Pusingnya jika Anak Keras Kepala


RITA, 39, setiap hari dibuat pusing oleh tingkah Lukas, anak lelakinya yang kini berusia enam tahun. Setiap mempunyai keinginan dan tidak dikabulkan, Lukas marah besar. Ulahnya pun bisa bermacam-macam. Mulai memukuli Rita, membanting barang, menangis berjam-jam, sampai menangis berguling-guling, tidak peduli sedang di tempat ramai seperti mal sekalipun.

“Kalau sedang baik, Lukas sangat manis. Dia juga bisa menunjukkan rasa sayang. Tapi kalau sedang ada maunya dan tidak dituruti, ulahnya bisa bermacam-macam dan membuat pusing. Pernah dia sakit dan kami paksa ke dokter. Saat akan disuntik, dokternya ditendang dan susternya digigit,” papar Rita.

Karena adatnya yang jelek, Rita dan suaminya terkadang malas mengajak Lukas jalan-jalan ke mal. “Padahal anaknya senang. Tapi meski sudah janji tidak berulah, saat ingin mainan dan tidak kita turuti, dia tetap menangis berguling-guling. Terkadang saya bingung dan sedih melihat sifat Lukas,” ujar Rita.

Persoalan hampir sama juga dialami, Meme, 44, ibu tiga putra. Dia menuturkan, saat David, putra bungsunya berusia empat tahun, nakalnya juga luar biasa. Kalau marah dirinya suka menjadi sasaran pukulan. Selain itu, hobinya juga membuat onar dan sulit dinasihati. “Kakeknya saja sampai ketakutan kalau didatangi cucunya itu. Saya sendiri pusing. Omongan keras sampai pukulan ke pantat sudah sering saya berikan, tapi tidak mempan,” cerita Meme.

Tapi untunglah kenakalan itu terus berkurang seiring dengan pertambahan usia. “Kini David sudah kelas enam SD, dan saya rasa kenakalannya tergolong lumrah. Kami memang tidak bosan memberi dia pengertian. Dan untunglah David agak takut dengan ayahnya. Mungkin itu juga yang meredam kenakalannya.

“Lain lagi pengalaman pasangan suami-istri Suharjo dan Tania. Belakangan ini mereka sering dibuat pusing oleh ulah anaknya, Cakita, 3 tahun. Bila menginginkan sesuatu dan tidak dipenuhi, Cakita bisa ngambek berjam-jam.

“Dia bisa berdiam diri menghadap tembok hingga lebih dari dua jam. Benar-benar diam tanpa melakukan gerakan. Meski kita panggil atau colek sekalipun dia tidak mau menengok. Saya kadang heran, anak sekecil itu kok bisa tahan ngambek sekian lama. Menghadap tembok lagi,” tutur Tania.

Melihat anaknya seperti itu, Suharjo ikut pusing. Terkadang dia tidak tahan karena merasa kasihan, sehingga akhirnya memenuhi keinginan Cakita. “Siapa orang tua yang tahan melihat anaknya berdiam diri hingga berjam-jam. Apalagi kalau sudah melewati waktu makan. Saya akhirnya luluh,” kata Suharjo.

Tania dan Suharjo menyadari, rasa belas kasihan mereka sering dimanfaatkan anak saat menginginkan sesuatu. “Tapi mungkin nanti saat usianya sudah lebih besar kami harus lebih tega,” ujar Tania.

Benarkah sikap Tania dan Suharjo? Lalu, bagaimana cara mengatasi anak yang kerasa kepala? Beberapa psikolog mencoba memberi solusi. (Lin/M-3)

Jangan Selalu Dituruti Permintaannya

SIFAT keras kepala pada anak sering kali menyusahkan orang tua. Banyak anak yang mengekspresikan keinginannya dengan menangis di depan orang banyak, menjerit, berguling, atau melemparkan mainannya. Para ibu jadi sangat emosi dan tak jarang yang langsung memarahi, bahkan sampai memukul.

Jika dibiarkan terus-menerus, sifat seperti itu memang bisa terbawa sampai dewasa. Meski demikian, bagi orang tua tidak ada kata terlambat untuk mendidik anak dan membentuk karakter yang baik. Caranya dengan melatih mereka membuang sifat buruk, sehingga diharapkan anak akan mampu mengendalikan emosinya jika ia punya keinginan.

Psikolog Tika Bisono menjelaskan, orang tua dapat mengambil langkah-langkah pembelajaran pada anak yang keras kepala. Pertama, orang tua harus tahu apa yang dimaui anak. Apakah yang mereka minta itu merupakan janji orang tua atau bukan. Biasanya, kalau sudah telanjur janji anak akan menagih dengan cara apa pun.

Kedua, harus dianalisis juga bentuk permintaannya, apakah sesuatu yang spektakuler atau tidak, bisa ditunda atau tidak, sesuatu yang benar-benar ia mau atau hanya ikut-ikutan orang lain.

Ketiga, perlu dilihat juga barang yang dia minta itu masih bisa dialihkan menjadi kegiatan yang lain atau tidak. Orang tua harus menimbang-nimbang apakah permintaan itu normal atau tidak, mahal atau tidak dan sesuai waktunya atau tidak. Misalnya, anak ingin membeli es krim, padahal si anak sedang flu. Jelas permintaan seperti itu tidak bisa dituruti karena tidak sesuai dengan waktu.

“Jangan hanya karena malu dilihat orang dengan tingkah laku anak yang meraung-raung memintanya, lantas dikasih. Tapi, ajaklah si kecil berdialog tentang apa yang sesungguhnya dia inginkan. kenapa mau itu? Kenapa harus sekarang? bisa menunggu atau tidak? Awalnya anak keras kepala, tapi lama-lama dia akan belajar untuk membuat atau menyusun sebuah rasionalisasi,” kata Tika.

Lebih lanjut Tika mengatakan, jika anak marah-marah di tempat umum, bawalah anak itu ke tempat lain. Jangan sekali-kali memukulnya, sebab itu akan lebih menarik perhatian banyak orang. Ajak saja ke tempat yang bisa menarik hatinya, seperti ke toko buku atau ke tempat es krim. Kalau sudah tenang, baru dinasihati.

Anak yang keras kepala tidak boleh didiamkan saja, tapi tetap harus direspons. Jika tidak, akan ada dampak-dampak emosional lainnya. Apalagi kemarahan anak itu juga merupakan salah satu bentuk komunikasi yang bisa ia ekspresikan.

Perlakuan orang tua disesuaikan dengan usia dan kapasitas anaknya. Selagi 2-3 tahun, kemauan anak masih lebih mudah dideteksi. Kemarahannya pun masih bisa ditoleransi sebatas dia mengemukakan keinginannya. Saat itulah orang tua bisa negosiasi dengan apa yang anak mau. Dengan begitu anak akan banyak belajar.

“Jangan sampai saat besar anak jadi tidak cermat memenuhi kebutuhan hidupnya, mengendalikan diri, keinginan, dan harapannya. Sekarang ini kan banyak orang dewasa yang jika ingin sesuatu harus saat itu juga dipenuhi, tanpa berpikir panjang dan tidak peduli dengan hidupnya esok hari,” ujarnya.

Harus satu kesepakatan

Sementara itu, psikolog anak Shinto Adelar mengatakan, ibu dan ayah harus sepakat dan konsisten dalam memberi perlakuan pada anak. Jangan sampai anak merengek pada ayahnya ketika ia tidak dituruti ganti merengek pada ibunya dan kemudian dituruti.

Shinto mengakui, memang banyak orang tua yang menganggap sikap keras kepala anak seperti itu tidak masalah dan akan hilang sendiri kalau anak sudah besar. Tapi bagi Shinto tidak begitu, karena karakter yang tertanam sejak kecil seperti meminta sesuatu sambil marah atau menangis keras-keras akan terbawa hingga dewasa dalam bentuk yang berbeda.

“Sampai dengan umur berapa pun, kalau ia ingin sesuatu ia akan ngambek, misalnya dengan mengunci diri dalam kamar. Pokoknya dengan cara lain yang sifatnya memaksa sehingga ia akan memperoleh apa yang ia inginkan. Karena itu, harus diarahkan dari awal, karena kalau didiamkan akan sulit mendidiknya ketika ia besar,” tuturnya.

Anak keras kepala memang terkadang membuat orang tua merasa malu. Itulah yang biasanya memicu kemarahan, karena orang tua frustrasi melihat sikap anaknya. Sudah diperlakukan macam-macam tapi anak tetap marah-marah, berguling-guling dsb. Padahal sebetulnya, amarah itu tidak akan menyelesaikan masalah.

“Ibu bisa bilang, ‘Buat apa jerit-jerit, diam! Kalau enggak diam ibu enggak mau denger apa pun yang kamu bilang’. Lalu, jauhi dia tapi sambil terus dipantau. Kalau sudah agak tenang, ajari dia cara meminta sesuatu itu harus dengan cara yang baik, bukan dengan marah-marah dan melakukan hal yang buruk apalagi di depan umum. Karena cara itu sama sekali tidak akan berhasil,” kata Shinto memberi salah satu contoh menangani anak keras kepala.

Menurutnya, konsistensi dan ketegasan orang tua akan membuat anak mengerti bahwa dengan bertingkah macam-macam tidak mungkin keinginannya dipenuhi dengan mudah. Kalaupun orang tua memenuhi keinginannya, itu karena terpaksa, sebab merasa malu anaknya menjerit-jerit atau marah di depan orang lain.

Cara lainnya, tutur Shinto, sebelum pergi jalan-jalan ke supermarket, misalnya, perlu dilakukan langkah pencegahan. Misalnya, anak diberi tahu kalau ia hanya boleh membeli barang A atau B, selain itu tidak boleh. Atau bisa juga dibuat perjanjian, boleh membeli mainan tapi sebulan sekali.

Perilaku anak yang marah sambil mengamuk-ngamuk jika dilakukan oleh anak berusia lebih dari empat tahun itu berarti di luar kewajaran. Kalau di bawah empat tahun masih bisa diterima, tapi itu pun harus diatasi dengan cara mendidik anak di rumah. Untuk anak yang lebih dari empat tahun, Shinto menyarankan agar orang tua tidak memenuhi keinginannya alias tetap menunjukkan sikap. Dengan demikian lama-kelamaan anak akan mengerti bahwa cara yang dia lakukan tidak benar. Selain itu, caranya ternyata juga tidak ampuh untuk merayu orang tua agar mengabulkan keinginannya. (VN/M-3)

Copyright © 2003 Media Indonesia

Hangtuah Digital Library: Minggu, 28 September 2003

About these ads

7 thoughts on “Pusingnya jika Anak Keras Kepala

  1. Mba… Anakku abey Desember 2011 nanti berumur 3 tahun. Akhir-akhir ini sy sering pusing dengan ulahnya yang seolah-olah acuh…
    Anaknya sy sehari2nya manis banget, bahkan dia pandai menunjukkan kasih sayangnya sama kami orang tua.
    Tapi akhir-akhir ini sy merasa anak sy itu beda, klo diberitahu, atau ditegur dia gak mw dengar or pura2 gak dengar. Misalnya klo diminta buang sampah atau di beritahu jgn manjat, dia sep g peduli, sy sampe berulang2 meminta dia dengan cara lembut tp dia seperti gak peduli klo diajak bicara baik2 dia gak mw melihat kami,,, pokoknya klo dia da bilang nggak, maka dimarahi pun dia gak akan buat…

  2. oh iya…… kakak skalian yg cakep ” kalo keras kepala di lawan keras kepala hasilnya gman ? ad perubahan gak…… ^ ^

    Gue punya pacar susah banget……………………………………………….

  3. hmmm…… boleh nanya kalo keras kepala ma pacar bisa di ilangkan ngak,,,,,
    kalo ada cara tolong di beritahu yg kakak yg dagh berpengalaman……. trims…. wslm

  4. aq punx anak 3, anak pertama dan kedua ku slalu bertngkar layakx kucing dan anjing, anakku yangke dua itu sifatx egois dan keras watakx. sedang kan anak pertama ku dia bs mengalah apabila adik bs oa atur dan mau mendengar apa kt sang ka2k. tp klo tidak yah dipukuli deh!!
    gmn ya solusix agar anak2 saya bisa saling sayang 1 sama lain??

  5. anakxu juga kalo ad maunya harus, harus, dah harus ng boleh tidak.kalo ak tdk turuti dia akan nangis sekencang kencangnya ato akan berguling dimanapun tempatnya. ak sampai kewalahan dgn sikapny saat marah. padahal anakxu baru 2th.

  6. Memang benar teori seperti itu, saya juga punya anak yang kalo punya keinginan selalu memaksakan dan kadang sambil nangis dan jerit2. Walaupun kita ortunya tegas tapi tidak demikian dengan neneknya, mereka selalu menuruti keinginan cucunya akibatnya sifat itu tetep saja ada apalagi klo neneknya sedang berkunjung atau kita mengunjungi, ini terlihat kalo dirumah cuma bertiga (saya, suami, dan anak) sifatnya manis klo ada keinginan ga memaksa, bisa dinasehati.Karena neneknya selalu menuruti keinginannya akibatnya klo ada neneknya rewelnya minta ampun dan jadi ga mau sama saya maunya sama neneknya terus, jadi sedih juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s