bid’ah. Ulang tahun, maulid, tujuh bulan, isra’ mi’raj, nuzulul Quran, halal bi halal dan sederet perayaan lainnya, hukumnya haram. Berdosa kalau dikerjakan.

Namun sebagian ulama lainnya agak sedikit berbeda dalam menilainya. Bagi mereka, perkara-perkara yang tidak ada dasar pensyariatannya belum tentu menjadi haram atau bid’ah. Kecuali bila perkara itu termasuk ke dalam prosesi ritual peribadatan.

Sehingga berbagai bentuk perayaan yang di dalamnya tidak terkait dengan masalah ritual keagamaan, hukumnya tidak haram dan bukan bid’ah. Kecuali bila di dalamnya ada hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti syirik, khamar, ikhtilath antara laki dan perempuan, zina, judi, penipuan dan seterusnya. Semua hukumnya haram, namun keharamannya karena memang acaranya adalah sebuah kemungkaran.

Adapun bila acara itu sekedar tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, maka masih jadi ajang perbedaan pendapat. Sebab begitu banyak fenomena sosial yang terdapat di sekeliling kita, namun tidak pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. Lalu apakah semua itu bisa dikatakan bid’ah dan pelakunya masuk neraka? Di sinilah para ulama berbeda pendapat sejak dulu sampai kini. Dan akan terus berbeda pendapat entah sampai kapan.

Yang penting buat kita, pendapat mana pun yang kita ikuti, semua punya dasar pemikiran yang telah dipikirkan masak-masak dan telah diijtihadkan oleh para ulama. Maka kurang pada tempatnya bila kita menuduh saudara kita sesat hanya karena dia punya pendapat yang tidak sama dengan pendapat kita.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

(eramuslim)

About these ads

103 thoughts on “Syukuran 4 Bulan Kehamilan

  1. klo segala perkara tergantung pada niat tanpa ada dasar dari rhasul,,,apakah bisa????? contoh kita maling dengan niat lapar,,,,apakah itu tidak dosa???

  2. kalo saya ambil positipnya saja…soalnya teman2 pengajian bbrpkali mengadakan acra spt itu yaa….ngumpul baca alquran dengar tausiah… Sholawat juga..daripd ngumpul ngerumpi….fitnah akhirnya.

  3. Bid’ah itu sejak zaman ulama salaf dahulu sudah menjadi kontrofensi diantara kalangan ulama, artinya pandangan ulama terhadap bid’ah itu terbagi dua :1) ada yang sayyi’ah dan hasanah dan 2) ada yang sayyiah semuanya. sementara ulama yang menyatakan bid’ah itu ada yang hasanah diantaranya seperti Imam Syafii dalam Thobaqotusyafi’iyyah, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Imam Nawawi, Syeikh Izzudin Ibnu Abdissalam dalam Qowaidul Ahkam
    bahkan dari kalangan mazhab hanafi, mazhab maliki, dan syafii, di dalam kitabnya masing-masing, mereka mengakui akan adanya bid’ah hasanah.
    mereka berfaham seperti itu karena cara pandang berfikir mereka itu sangat dalam terhadap memahami hadits-hadits Nabi, tidak memahami secara zhohiriyah saja.
    Kalau dikatakan semua bid’ah itu semuanya sesat sebagaimana dalam hadits: “semua bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dineraka” tentu tidaklah tepat didalam memahami hadits tersebut. Imam Nawawi dalam syarah Muslim berkata: “ini dalil yang umum yang ditakhsis atau dikhususkan .Tentu hadits ini bersifat Umum, namun keumuman hadits ini dapat ditakhsis dengan dalil yang lain artinya tidak semuanya bid’ah itu sesat, namun ada juga bid’ah yang hasanah sebagaimana imam syafii katakan:”bid’ah itu ada dua terpuji dan tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah maka bid’ah yang terpuji dan apa yang menyalahi sunnah maka bid’ah yang tercela (fathul bari).bahkan syeikh Izzudin Abdussalam mengatakan dalam Qowaidul ahkam “bid’ah itu terbagi lima:Wajib,Sunnah, Haram, Makruh dan Mubah.dan ini pun telah diakui oleh para ulama seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi dll.
    Dan jangan difahami dengan ada kalimat “Kullu bid’atin dholalah” pada lafadz kullu ini difahami dengan makna umum atau mutlak. Karena ada firman Allah yang berbunyi” فتحنا عليهم أبواب كل شيء artinya “kami bukakan atas ,mereka ( orang-orang yang ingkar) semua pintu sesuatu (Q.S Al-an’am:44) ”kalimat “kullu dan syai’” itu umum namun bermaksud khusus karena ada pintu yang Allah tidak buka yaitu pintu rahmat buat orang yang ingkar. Begitu juga pada surat alahqof:25:” تدمر كل شيء artinya: angin yang menghancurkan segala sesuatu” lafadz kulla syai’ kalau diartikan secara harfiyyah semuanya hancur, tetapi gunung, langit dan bumi tidak hancur. Dalam surat an-Naml : 23 وأوتيت من كل شيء artinya: dan Ratu Balqis diberikan dari semua sesuatu” pada lafadz kullu syai’ ini pun tidak difahami semuanya diberikan kepada Ratu Balqis, karena singgasana dan kekuasaan yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman tidak diberikan kepada Ratu Balqis. Alhasil tidak semua yang dalil yang menunjukkan ma’na kullu bersifat umum tentu ada pengecualiannya
    Coba cermati dalil lain yang dijadikan pegangan oleh ahli tabdi’ yang berbunyi:
    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    Siapa yang membuat yang baru dalam urusan agama kami yang tidak ada dari agam kami maka tertolak. HR Muslim.
    Syeikh Abdullah alharori dalam Shorihul bayan mengatakan:” kalimat “MA LAYSA MINHU” maksudnya adalah muhdats (perbuatan yang baru) sesungguhnya perbuatan itu tertolak jika menyalahi syari’at, akan tetapi bila perbuatan muhdats itu sesuai dengan syari’at maka tidak tertolak”. Karena mantuq hadits tersebut adalah perbuatan muhdats yang menyalahi syara’ maka tertolak,mafhumnya bila perbuatan muhdats itu tidak menyalahi syara’ maka diterima. Alhasil perbuatan muhdats itu ada yang sesuai dengan syara’ maka disebut bid’ah hasanah, bila perbuatan muhdats itu menyalahi syara’ maka disebut bid’ah dholalah.
    Syari’at yang merupakan standar rujukan amal ibadah adalah sesuatu yang telah ditetapkan dari alqur’an,hadits, atsar, dan ijma’. Dengan demikian setiap perbuatan yang telah ditetapkan atau dilarang dalam alqur’an dan hadits lalu disalahi maka itu disebut bid’ah dholalah seperti Shalat zuhur yang empat rokaat lalu dikerjakan lima rokaat, maka disebut bid’ah dholalah. Atau dilarang puasa pada hari tasyriq, lalu dilakukan puasa pada hari tasyriq, maka perbuatan itu disebut bid’ah dholalah dan itu ditolak. Karena bertentangan dengan syari’at. Akan tetapi bila perbuatan itu tidak ada didalam syari’at maka itu bukan disebut bid’ah apalagi dholalah, hal ini difahami dari teks hadits tersebut sebagai sumber timbulnya pengertian bid’ah. Oleh karena itu bila ada perbuatan yang tidak ada dasarnya baik itu ditetapkan atau ditiadakan, jangan lebih dahulu divonis bahwa itu perbuatan bid’ah dholalah. Lihat dulu apakah ada dalil yang memerintahkannya atau melarangnya, bila tidak ada maka perbuatan itu kembali ke hukum asal yaitu mubah, dan bernilai pahalanya tergantung pada niatnya. Lihatlah dibawah ini beberapa dalil hadits Nabi yang mencontohkan bagaimana perbuatan sahabat yang dilakukan tanpa dasar petunjuk dari Nabi, dan Nabi mensikapinya dengan bijak.
    .
    dibawah ini dalil-dalil yang mentakhsiskan keumuman hadits diatas Diantaranya:
    1. Dari saidina Umar yang berkata “ni’mati bid’atu hadzihi” dasar ini memang sempat dibantah oleh orang-orang tabdi’ dengan mengatakan bahwa shalat berjama’ah sudah ada dimasa rasululloh saw sehingga kata-kata bid’ah yang dilontarkan oleh saidina Umar itu dikatakan bid’ah lughowiyyah. Tapi apakah demikian maksud saidina Umar, kita lihat keterangan para ulama, diantaranya
    Ibnu hajar dalam fathul bari mengatakan:”(berkata Umar sebaik-baik bid’ah adalah ini) dalam sebagian riwayat lafadznya” Ni’matil bid’atu” dengan tambahan ta, bid’ah pada asalnya, apa-apa yang di adakan tanpa contoh terlebih dahulu, sementara dalam syara’ yang bertentangan dengan sunnah, maka itu tercela,sebenarnya bahwa bid’ah itu jika masuk dibawah sesuatu yang dipandang bagus pada syara’ maka dia bid’ah hasanah, dan jika masuk dibawah sesuatu yang dipandang buruk oleh syara’ maka bid’ah yang buruk, jika tidak demikian, maka dia termasuk bid’ah yang mubah. Sungguh bid’ah itu terbagi lima macam. Dan perkataan Saidina Umar (dan yang tidur itu lebih utama) ini menjelaskan maksud dari perkataan saidina Umar diatas ( ini sebaik-baik bid’ah) bahwa shalat di akhir malam itu lebih utama dari awal malam”.demikianlah Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Saidina Umar . Dari perkataan Saidina Umar tersebut dapat difahami sbb:
    1. shalat yang dilakukan dimasa Nabi itu sebelum tidur atau diawal malam, sementara yang dimasa Saidina Umar itu akhir malam. Jelas apa yang dilakukan Saidina Umar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Nabi.
    2. Shalat Jamaah yang dilakukan dimasa Nabi dahulu sempat diberhentikan oleh Nabi setelah Nabi mengetahui sahabatnya ikut shalat, bahkan Nabi tidak menganjurkan, bunyi haditsnya sbb: “ lalu orang-orang dari para sahabat shalat dengan shalatnya Nabi, tatkala Nabi tahu Nabi duduk, dan berkata:”sungguh aku telah tahu dari perbuatanmu, maka shalatlah dirumahmu wahai sahabat. Sungguh shalat yang paling utama adalah shalatnya sesorang dirumahnya , kecuali shalat fardhu”
    Dari keterangan tersebut dapat difahami, bahwa Nabi tidak menganjurkan para sahabat untuk shalat berjamaah, bahkan menyuruhnya shalat dirumah, kalau saja Nabi menganjurkan shalat berjama’ah setelah Nabi tahu akan kekhawatirannya diwajibkan shalat tersebut, tentu Nabi menyuruh sahabat yang lain untuk mengerjakan shalat berjama’ah tanpa Nabi, dan diimami oleh sahabat yang lain. Alhasil shalat terawih dengan berjama’ah pada saat Nabi tidak dianjurkan oleh Nabi, akan tetapi Saidina Umar sebaliknya, malah menganjurkan sahabat yang lain untuk shalat terawih dengan satu imam. Inilah yang dimaksud Saidina Umar sebaik-baik bid’ah.
    3. Penentuan jumlah rokaat shalat terawih, baik itu11 rokaat seperti riwayat dari Saib bin Yazid atau 20 rokaat seperti riwayat dari Saib Yazid dalam Mushonnaf Abdurrozaq. Sementara dimasa Nabi tidak ada keterangan ketentuan jumlah rokaat dalam shalat terawih, meskipun ada keterangan 11 rokaat dalam shohi bukhori, tapi itu bukan shalat terawih melainkan shalat witir, karena Nabi melakukannya dibulan romadhon dan diluar bulan romadhan.
    JADI SEBAIK-BAIK BID’AH ITU ADALAH: DISEBUT BID’AH KARENA PERBUATAN SAIDINA UMAR TIDAK SESUAI DENGAN ANJURAN NABI, DAN DISEBUT BAIK, KARENA SHALAT TERAWIHNYA TELAH DILAKUKAN OLEH RASUL.

    2. Hadits Nabi yang berbunyi”siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang yang mengikuti perbuatan itu” HR Muslim. Imam Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim: Hadits ini mentakhsiskan hadits yang berbunyi”setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” dan yang dimaksud hadits ini adalah bid’ah yang tercela. Syeikh Yusuf Said Hasyim Arrifai dalam arrod muhakkam almai’ mengatakan:” hadits ini meskipun datangnya tentang bershodaqoh, namun qo’idah ushul yang telah disepakati”sungguh kalimat yang dii’tibar itu dengan keumuman lafadznya bukan dengan kekhususan pada sebabnya”
    3. Hadits yang diriwiyatkan oleh said alkhudri yang dikeluarkan oleh Abu daud dan albany mengatakan hadits ini shohih yaitu” dua orang sahabat melakukan tayamum, lalu ketika ada air kedua sahabat tersebut melakukan perbuatan yang berselisih, yang satu tidak mengulang shalatnya dan yang satu mengulang shalatnya, akhirnya keduanya mengadu kepada Nabi, dan menceritkan halnya kepada Nabi: lalu Nabi menjawab: yang tidak megulang shalatnya telah menjalankan sunnah, sementara yang mengulang shalatnya mendapatkan dua pahala.” alhasil dari hadits ini Nabi tidak pernah melakukan mengulang shalat, namun sahabat yang mengulang melakukan perbuatan yang Nabi tidak lakukan, akan tetapi Nabi mensikapi dengan bijak dan tidak dilarang, bahkan memberikan respon yang baik
    4. Hadits dari A’isyah yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban” bahwa ada seorang laki-laki mengimami shalat membaca surat alikhlas terus, lalu sahabat bertanya kepada Nabi tentang perbuatan orang tersebut, dan Nabi balik bertanya kepada para sahabat, kenapa dia melakukan hal itu? lalu sahabat kembali bertanya kepada orang tersebut, dan dijawab, karena cinta dengan surat alikhlas, lalu sahabat menyampaikan hal itu kepada Nabi lagi, setelah itu Nabi berkata: katakan Allah mencintainya.” alhasil dari hadits ini, sahabat itu tidak melakukan perbuatan sebagimana Nabi lakukan, sehingga Nabi meminta sahabat kembali bertanya lagi, sebab kalau Nabi telah melakukan hal tersebut tentu Nabi tidak akan bertanya lagi. jadi sahabat itu melakukan perbuatan bid’ah. namun bid’ah yang hasanah, karena Nabi tidak melarangnya, sebagaimana difahami oleh mereka ysang membid’ahkan satu perbuatan yang terus-menerus dilakukan
    5. Ada hadits dari Qois bin Amer, yang dikeluarkan oleh Abu Daud” bahwa ada seorang laki-laki selesai shalat subuh melakukan shalat sunnah dua rokaat, lalu Nabi berkata: shalat subuh hanya dua rokaat, lalu orang tersebut menjawab, sungguh aku belum shalat qobliyah subuh. lalu Nabi diam dan tidak memarahi, karena orang tersebut melakukan perbuatan yang Nabi tidak pernah lakukan. dimana Nabi biasa melakukan qobliyah subuh sebelum sholat subuh. alhasil (perbuatan orang tersebut bid’ah tapi kebid’ahan tersebut masih bisa dimaaf oleh Nabi) hadits ini dinilai shohih oleh albany
    6. Hadits yang diriwayatkan oleh rafi’ azzuraqy, yang dikeluarkan oleh Imam Muslim” ketika Nabi sedang shalat dan bagun dari ruku lalu Nabi mendengar sahabat membaca” robbana walakalhamd hamdan katsiiron thoyyiban mubarokan, lalu setelah shalat Nabi bertanya, siapa yang membaca doa tersebut?lalu orang itu menjawab: saya. lalu Nabi mengomentari dengan baik, tidak melarangnya.” alhasil apakah doa ini pernah dibaca oleh Nabi sebelumnya atau dicontohkan oleh Nabi? tentu belum ada, dan ketika Nabi mendengar sahabat membaca itu Nabi tidak melarang dan tidak berkata kenapa engkau melakukan perbuatan yang aku tidak pernah lakukan? tapi justru Nabi mensikapi dengan bijak. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari: ini menjadi dalil atas bolehnya memperbaharui zikir dalam shalat yang bukan ma’tsur jika tidak menyalahi ma’tsur.
    7. Hadits yang dikeluarkan Bukhori, dari Saib bin Yazid: dahulu adzan jum’at awalnya apabila imam duduk di mimbar, pada masa Nabi, Abu Bakar,Umar, tatkala masa Saidina Usman dan orang-orang semakin banyak, maka bertambah adzan jum’at yang ketga di Zaura’ Ibnu Hajar mengatkan dalam fathul bari:” Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari jalan Ibnu Umar: berkata: Adzan pertama pada hari jum’at adalah bid’ah, maka bisa jadi itu atas jalan ingkar, dan bisa jadi yang dikehendaki bahwasanya tidak ada pada masa Nabi, dan semua yang tidak ada dimasa Nabi dinamakan bid’ah, tetapi setengahnya ada yang hasanah, dan setengahnya lagi ada yang menyalahi”
    8. Dalam Sunan Abu Daud riwayat yang datangnya dari Ibnu Umar bahwa beliau menambahkan zikir dalam tasyahud “Wahdahula syarikalah” dan beliau berkata: saya menambahkannya.

    Dan masih banyak lagi perkara yang tidak ada anjurannya dari Nabi, namun dilakukan oleh sahabat, seperti membukukan alqur’an member harkat dan titik pada alqur’an, menulis hadits dan membukukannya padahal nabi sendiri melarang menulis hadits selain alqur’an, membangun madrasah dll. hal seperti ini memang sempat disinggung oleh Syatibi dalam al-I’tishom: bahwa itu bukan disebut bid’ah melainkan masholihul mursalah karena ada maslahatnya. Boleh saja Imam Syatibi mengatakan demikian akan tetapi banyak dikalangan para ulama seperti Syeikh Izzudin Abdussalam dll mereka berpendapat bahwa itu bid’ah yang hasanah, karena bagaimanapun juga satu perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi disebut bid’ah sementar itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. Namun tidalah itu perbuatan yang Nabi larang dengan sebutan sebagai bid’ah dholalah, akan tetapi bid’ah hasanah sebagai perbuatan yang Nabi tidak di contohkan namun dipandang baik
    Jadi standar bid’ah yang hasanah adalah setiap perbuatan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi secara langsung, namun perbuatan itu telah dibenarkan dan disepakati oleh para ulama
    Seperti: 1. Peringatan Maulid Nabi saw 2. Peringatan Isra Mi’roj, 3. Berzikir bersama, 4 berdo’a bersama setelah shalat, 5 berjabat tangan setelah shalat/ zikir 6. Membaca surat Yasin bersama-sama, dll.
    walaupun ada dalil yang menyatakan dimana Ibnu Mas’ud melarang para sahabat berzikir bersama membaca tasbih, tahmid dan takbir, namun yang menjadi di i’tibar adalah perbuatan Nabi sebagaimana hadits diatas. Nabi tidak melarang sahabat melakukan perbuatan itu meskipun Nabi tidak melakukannya.
    Demikian tanggapan ini alfaqir tulis, semoga ada manfaatnyaAI HAI HAI

  4. Assalamu’alaikum wr wb. mohon maaf pak …. semua acara itu adalah Media kita untuk mendekatkan diri kepada Allah,yang penting media itu tidak bertentangan dengan Syariat Agama , Meminta Keselamatan, perlindungan, maupun apa saja , semua itu adalah media, Seperti contoh yang mudah saja ,kalau kita Makan tentu memakai tangan, kemudian kok ada orang makan pakek sendok, lah sendok itu adalah media untuk makan, sebab mungkin tangan kita kotor, mungkin juga tangan kita sakit, biar makanan bisa sampai kemulut tanpa beresiko pakek lah media sendok, begitu juga halnya acara-acara yang kita temui di hari ini, itu semua di buat media untuk berdo’a, meminta keselamatan meminta lain -lain yang bersifat pengharapan kepada Allah swt. seperti halnya kita berdo’a juga banyak sekali medianya, seperti Rajah-Rajah yang ditulis di sebua kertas itu semua adalah doa yang di tulis , hanya saja kita harus menjaga niat , sebenarnya itu adalah media do’a, contoh mudah saja kalau orang mau bicara kepada orang lain bisa dengan bertatap muka secara langsung, itu kalau kita saling dekat, berbeda dengan kalau kita jauh, bisa jadi kita pakek media surat atau media SMS , atau telpon, sama ketika kita mau Curhat sama Allah karena kita merasa begitu jauh dengan Allah , kita pakeklah media itu agar kejahuan kita bisa teratasi,semoga Allah memberikan Hidayah kepada kita semua amin, wassalam

  5. jawaban anda bijaksana,..sekedar tanggapan,
    EMPAT BULAN ATAU TUJUH BULAN ?
    Oleh : Ateng Usep Tirta Kusuma
    هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (١٨٩)
    “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah Tuhannya, seraya berkata, “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Al A’raf [7]: 189).

    M
    enurut Ulama, berdasarkan pada ayat ini, maka kehamilan terbagi menjadi dua, yaitu “Hamil Majazi” dan “Hamil Hakiki”. Ada-pun yang dimaksud dengan hamil majazi adalah di mana seorang wani-ta telah dinyatakan hamil, namun belum terasa berat akibat kehamilan-nya itu, atau_menurut ayat di atas_ disebut dengan hamil ringan.
    Adapun yang dimaksud dengan hamil hakiki adalah di mana seorang wanita yang hamil tersebut telah benar-benar nyata kehamilannya dan merasakan beratnya kehamilan tersebut_atau menurut ayat di atas_disebut dengan hamil berat.
    Salah satu tradisi yang berkembang di masyarakat berkenaan dengan kehamilan adalah acara selamatan empat bulanan, namun ada juga yang mengadakannya dengan tujuh bula-nan. Ketika usia kandungan mencapai empat atau tujuh bulan, maka diada-kanlah acara selamatan atau syukuran dengan mengundang sanak famili dan tetangga-tetangga dekat. Setelah me-reka berkumpul, biasanya acara dimulai dengan pembacaan surat Yu-suf dan surat Maryam, sebagai simbol dari bentuk permohonan kepada Tu-han. Dengan membaca surat Yusuf diharapkan jika kelak anaknya lahir laki-laki, maka akan sebaik dan seganteng nabi Yusuf as, sedangkan jika yang terlahir adalah perempuan, maka diharapkan anaknya akan secantik Siti Maryam.
    Pada dasarnya ritual empat bulanan ataupun tujuh bulanan merupakan tradisi yang baik karena sarat dengan dzikir dan do’a mohon keselamatan bagi wanita yang mengandung dan janin yang dikandungnya. Hanya saja menjadi keliru ketika hal ini dianggap satu kewajiban.
    Bagi yang melaksanakan empat bulan, biasanya mereka berpegang kepada hadits Nabi Saw sebagai berikut:
    اِنَّ اَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ اُمَِهِ اَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ اِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَاَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ اَوْسَعِيْدٌ … (رواه الشيخان).
    “Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan bentuk kejadiannya dalam bentuk nuthfah (air mani) selama 40 hari, kemudian menjadi ‘alaqah (darah yang beku) selama itu pula, lalu menjadi mudhgah (sepotong daging) selama itu juga. Kemudian diutus satu Malaikat kepadanya. Maka Malaikat itu meniupkan ruh padanya. Lalu Malaikat itu diperintah untuk menuliskan empat ketentuan yaitu, tentang rizkinya, umurnya, amalnya dan apakah termasuk ke dalam gologan orang yang celaka atau orang yang beruntung”. (HR. Bukhari Muslim).
    Mengacu pada hadits ini, sementara orang mengadakan acara syukuran empat bulanan dengan harapan agar apa yang ditentukan Allah kepada si cabang bayi adalah ketentuan yang paling baik. Acara semacam ini me-rupakan satu hal yang sangat positif, di mana proses pembentukan generasi yang shaleh di mulai dari sini.
    Bagi ummat Islam, proses pembentu-kan generasi yang shaleh sudah diusahakan semenjak bayi dalam kandungan. Itu sebabnya pada syuku-ran empat bulanan biasa dilantunkan ayat-ayat A Qur’an serta dzikir dan do’a-do’a yang ditujukan untuk keba-ikan dan keselamatan serta kesejahte-raan si cabang bayi dan bagi kedua orang tuanya. Salah satu contoh do’a yang biasa dibaca adalah:
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحََّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحََّدٍ. اَللَّهُمَّ اِنْ كَانَ فِيْ بَطْنِهَا غُلاَمًا فَاجْعَلْهُ صَالِحًا جَمِيْلاً صَحِيْحًا سَلِيْمًا عَالِمًا عَامِلاً مُطِيْعًا اَدِيْبًا غَنِيًّا سَخِيًّا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ. وَ اِنْ كَانَ فِيْ بَطْنِهَا جَارِيَةً فَاجْعَلْهَا صَالِحَةً جَمِيْلَةً صَحِيْحَةً سَلِيْمَةً عَالِمَةً عَامِلَةً مُطِيْعَةً اَدِيْبَةً غَنِيَّةً سَخِيَّةً مُوَفَّقَةً لِلْخَيْرَاتِ. اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَهُ فِيْ اَهْلِ السَّعَادَةِ فَأَثْبِتْهُ فِيْهَا وَ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَهُ فِيْ اَهْلِ الشَّقَـاوَةِ فَامْحُهُ مِنَ اْلاَ شْقِيَاءِ وَاَثْبِتْهُ مِنَ السُّعَدَاءِ. فَاِ نَّكَ تَمْحُوْ مَـا
    تَشَاءُ وَ تُثْبِتُ وَعِنْدَكَ اُمُّ الْكِتَابِ.
    “Ya Allah, curahkanah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada seluruh keluarganya. Ya Allah, jika yang ada dalam rahimnya itu seorang bayi laki-laki, maka jadikanlah ia seorang anak yang shaleh, bagus rupanya, sempurna kejadiannya, selamat se-jahtera, luas ilmunya serta menga-malkannya, taat beragama, memiliki akhlak yang baik, banyak hartanya lagi pemurah, serta senantiasa mem-peroleh pertolongan dari Engkau dalam melakukan segala kebajikan. Dan jika yang ada dalam rahimnya itu seorang bayi perempuan, maka jadikanlah ia seorang anak yang shalehah, cantik rupanya, sempurna kejadiannya, selamat sejahtera, luas ilmunya serta mengamalkannya, taat beragama, memiliki akhlak yang baik, banyak hartanya lagi pemurah, serta senantiasa memperoleh pertolo-ngan dari Engkau dalam melakukan segala kebajikan. Ya Allah, seandai-nya Engkau telah menetapkannya ke dalam golongan orang-orang yang memperoleh kebahagiaan, maka te-tapkanlah ia didalam golongan orang-orang yang memperoleh keba-hagiaan itu. Akan tetapi jika Engkau telah menetapkannya dalam golo-ngan orang yang mendapat kecelaka-an, maka hapuslah ia dari golongan orang-orang yang celaka dan tetap-kanlah ia dalam golongan orang-orang yang memperoleh kebahagia-an. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa untuk menghapus sesuatu dan menetapkannya, dan hanya di sisi Engkaulah Ummul Kitab”.
    Lain halnya orang yang mengadakan prosesi tujuh bulanan. Selain mem-baca do’a di atas biasanya ditambah dengan do’a mohon keselamatan pada saat melahirkan. Hal ini_yakni syukuran tujuh bulanan_dilaksanakan bukan tanpa dasar. Perhatikan kembali firman Allah berikut:
    هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
    “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia me-rasa senang kepadanya. Maka sete-lah dicampurinya, isterinya itu me-ngandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah Tu-hannya, seraya berkata, “Sesungguh-nya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyu-kur”. (QS. Al A’raf [7]: 189).
    Ayat ini seakan-akan menganjurkan untuk memperbanyak berdo’a ketika seorang ibu mengandung, lebih-lebih ketika mendekati masa melahirkan.
    Kesimpulannya adalah, bahwa pada saat syukuran empat bulanan kita berdo’a agar apa yang menjadi ketentuan Allah yang akan berlaku pada cabang bayi merupakan ketentuan yang terbaik. Baik dari sisi rizki, usia maupun nasibnya. Sedang-kan pada syukuran tujuh bulanan kita juga berharap agar ibunda dari anak tersebut diselamatkan dalam melahir-kan serta kelak ketika lahir seorang anak, maka anak tersebut menjadi anak yang shaleh.
    Pada dasarnya syukuran empat bulan atau tujuh bulan merupakan suatu upaya dalam rangka membentuk ge-nerasi yang berkualitas yang diapre-siasikan dalam bentuk pembacaan dzikir dan do’a-do’a yang dipanjat-kan kepada Allah demi kebaikan sang anak manakala ia terlahir ke alam dunia. Tetapi sekali lagi, hal ini hanyalah satu tradisi yang baik dan positif manakala tetap dalam bingkai syari’at.
    Adapun bagi kedua orang tua hen-daknya jangan hanya berdo’a pada saat syukuran saja. Bahkan ketika pertama kali menanam benih ke dalam rahim kita sudah diajarkan untuk berdo’a. Rasulullah Saw bersabda:
    لَوْ اَنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا اَتَى امْرَاَتَهُ قَالَ: ” اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَ جَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنِيْ ” ثُمَّ كَانَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ، لَمْ يُسَلِّطِ اللهُ عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ اَوْ لَمْ يَضُرُّهُ. (رواه ابن ماجه)
    “Jika salah seorang di antara kamu apabila mendatangi istrinya berdo’a: “Ya Allah jauhkanlah syaitan dariku dan jauhkanlah setan dari apa yang telah Engkau rizkikan kepadaku”, kemudian lahir seorang anak, nisca-ya anak tersebut tidak akan dicelakai oleh syaitan”. (HR. Ibnu Majah).
    Islam memberikan jalan bahwa untuk mencetak generasi yang shaleh perlu diusahakan sejak dini. Mulai dari memilih calon pasangan, maupun pa-da saat pertama kali menanam benih hingga ketika istri mulai mengan-dung, seluruhnya tidak pernah lepas dari do’a dan munajat kepada Allah.
    Bagi yang berpendapat lain, jangan sampai menjadi perdebatan yang hanya akan berujung pada perpecahan. Malahan, mestinya perbedaan pendapat yang kerap terjadi seharusnya diarahkan kepada usaha untuk memperdalam khazanah pengetahuan. Wallahu A’lam [].

  6. bid’ah adalah menada-ada dalam ibadah.
    yang tidak ada dalam tutunan sunah maupun qur’an diada-adakan, yang sifatnya sunah dianggap wajib, yang bukan syarat sah dianggap syarat sah ibadah. termasuk mencari-cari keselamatan dengan cara-cara yang tidak ada tuntunannya walaupun dihiasi dengan prosesi membaca al Qur’an dan do’a secara islam. karena unsur ibadah dalam islam antara lain : niat, cara, dan bacaan/do’a, salah satunya tidak sesuai tuntunan maka jadi bid’ah alias mengada-ada.
    bagaimana mensikapiny?
    jangan menganggap ritual macam tu, as ibadah, atau cari keselamatan, boleh terus berjalan, anggap acara family dengan ada baca-baca al Qur’an dan do’a. atau arisan kah… boleh semua tu

    • janganlah kita tergesa-gesa menuduh bid’ah dan sebagainya, karena banyak ibadah yang kita laksankan sudah benar adanya, Ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw tidak bisa difahami secara tekstual karena ada ajaran yang tersirat di dalamnya yang boleh jadi orang awam semacam kita tidak dapat menangkapnya. contoh puasa hari kelahiran. memang Nabi tidak langsung menganjurkan puasa tersebut, lihat sabda Rasulullah Saw berikut :

      عَنْ اَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلإثْنَيْنِ. فَقَالَ: ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمَ بُعِثْتُ اَوْ اُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ (رواه مسلم)

      “Dari Abu Qatadah ra, bahwasanya Rasulullah telah ditanya tentang puasa pada hari senin. Beliau bersabda, “Pada hari itu aku dilahirkan, pada hari itu pula aku diutus menjadi Rasul atau pertama kali wahyu diturunkan kepadaku”. (HR. Muslim).

      Pada hadits tersebut jelas menyatakan bahwa Rasulullah melaksanakan puasa karena bersyukur atas hari kelahirannya dan anugerah yang telah diberikan Allah kepadanya yakni dengan diturunkannya Al Qur’an. Kita sama-sama memaklumi bahwa Rasulullah Saw adalah seorang yang tidak memiliki banyak harta dan materi lainnya, sehingga puasa merupakan jalan yang lebih mudah ditempuhnya.

      Namun bagi orang yang memiliki kelebihan harta, maka tidaklah salah ketika mengapresiasikan syukur dalam bentuk lain, misalnya dengan mengundang sejumlah orang untuk berdo’a bersama pada hari ulang tahun tersebut dan mengadakan jamuan alakadarnya karena menghormati tamu. Rasulullah Saw bersabda:

      … مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَالْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ… (متفق عليه)

      “..Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya”.(Mutafaq ‘Alaih).

      Secara tegas memang tidak ada hadits yang secara langsung menunjuk pada perintah untuk mengadakan syukuran atau sejenisnya, apalagi yang melarangnya. Namun jika dihayati dengan baik, maka pernyataan Rasulullah tersebut setidaknya mengandung dua macam hikmah, yaitu:

      1. Bolehnya mengadakan syukuran hari ulang tahun yang dihiasi dengan do’a-do’a dan saling berbagi kepada sesama, sebagai bentuk ibadah lain dari puasa.

      2. Dianjurkan untuk senantiasa bersyukur atas segala karunia Allah dengan melakukan pendekatan diri kepada Nya, antara lain dengan berpuasa, atau ibadah-ibadah lain yang bermanfaat bagi pribadi maupun masyarakat.

      Budaya syukuran apapun jenisnya, merupakan tradisi yang baik sebagai bentuk lain dari apresiasi rasa syukur seorang hamba kepada Allah selama dilaksanakan dengan niat yang lurus yang hanya mengharapkan keridha’an Allah dan jangan sampai acara syukuran tersebut hanya sebatas ajang untuk pamer belaka.

      اِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ اِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ (رواه النسائي عن ابي امامة)

      “Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi tidak akan menerima amal pibadah kecuali yang dilaksanakan dengan ikhlas dan hanya mengharapkan keridhaan Nya”. (HR. An Nasa’i dari Abu Umamah).

      lalu arti syukur menurut sebagian Ulama adalah :

      اَلشُّكْرُ: اَلثَّنَاءُ عَلَى الْمُحْسِنِ بِذِكْرِ اِحْسَانِهِ

      “Syukur adalah: memuji-muji kepada yang telah memberikan kebaikan (yakni Allah Swt) dengan menyebut-nyebut kebaikan Nya (karunia Nya)”. (lihat Syekh Muhammad Nawawi Bin Umar Al Jawi, Nashaihu Al ‘Ibad, hal. 24)

      dan ada juga yang mengartikannya dengan :

      اِجْرَاءُ اْلأَعْضَاءِ فِيْ مَرْضَاتِ اللهِ وَ اِجْرَاءُ اْلأَمْوَالِ فِيْهَا

      “Syukur adalah menggerakkan anggota badan (potensi diri) dan harta pada jalan yang diridhai Allah”. (lihat pada kitab yang sama hal : 47)

      Bagi orang yang tidak mau melaksanakannya, hendaklah jangan memberikan komentar yang hanya menebar bibit perpecahan. Hidup dalam perbedaan itu sudah merupakan ketentuan Allah, tinggal bagaimana cara kita hidup dalam perbedaan dengan tetap mengedepankan kebijaksanaan dan azas kekeluargaan. Wallahu A’lam.

  7. kalau ada arisan, rapatrapat atau pertemuan keluarga, dan kegiatan lainnya yang biasa dilakukan dimasyarakat secara rutin tetapi kemudian ada seorang ustadz/ah mengisi pertemuan itu dengan tausyiah, apakah itu tidak boleh? apakah kalau pengajian itu harus langsung pengajian, tidak ada acara-acara seperti pembacaan riwayat nabi, nasyid dll, apakah itu bid’ah? mohon penjelasan.jzkh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s